- Perubahan iklim serius menekan pertanian dengan penurunan hasil dan kualitas pangan, berpotensi memperparah krisis pangan global.
- Stres panas akibat kenaikan suhu mengganggu fotosintesis tanaman, yang dijelaskan oleh Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN.
- Inovasi pertanian melalui adaptasi ketahanan iklim dan mitigasi emisi gas rumah kaca menjadi solusi utama yang didorong.
Suara.com - Perubahan iklim mulai memberi tekanan serius pada sektor pertanian. Kenaikan suhu tidak hanya menurunkan hasil panen, tetapi juga berdampak pada kualitas produksi pangan. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini berpotensi memperparah krisis pangan.
Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yudhistira Nugraha, menjelaskan bahwa stres panas (heat stress) menjadi salah satu dampak langsung yang dirasakan tanaman akibat perubahan iklim. Kondisi ini mengganggu proses fotosintesis sehingga produksi biji dan buah menurun.
“Dampak perubahan iklim terkait dengan produksi tanaman itu bisa secara langsung kepada tanamannya, artinya tanaman akan merasakan panas, sehingga akan ada heat stress untuk tanaman,” ujar Yudhistira dalam kegiatan Diseminasi Inovasi Pangan Tahan Iklim Ekstrem, Senin, seperti dikutip dari ANTARA.
Menghadapi ancaman tersebut, Yudhistira menekankan pentingnya inovasi pertanian melalui dua pendekatan utama, yakni adaptasi dan mitigasi. Adaptasi difokuskan pada peningkatan produktivitas, ketahanan terhadap cekaman iklim, serta pengelolaan ketersediaan air dan stok pangan.
Sementara itu, mitigasi dilakukan untuk menekan emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian. Salah satu langkah yang disoroti adalah pengelolaan lahan gambut serta penerapan teknologi budidaya yang lebih ramah lingkungan.
“Untuk intervensi yang bisa dilakukan, misalkan bagaimana juga mengurangi atau mengelola lahan gambut kita, karena lahan gambut kita juga merupakan bagian dari kontribusi terhadap gas rumah kaca,” katanya.
Selain itu, ia juga mendorong penerapan sistem wanatani (agroforestry) di lahan kering sebagai upaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim.
Dalam hal ini, BRIN disebut berperan sebagai fasilitator yang menyediakan inovasi berbasis sains untuk mendukung kebijakan dan praktik pertanian berkelanjutan. “BRIN bisa sebagai fasilitator, menyediakan science-based proven terkait dengan validasi klaim dampak gas rumah kaca,” ujarnya.
Baca Juga: Mentan Optimistis Stok Pangan Aman Hadapi Fenomena El Nino Godzilla
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
Terkini
-
Mukjizat! 30 Jam di Bawah Reruntuhan: Bayi 18 Hari Selamat dari Gempa Venezuela
-
Tragedi Berdarah di Jerman: 6 Tewas dalam Penembakan, Polisi Ungkap Motif Dendam
-
China Wajibkan AI di Sekolah: Semua Siswa Wajib Kuasai Kecerdasan Buatan dalam 5 Tahun
-
Misteri Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi Beijing, Pemerintah Bungkam Sensor Ketat
-
Taruna Akmil akan Dampingi Siswa Sekolah Rakyat Belajar Mandiri di Asrama Selama 5 Hari
-
Tak Lagi 'Macan Ompong', RUU HAM Beri Komnas HAM Kewenangan Penyidikan
-
Menuju Kota Global, Jakarta Kejar Target Bebas Buang Air Sembarangan
-
Jangan Terkecoh! Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, Abaikan Ajakan di Medsos
-
Jadi Otak Penyekapan, Bos Percetakan di Senen Perintahkan Anak Buah Pasung Kaki Korban
-
Bertemu Dony Oskaria, KPK Minta Pejabat BUMN Bandel Tak Lapor LHKPN Disanksi