Lifestyle / Komunitas
Senin, 06 April 2026 | 12:30 WIB
Bumi adalah ibu (Screenshot YouTube/GKJ Baturetno)

Suara.com - Bagi banyak orang, kenyamanan menjadi salah satu syarat khusus ketika beribadah. Duduk di tempat ibadah dengan kursi kayu atau kursi yang empuk, ruangan bersih, dingin, dan wangi menjadi suatu nilai tambah dalam kenyamanan untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Namun, ada sedikit perbedaan yang diimplementasikan pada peribadatan di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Baturetno, selama 7 tahun terakhir. Pendeta Dyan Sunu Prakosa sengaja mengajak jemaatnya keluar sejenak dari gedung gereja untuk menikmati dan menghayati alam ciptaan-Nya.

Saat Ketidaknyamanan Menjadi Jembatan Iman

Sejak tahun 2018, Ibadah Alam yang diinisiasi Pendeta Dyan Sunu telah membawa jemaat ke lokasi-lokasi yang menantang fisik. Pilihan tempatnya pun tidak sembarangan karena setiap lokasi dipilih secara khusus untuk mendukung tema teologis yang sedang diangkat.

Mulai dari pinggiran waduk yang panas hingga area Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) yang berbau kurang sedap demi menemukan sebuah "sensasi inderawi" yang jujur tentang kondisi bumi saat ini.

“Pilihan alam yang dipakai sebagai tempat ibadah itu bukan hanya sekadar wisata, refresh atau piknik, tetapi memang disesuaikan dengan tema ibadah yang akan dikelola.

Lalu alasan-alasan kenapa harus memilih tempat itu adalah supaya alam yang kita pilih juga ikut berbicara, ikut mengajar, memberikan pemahaman-pemahaman visual inderawi secara lengkap kepada jemaat,” jelas Pendeta Dyan Sunu.

Meskipun terlihat berat, Pendeta Dyan Sunu melihat bahwa pengalaman fisik itulah yang justru membuat pesan teologisnya menancap lebih dalam ke hati jemaat.

“Waktu-waktu khusus ini akan memberi pengalaman yang baru, pengalaman yang unik, dan khas,” tambahnya.

Baca Juga: Tarian Bumi: Kisah Pedih Perempuan Bali di Tengah Belenggu Tradisi

Biarkan Alam Berbicara

Ibadah alam di tepi Waduk Gajah Mungkur 2025 (Dokumentasi Pribadi/Vicka Rumanti)

Ibadah alam sengaja dirancang agar jemaat tidak sekadar pindah tempat duduk dari gedung ke alam, melainkan benar-benar merasakan pesan teologisnya melalui raga mereka sendiri. Sensasi inderawi ini menjadi kunci. Tahun 2025 lalu, ibadah alam mengangkat kisah dari Keluaran 17:1-7. Jemaat diajak untuk tidak takut karena Tuhan sendirilah yang akan merawat.

Ini tentang perjalanan bangsa Israel di padang gurun dengan suasana kehausan. Lokasi peribadatan berada di pinggiran Waduk Gajah Mungkur, tepatnya di Dusun Wotan, Boto, Baturetno. Di sini, alam berperan penting dalam menghantarkan para jemaat untuk merenungkan dan menghayati karya ciptaan Tuhan melalui unsur air yang esensial bagi kehidupan. Rasa panas terik dan haus yang nyata menjadi bagian dari liturgi yang tidak bisa didapatkan di dalam gedung gereja.

Pengalaman serupa terjadi pada tahun 2019 di Kahyangan, Tirtomoyo. Di tengah ibadah bertema air, sebuah peristiwa tak terduga terjadi. Kawanan kera hutan turun mendekati jemaat. Momen ini secara tidak langsung menjadi tamparan ekologis yang keras. Jemaat sadar bahwa kera-kera itu turun karena hutan sudah kehabisan makanan. Akhirnya, beberapa bulan kemudian, Gereja melakukan pergerakan untuk bersama-sama menanam pohon buah-buahan di area tersebut.

Tamparan Ekologis dari Bau dan Lalat

Screenshot siaran langsung PANGIBADAH ALAM "IBU BUMI GUWA-GARBANING URIP" 6 OKTOBER 2024 (YouTube/GKJ Baturetno)

Pada tahun 2024, ibadah dilaksanakan di TPA sampah dengan tema "Ibu Bumi Rahim Kehidupan". Jemaat merasakan beribadah di tengah lalat dan bau sampah yang menusuk. Tanpa perlu banyak ceramah, alam di TPA tersebut berhasil memaksa jemaat untuk melakukan pertobatan ekologis mengenai masalah sampah yang sering kali mengganggu karena terlalu banyak dan menumpuk tanpa diolah dengan benar.

“Tanpa itu dijelaskan ketika mereka hadir, mereka melihat sendiri bahwa ketika sampah itu tidak diolah dengan baik, hidup kita jadi nggak nyaman. Setelah dari sana orang lalu mulai berhitung soal pemilahan sampah organik dan non organik, bagaimana cara mengelola sampah dengan baik hingga treatment apa yang diperlukan,” ungkap Pendeta Dyan Sunu.

Menanam Harapan Bagi Masa Depan

Screenshot Ibadah Api GKJ Baturetno - Pengutusan Musa (YouTube/GKJ Baturetno)

Di masa pandemi, ketika interaksi fisik menjadi barang mewah, Ibadah Alam bertema api tetap dirancang dengan cara yang unik untuk menjaga kehangatan relasi antar-jemaat. Api bukan lagi sekadar simbol panas yang menghanguskan, melainkan sebagai representasi dari daya tahan jemaat Baturetno dalam menghadapi krisis kesehatan global.

Load More