Akuakultur saat ini telah berkembang pesat dalam memenuhi permintaan makanan laut global. Meskipun begitu, industri ini justru bergantung pada spesies yang kurang bermanfaat bagi ketahanan pangan, mitigasi iklim, dan keanekaragaman hayati.
Sebuah penelitian terbaru dari para peneliti di Universitas British Columbia mengungkapkan bahwa perkembangan industri akuakultur global saat ini cenderung mengarah pada budidaya spesies yang kurang berkelanjutan.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Fish and Fisheries ini menganalisis produksi akuakultur global dalam rentang waktu yang cukup panjang, yakni dari tahun 1950 hingga 2023. Para peneliti menemukan bahwa sejak tahun 1980-an, industri ini telah mengalami pergeseran fokus ke sejumlah kecil spesies yang dibudidayakan secara intensif, terutama kelompok ikan bersirip. Secara keseluruhan, potensi keberlanjutan dari budidaya ini lebih rendah.
Produksi dan Target Keberlanjutan Tidak Sejalan
Profesor dan Direktur di Institute for the Oceans and Fisheries (IOF) sekaligus penulis senior dalam studi ini, Dr. William Cheung, mengungkapkan bahwa terdapat ketidaksesuaian yang semakin lebar antara jenis spesies yang diproduksi saat ini dengan spesies yang sebenarnya mampu mendukung tujuan lingkungan global. Menggunakan pendekatan berbasis sifat, tim peneliti mengevaluasi kontribusi spesies terhadap tiga pilar utama, yakni penyediaan pangan, dampak iklim, dan keanekaragaman hayati.
Berdasarkan data historis, sistem akuakultur pada periode awal yang didominasi oleh rumput laut dan kerang dinilai memiliki potensi keberlanjutan yang lebih tinggi. Sebaliknya, sistem modern yang berfokus pada spesies yang memerlukan pakan tambahan, seperti salmon dan udang, menunjukkan potensi keberlanjutan yang lebih rendah.
Penurunan Indeks Keberlanjutan di Berbagai Wilayah
Studi ini mengembangkan indeks khusus untuk mengukur kontribusi produksi akuakultur terhadap agenda UN Sustainable Goals. Data menunjukkan tren penurunan yang signifikan di beberapa wilayah produsen utama.
Tiongkok sebagai negara yang menyumbang 56% produksi global pada 2022, komposisi produksinya menurun di ketiga indeks antara periode 1976–1980 dan 2019–2023. Tercatat penurunan sebesar 14,1% untuk indeks pangan, 21,6% untuk iklim, dan 12,9% untuk keanekaragaman hayati.
Baca Juga: Perubahan Iklim Tekan Produksi Pangan, BRIN Dorong Adaptasi dan Mitigasi
Di Amerika, wilayah ini mencatat kenaikan tipis sebesar 0,8% pada indeks pangan. Namun, indeks iklim dan keanekaragaman hayati mengalami penurunan masing-masing sebesar 11,4% dan 9,1%.
Penulis utama studi sekaligus kandidat PhD di IOF, Aleah Wong, mengatakan bahwa budidaya salmon kini menjadi sektor pangan dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Namun, spesies ini sangat rentan terhadap fenomena deoksigenasi dan pemanasan air, serta memiliki potensi manfaat Food, Climate, and Biodiversity (FCB) yang rendah.
Tantangan Transisi ke Spesies Berdampak Rendah
Para peneliti menekankan bahwa ketahanan pangan tidak hanya dipengaruhi oleh efisiensi produksi dan kepadatan nutrisi, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika yang kompleks antara produsen, konsumen, pasar, dan badan pengatur. Dr. Cheung menyatakan bahwa banyak wilayah sebenarnya sudah memiliki potensi untuk membudidayakan spesies berkelanjutan, tapi tantangannya terletak pada peningkatan skala dan diversifikasi produksi.
"Banyak wilayah sudah membudidayakan spesies dengan potensi keberlanjutan yang tinggi. Dengan meningkatkan skala spesies dan mendiversifikasi produksi, akuakultur dapat memberikan kontribusi yang lebih baik terhadap target keberlanjutan global," kata Dr. Cheung.
Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa perluasan produksi spesies yang memiliki dampak rendah seperti rumput laut dan kerang adalah jalur utama untuk memperbaiki sistem akuakultur. Namun, transisi ini memerlukan tindakan internasional yang terkoordinasi, investasi dalam inovasi, serta perubahan kebijakan yang mampu memengaruhi preferensi konsumsi masyarakat global di masa depan.
Yang paling penting di sini adalah masa depan akuakultur tidak hanya berganutng pada seberapa banyak sesuatu diproduksi, melainkan juga pada apa yang diproduksi dan bagaimana pilihan-pilihan tersebut dapat selaras dengan tujuan lingkungan serta sistem pangan global.
Berita Terkait
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Rumah Subsidi Danantara Tersebar di Jawa hingga Luar Jawa, Ada di Bekasi dan Sumbawa
-
Hery Gunardi Dinobatkan Best CEO, BRI Group Raih Enam Penghargaan Global
-
Rekor MURI Esther Irawati: Profesor AI Perempuan Termuda RI yang Perangi Hoaks Lewat Mata Digital
-
Karhutla Kalimantan Kian Parah, DPR Desak Pemerintah Tetapkan Status Bencana Nasional
-
Saat KPK Usut Audit BPK Sumsel, Begini Rapor WTP Muara Enim, PALI dan Empat Lawang
-
BRI Group Perkuat Reputasi Global Lewat Enam Penghargaan Bergengsi
-
Hery Gunardi Raih Best CEO, BRI Group Bawa Pulang Enam Penghargaan Internasional
-
Review Toko Buku Abadi: Novel Unik dengan Alur Cerdas dan Banyak Perspektif
-
Mengapa Daun Berwarna Hijau? Ini Alasan Ilmiahnya
-
Belajar dari Kasus Hyundai Ioniq 5 Aa Juju, Parkir Paralel Bisa Bikin Aki Mobil Listrik Soak?