Lifestyle / Male
Selasa, 07 April 2026 | 14:50 WIB
Inaya Wahid dan Lora Mamak menikah [Instagram/@dw_muhamad_dawam]

Suara.com - Nama Inayah Wahid belakangan ramai diperbincangkan publik. Putri bungsu dari Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid alias Gusdur, itu disebut-sebut telah menikah dengan sosok yang dikenal sebagai Lora Mamak atau Ra Mamak pada Minggu, 5 April 2026.

Kabar tersebut pertama kali mencuat di media sosial memperlihatkan seorang perempuan yang disebut sebagai Inayah duduk di kursi menyerupai pelaminan. Di sampingnya tampak seorang pria yang disebut sebagai Lora Mamak. Unggahan itu pun disertai doa agar keduanya menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.

Pernikahan itu kemudian memicu rasa penasaran publik termasuk soal arti dari gelar "Ra" atau "Lora" yang melekat pada sosok pria yang disebut suami Inaya Wahid. Lantas apa makna sebenarnya? Simak penjelasan berikut ini.

Apa Arti Ra atau Lora?

Inaya Wahid dan Lora Mamak menikah [Instagram/@klik.madura]

Di kalangan masyarakat Madura, sebutan "Lora" atau "Ra" bukan sekadar panggilan biasa. Gelar ini memiliki makna kehormatan yang cukup tinggi. Lora biasanya digunakan untuk menyebut putra laki-laki dari seorang kiai atau tokoh agama yang memiliki pengaruh besar, khususnya di lingkungan pesantren.

Dalam konteks budaya, Lora memiliki posisi yang hampir setara dengan sebutan "Gus" yang umum digunakan di wilayah Jawa. Gelar ini tidak hanya mencerminkan garis keturunan, tetapi juga menunjukkan posisi sosial serta harapan besar dari masyarakat terhadap sosok tersebut.

Menariknya seiring perkembangan zaman, penggunaan gelar Lora tidak selalu terbatas pada anak kandung kiai. Dalam beberapa kasus, menantu atau santri yang memiliki kedekatan khusus dengan keluarga pesantren serta dianggap memiliki kapasitas keilmuan dan akhlak yang baik juga bisa mendapatkan sebutan tersebut.

Namun di sisi lain, makna Lora juga mengalami pergeseran. Tidak sedikit yang menggunakan gelar ini tanpa memperhatikan latar belakang tradisionalnya sehingga nilai kehormatannya kadang menjadi lebih longgar dibandingkan makna aslinya.

Sosok Lora Mamak Suami Inaya Wahid

Sosok Ra Mamak jadi perhatian setelah menikah dengan Inayah Wahid. [Instagram/gusdurianlomboktv].

Nama Lora Mamak sendiri merujuk pada KH Muhammad Shalahuddin A Warits, seorang tokoh pesantren yang cukup dikenal di wilayah Sumenep, Madura, Jawa Timur. Ia lahir pada 16 April 1982 dan merupakan putra dari KH A Warits Ilyas, pengasuh salah satu pesantren besar dan bersejarah di Madura, yakni Pondok Pesantren Annuqayah. Dari garis keluarga inilah gelar "Lora" yang ia sandang berasal.

Sebagai anak kiai, Lora Mamak termasuk figur yang sejak awal telah dipersiapkan untuk melanjutkan tradisi keilmuan dan kepemimpinan pesantren. Ia diketahui menjadi salah satu pengasuh di lingkungan Pesantren Annuqayah, khususnya di daerah Lubangsa, Guluk-Guluk.

Baca Juga: Sindiran Telak Inayah Wahid ke Kiky Saputri di Acara Lapor Pak! Bikin Tak Berkutik

Dari sisi pendidikan, rekam jejaknya juga cukup mentereng. Ia menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Mesir yang dikenal sebagai salah satu kampus Islam terkemuka di dunia. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan magister di Universitas Indonesia dengan mengambil jurusan Bahasa Arab.

Tak hanya itu, kemampuan bahasanya juga menjadi nilai tambah. Ia disebut menguasai beberapa bahasa asing, seperti Inggris, Arab, hingga Prancis.

Selain berkiprah di dunia pendidikan dan pesantren, Lora Mamak juga aktif dalam organisasi keagamaan. Ia terlibat dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama (NU) di tingkat daerah.

Namanya juga sempat mencuat di ranah politik lokal. Pada Pilkada Sumenep 2020, ia masuk dalam bursa calon bupati, meski pada akhirnya tidak mendapatkan rekomendasi partai. Sebelumnya, ia juga pernah menjabat sebagai Ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sumenep.

Di luar aktivitasnya sebagai pengasuh pesantren dan tokoh organisasi, Lora Mamak juga memiliki rekam jejak di dunia kepenulisan. Sejak masa kuliah di Mesir, ia aktif di media mahasiswa dan pernah mengisi berbagai posisi, mulai dari reporter hingga pimpinan redaksi.

Berbekal pengalaman tersebut, ia kemudian mendirikan media bernama Arus Kampus yang menjadi wadah untuk menyalurkan gagasan serta pandangannya terhadap isu-isu sosial dan keberagaman.

Load More