- Laporan Toxic Accounts menganalisis kampanye Shell, ExxonMobil, BP, dan Chevron dari 2020 hingga 2024.
- Perusahaan energi kini menekankan peran penting bahan bakar fosil setelah keuntungan tinggi pada 2022.
- Strategi komunikasi berbeda di Asia fokus pada keluarga dan harga, bukan isu transisi energi bersih.
Suara.com - Perusahaan minyak dan gas global kini mulai mengubah cara mereka berbicara soal krisis iklim. Jika dulu mereka gencar memposisikan diri sebagai pemimpin transisi energi bersih, kini narasi itu perlahan bergeser, menjadi pembelaan bahwa bahan bakar fosil masih tak tergantikan.
Temuan ini muncul dalam laporan terbaru berjudul Toxic Accounts: From Greenwashing to Gaslighting yang dirilis oleh kelompok kampanye iklim Clean Creatives.
Seperti dikutip dari Eco-Bussiness, laporan tersebut menganalisis 1.859 kampanye iklan dan komunikasi publik dari empat raksasa energi dunia, Shell, ExxonMobil, BP, dan Chevron, dalam periode 2020 hingga 2024.
Hasilnya menunjukkan perubahan strategi komunikasi yang cukup tajam. Pada awalnya, terutama setelah Perjanjian Paris, perusahaan-perusahaan ini banyak menjanjikan komitmen menuju nol emisi dan investasi energi terbarukan.
Namun, narasi itu mulai berubah setelah lonjakan harga minyak dan gas pada 2022 yang mendorong keuntungan industri ke level tertinggi.
Sejak saat itu, pesan yang disampaikan semakin menekankan pentingnya bahan bakar fosil untuk menjaga stabilitas ekonomi, keamanan energi, hingga menopang gaya hidup modern. Dalam banyak kampanye, minyak dan gas digambarkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sistem energi global.
Di saat yang sama, perusahaan juga aktif mempromosikan teknologi seperti penangkapan karbon (carbon capture), hidrogen, biofuel, dan gas alam sebagai solusi iklim. Namun, sejumlah pihak menilai pendekatan ini justru berisiko memperpanjang ketergantungan pada energi fosil, alih-alih mempercepat transisi ke energi bersih.
Gas alam, misalnya, sering diposisikan sebagai “jembatan” menuju energi terbarukan.
Padahal, komponen utamanya, metana, merupakan gas rumah kaca yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global.
Baca Juga: Bisakah Ekonomi Tumbuh Memperparah Krisis Iklim? Studi Terbaru Ungkap Jawabannya
Laporan tersebut juga menemukan bahwa meski masing-masing perusahaan memiliki gaya komunikasi berbeda, strategi yang digunakan cenderung serupa. BP, misalnya, mulai mengurangi ambisi target transisi energinya dan lebih menekankan produksi energi domestik.
Chevron mengangkat cerita manusia dan inovasi teknologi untuk membingkai peran industri dalam pembangunan ekonomi. Sementara ExxonMobil fokus pada solusi teknologi, dan Shell semakin mendorong gas alam cair sebagai bagian dari masa depan energi.
Menariknya, pendekatan di Asia memiliki pola berbeda. Kampanye di kawasan ini lebih banyak mengangkat nilai keluarga, kebanggaan nasional, dan keterjangkauan harga dibandingkan isu perubahan iklim. Strategi ini juga sering dikaitkan dengan program tanggung jawab sosial perusahaan untuk membangun citra positif.
Menurut Kepala Riset Clean Creatives, Nayantara Dutta, pergeseran narasi global juga mulai terlihat di Asia, meski lebih lambat. Ia menilai faktor budaya dan tingkat pemahaman masyarakat terhadap isu iklim turut memengaruhi cara perusahaan menyusun pesan mereka.
“Di AS dan Inggris, tekanan terhadap aksi iklim sangat kuat sehingga perusahaan energi harus mengubah narasi mereka. Di Asia, tema keamanan energi mulai muncul, tetapi kampanye masih banyak berfokus pada loyalitas merek serta nilai keluarga dan komunitas,” ujarnya.
Secara keseluruhan, laporan ini menunjukkan bahwa di tengah meningkatnya kesadaran publik terhadap krisis iklim, industri minyak dan gas tidak hanya beradaptasi secara bisnis, tetapi juga secara komunikasi, dengan cara yang semakin menegaskan peran mereka dalam sistem energi global saat ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
Pilihan
-
Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
Terkini
-
Dokter Rumah Horor yang Pernah Gegerkan AS Tewas Misterius saat Jalani Hukuman Seumur Hidup
-
Kondisi Terkini Wanita yang Coba Akhiri Hidup di Dekat Istana, Masih Dirawat Intensif di RSCM
-
Arus Balik Padat, Korlantas Polri Berpeluang Perpanjang One Way Nasional Trans Jawa
-
Respons KPK Usai Dapat Sindiran Satire Soal Status Tahanan Rumah Yaqut
-
Urai Kepadatan di Jalur Arteri, Jam Operasional Tol Fungsional Purwomartani Diperpanjang
-
Waka MPR Ingatkan Opsi Sekolah Daring untuk Hemat BBM: Jangan Ulangi Kesalahan Saat Covid-19
-
Cegah Pemudik Nyasar ke Sawah, Jasamarga Hapus Rute Google Maps
-
Kenapa Krisis Minyak Global 2026 Lebih Parah dari 1973? Begini Penjelasannya dari Ahli
-
Terminal Kampung Rambutan Bakal Dirombak Total Usai Terendam Banjir
-
Siapa Mohammad Bagher Zolghadr? Pengganti Ali Larijani sebagai Pimpinan Keamanan Tertinggi Iran