Suara.com - Libur Lebaran telah usai, dan pesawat masih menjadi pilihan transportasi karena kecepatan dan efisiensinya. Namun, di balik itu, ada risiko yang perlu diwaspadai, salah satunya turbulensi.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), turbulensi merupakan gerakan memusar pada massa udara yang bergerak secara tidak beraturan ke berbagai arah dan sering mengakibatkan guncangan selama penerbangan. Turbulensi kerap tidak terlihat dan sulit diprediksi.
Fenomena ini juga sering dianggap sebagai hal normal dari perjalanan udara, tetapi dalam kondisi tertentu dapat berubah menjadi risiko yang cukup fatal dan serius. Dilansir dari International Civil Aviation Organization (ICAO) (30/3/2026), pada tahun 2023, penyebab kecelakaan pesawat terbanyak adalah turbulensi,dengan jumlah 23 kecelakaan.
Menurut catatan dari salah satu dosen penerbangan di Indonesia, Aminarno Budi Pradana , turbulensi merupakan kejadian yang sering dialami oleh para penerbang. Seiring waktu, turbilensi semakin sering terjadi dan kian memburuk. Hal ini juga diperngaruhi oleh perubahan iklim yang terjadi.
Kaitan Antara Turbulensi dan Perubahan Iklim
Salah satu dari jenis turbulensi adalah turbulensi udara jernih. Jenis turbulensi ini diakibatkan oleh perubahan struktural dalam pola udara dan perubahan aliran jet (jet stream) di bagian atas atmosfer yang dipicu oleh pemanasan global. Menurut studi dari University of Reading, selama empat dekade terakhir turbulensi parah meningkat di banyak rute penerbangan yang sibuk di seluruh dunia.
Di Indonesia sendiri, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terus mengingatkan bahwa potensi turbulensi hebat termasuk turbulensi udara jernih, dapat terjadi di wilayah timur Indonesia.
Dampak dari Turbulensi Udara Jernih
Singapore Airlines dengan nomor penerbangan SQ-321 dari London ke Singapura pada Selasa (21/5/2024) menjadi salah satu contoh penerbangan yang mengalami turbulensi udara jernih. Akibat dari kejadian ini, terdapat 31 orang terluka dan satu orang meninggal dunia. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa turbulensi udara jernih dapat sangat berbahaya dan terjadi tanpa peringatan.
Baca Juga: Burung yang Ikut Berpuasa
Solusi Untuk Mengatasi Fenomena Turbulensi Udara Jernih
Fenomena turbulensi yang semakin sering dan intens akibat perubahan iklim memang menjadi tantangan baru bagi dunia penerbangan. salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah peningkatan terhadap sistem yang dapat memprediksi turbulensi. Selain itu, terdapat salah satu hewan yang dapat menjadi contoh untuk menangani masalah turbulensi ini, yaitu burung.
Burung dinilai memiliki kemampuan untuk mendeteksi perubahan kecil pada tekanan dan aliran udara yang dapat membantu dalam menangani masalah turbulensi. Peneliti dari Universitas Swansea, Emily Sheppard, mengatakan, dengan mempelajari bagaimana burung-burung merespons turbulensi dapat membantu memvisualisasikan bagaimana para burung melawan turbulensi yang ada dan mengurangi risiko kecelakaan akibat turbulensi.
Pihak maskapai juga perlu memberikan pelatihan khusus terkait dengan masalah turbulensi ini. Selain itu, sebagai masyarakat umum, kita juga bisa membantu meminimalisir dampak dari kecelakaan akibat turbulensi dengan tetap mengenakan sabuk pengaman di dalam pesawat, mematuhi instruksi awak kabin, dan mengurangi tindakan-tindakan yang dapat memperparah pemanasan global. Solusi ini diharapkan dapat mengurangi risiko kecelakaan akibat turbulensi di masa yang akan datang.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
4 Shio Paling Beruntung pada 14 Agustus 2026, Akhirnya Gak Kesepian Lagi
-
Paradoks AI, Ciptakan Pengangguran Massal Hingga Krisis Air di India
-
Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot
-
Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral
-
Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan
-
Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan
-
Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan
-
BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan
-
Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel
-
Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak