Lifestyle / Food & Travel
Kamis, 02 April 2026 | 15:15 WIB
Petani rumput laut (Pinterest/Paul - Antti Leino Photography)

Akuakultur saat ini telah berkembang pesat dalam memenuhi permintaan makanan laut global. Meskipun begitu, industri ini justru bergantung pada spesies yang kurang bermanfaat bagi ketahanan pangan, mitigasi iklim, dan keanekaragaman hayati.

Sebuah penelitian terbaru dari para peneliti di Universitas British Columbia mengungkapkan bahwa perkembangan industri akuakultur global saat ini cenderung mengarah pada budidaya spesies yang kurang berkelanjutan.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Fish and Fisheries ini menganalisis produksi akuakultur global dalam rentang waktu yang cukup panjang, yakni dari tahun 1950 hingga 2023. Para peneliti menemukan bahwa sejak tahun 1980-an, industri ini telah mengalami pergeseran fokus ke sejumlah kecil spesies yang dibudidayakan secara intensif, terutama kelompok ikan bersirip. Secara keseluruhan, potensi keberlanjutan dari budidaya ini lebih rendah.

Produksi dan Target Keberlanjutan Tidak Sejalan

Profesor dan Direktur di Institute for the Oceans and Fisheries (IOF) sekaligus penulis senior dalam studi ini, Dr. William Cheung, mengungkapkan bahwa terdapat ketidaksesuaian yang semakin lebar antara jenis spesies yang diproduksi saat ini dengan spesies yang sebenarnya mampu mendukung tujuan lingkungan global. Menggunakan pendekatan berbasis sifat, tim peneliti mengevaluasi kontribusi spesies terhadap tiga pilar utama, yakni penyediaan pangan, dampak iklim, dan keanekaragaman hayati.

Berdasarkan data historis, sistem akuakultur pada periode awal yang didominasi oleh rumput laut dan kerang dinilai memiliki potensi keberlanjutan yang lebih tinggi. Sebaliknya, sistem modern yang berfokus pada spesies yang memerlukan pakan tambahan, seperti salmon dan udang, menunjukkan potensi keberlanjutan yang lebih rendah.

Penurunan Indeks Keberlanjutan di Berbagai Wilayah

Studi ini mengembangkan indeks khusus untuk mengukur kontribusi produksi akuakultur terhadap agenda UN Sustainable Goals. Data menunjukkan tren penurunan yang signifikan di beberapa wilayah produsen utama.

Tiongkok sebagai negara yang menyumbang 56% produksi global pada 2022, komposisi produksinya menurun di ketiga indeks antara periode 1976–1980 dan 2019–2023. Tercatat penurunan sebesar 14,1% untuk indeks pangan, 21,6% untuk iklim, dan 12,9% untuk keanekaragaman hayati.

Baca Juga: Perubahan Iklim Tekan Produksi Pangan, BRIN Dorong Adaptasi dan Mitigasi

Di Amerika, wilayah ini mencatat kenaikan tipis sebesar 0,8% pada indeks pangan. Namun, indeks iklim dan keanekaragaman hayati mengalami penurunan masing-masing sebesar 11,4% dan 9,1%.

Penulis utama studi sekaligus kandidat PhD di IOF, Aleah Wong, mengatakan bahwa budidaya salmon kini menjadi sektor pangan dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Namun, spesies ini sangat rentan terhadap fenomena deoksigenasi dan pemanasan air, serta memiliki potensi manfaat Food, Climate, and Biodiversity (FCB) yang rendah.

Tantangan Transisi ke Spesies Berdampak Rendah

Para peneliti menekankan bahwa ketahanan pangan tidak hanya dipengaruhi oleh efisiensi produksi dan kepadatan nutrisi, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika yang kompleks antara produsen, konsumen, pasar, dan badan pengatur. Dr. Cheung menyatakan bahwa banyak wilayah sebenarnya sudah memiliki potensi untuk membudidayakan spesies berkelanjutan, tapi tantangannya terletak pada peningkatan skala dan diversifikasi produksi.

"Banyak wilayah sudah membudidayakan spesies dengan potensi keberlanjutan yang tinggi. Dengan meningkatkan skala spesies dan mendiversifikasi produksi, akuakultur dapat memberikan kontribusi yang lebih baik terhadap target keberlanjutan global," kata Dr. Cheung.

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa perluasan produksi spesies yang memiliki dampak rendah seperti rumput laut dan kerang adalah jalur utama untuk memperbaiki sistem akuakultur. Namun, transisi ini memerlukan tindakan internasional yang terkoordinasi, investasi dalam inovasi, serta perubahan kebijakan yang mampu memengaruhi preferensi konsumsi masyarakat global di masa depan.

Load More