Lifestyle / Komunitas
Senin, 06 April 2026 | 12:30 WIB
Bumi adalah ibu (Screenshot YouTube/GKJ Baturetno)

Pendeta Dyan Sunu memastikan bahwa meskipun situasi berubah, pengalaman iman yang didapatkan jemaat harus tetap autentik dan tidak terasa seperti rutinitas yang membosankan. Melalui elemen api di tengah pandemi, jemaat diajak untuk memurnikan diri dan tetap berani melangkah menghadapi ketidakpastian masa depan.

“Kita tahu persis bahwa situasinya ketika itu sangat mencekam. Gelap menjadi representasi teror pandemi, lalu kemudian api melambangkan kekuatan Tuhan,” paparnya.

Bagi jemaat GKJ Baturetno, ibadah kini bukan lagi soal mendengarkan sabda dari mimbar kayu, melainkan mengalami sendiri keluhan bumi. Alam telah menjadi guru yang paling jujur, memaksa setiap orang yang hadir untuk tidak lagi abai pada lingkungan yang mereka tinggali.

“Ibadahnya sangat aktual dan secara liturgi juga cukup berani karena mengangkat isu yang sekarang ini belum terlalu mendapat perhatian di masyarakat, yakni tentang sampah,” ungkap Sadrakh, salah seorang jemaat dari Salatiga yang menghadiri ibadah Ibu Bumi Rahim Kehidupan di TPA.

Ia juga berharap ibadah seperti ini bisa terus dijalankan kedepannya supaya jemaat bisa lebih sadar dan Gereja bisa lebih aktif untuk terlibat dalam isu-isu kemanusiaan, maupun isu lingkungan.

Pemuda GKJ Baturetno, Theresia pun mengungkapkan kekagumannya terhadap ibadah alam yang berbeda dari ibadah pada umumnya. Ia merasa keinginan untuk melakukan aksi nyata dalam menjaga alam perlahan muncul setelah mengikuti peribadatan ini.

Penulis: Vicka Rumanti

Load More