Lifestyle / Komunitas
Selasa, 31 Maret 2026 | 19:10 WIB
Petani mengalami kekeringan di Kampung Cijulang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (11/9). [Antara/Adeng Bustomi]

Suara.com - Indonesia akan menghadapi babak baru kondisi iklim setelah beberapa bulan dilanda hujan deras di berbagai daerah.

Adapun sepanjang akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026, Indonesia berkali-kali disapu oleh curah hujan tinggi.

Namun per April 2026, kondisi cuaca akan berubah 180 derajat dengan datangnya fenomena El Nino.

El Nino kali ini diproyeksikan tak seperti biasanya. Bahkan ada nama khusus bagi fenomena yang akan terjadi yakni Godzilla El Nino.

Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) di berbagai daerah dalam keterangan yang dihimpun pada Selasa (31/3/2026) menilai potensi puluhan bahkan ratusan titik di Tanah Air akan dilanda El Nino super.

Godzilla El Nino ini juga dinilai akan membawa kekeringan dengan skala yang lebih besar.

Lantas, apa yang dimaksud dengan 'Godzilla' El Nino? Apa dampaknya bagi Indonesia?

El Nino Versi Ekstrem

Ilustrasi EL Nino (freepik)

Godzilla El Nino bukanlah istilah ilmiah resmi, melainkan julukan populer untuk menggambarkan fenomena El Nino dengan intensitas ekstrem atau luar biasa kuat. 

Istilah ini dipopulerkan oleh beberapa ilmuwan di NASA untuk menjelaskan bahwa dampak yang ditimbulkan lebih besar dari El Nino biasa.

Baca Juga: Perubahan Iklim Tekan Produksi Pangan, BRIN Dorong Adaptasi dan Mitigasi

Secara umum, El Nino adalah anomali kala suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah dan timur yang melonjak jauh di atas normal di atas 2-3 derajat Celcius.

Skala kekuatannya yang masif mampu mengganggu sirkulasi atmosfer global secara drastis, menjadikannya "monster" di antara siklus iklim rutin karena durasi dan dampaknya yang jauh lebih merusak dibandingkan El Nino biasa.

Terbentuknya 'Godzilla' El Nino 

Fenomena ini bermula ketika angin pasat yang biasanya bertiup kencang dari timur ke barat melemah atau bahkan berbalik arah.

Akibatnya, tumpukan air laut hangat yang seharusnya berada di dekat Indonesia justru "tumpah" kembali ke arah Amerika Selatan.

Adapun pada Godzilla El Nino, volume air hangat ini sangat besar dan pergeserannya sangat masif.

Karena air hangat berkumpul di Pasifik timur, pusat pembentukan awan hujan pun ikut berpindah menjauhi Asia Tenggara.

Load More