Suara.com - Penanganan sampah di Indonesia masih jauh dari optimal. Data Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2024 mencatat timbulan sampah nasional mencapai 31 juta ton, namun hanya sekitar 14 juta ton yang berhasil ditangani.
Masalahnya tak berhenti di hilir. Di tingkat rumah tangga, kebiasaan memilah sampah masih sangat rendah. Pada 2025, sebanyak 83,75 persen rumah tangga tercatat belum pernah memilah sampah.
Kondisi ini turut dirasakan Kertabumi Recycling Center. CEO dan Founder, Ikbal Alexander, menyebut perubahan perilaku masyarakat menjadi tantangan utama. Sejak berdiri pada 2017, jumlah nasabah bank sampah yang awalnya hanya belasan orang baru meningkat menjadi sekitar 400 warga setelah sembilan tahun.
“Ini soal perubahan perilaku, dan itu tidak mudah. Butuh waktu. Setiap warga punya momen masing-masing untuk mulai berubah,” ujar Ikbal.
Adanya Sistem Reward dan Enforcement
Ikbal menyadari bahwa edukasi lingkungan saja tidak cukup untuk mengubah kebiasaan lama masyarakat. Perlu intervensi nyata yang menyentuh kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, Kertabumi menerapkan dua strategi paralel yang sangat efektif, yaitu sistem reward (penghargaan) dan enforcement (penegakan). Tentunya, hal ini disesuaikan dengan profil ekonomi masyarakat setempat.
Kertabumi menggunakan insentif ekonomi sebagai pemicu utama melalui sistem barter. Dimana warga didorong untuk mengumpulkan sampah plastik yang nantinya dapat ditukar dengan kebutuhan pokok, seperti minyak goreng atau beras. Meskipun Ikbal mengakui bahwa antusiasme ini terkadang bersifat temporer, intervensi rutin ini sangat penting untuk menjaga kesadaran kolektif warga agar tidak kembali membuang sampah sembarangan.
Untuk meningkatkan partisipasi warga, Kertabumi Recycling Center menerapkan kombinasi pendekatan insentif dan penegakan aturan. Berbagai program ditawarkan, mulai dari penukaran sampah plastik dengan uang hingga kebutuhan pokok seperti minyak goreng atau beras.
"Nah, itu sebenarnya bisa mentrigger orang untuk mengubah perilaku, walaupun tidak akan permanen” ujarnya.
Strategi ini secara perlahan menggeser pola pikir warga, dari sekadar membuang sampah pada tempatnya, yang sering kali hanya memindahkan masalah ke tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi membuang sampah sesuai dengan jenisnya.
Baca Juga: Revitalisasi Jalur Kaldera Tengger, Kurangi Kepadatan Wisata di Bromo
Selain itu, dalam aspek enforcement sendiri. Kertabumi berkolaborasi dengan RW setempat. Warga yang menjadi nasabah bank sampah dan aktif memilah sampah akan mendapatkan prioritas dalam pengurusan surat-surat.
“Untuk program enforcement, kami kerjasama dengan Pak RW di sini. Warga yang belum menjadi nasabah bank sampah dan belum memilah sampah tidak menjadi prioritas dalam pengurusan surat domisili atau administrasi lainnya,” kata Ikbal.
Sebaliknya, warga yang belum memiliki kesadaran untuk memilah sampah tidak mendapatkan keuntungan tersebut. Langkah enforcement ini menjadi krusial, terutama di lingkungan masyarakat yang tingkat kesadarannya masih rendah, karena menciptakan konsekuensi nyata dalam kehidupan bermasyarakat.
Sistem seperti ini dinilai perlu diterapkan untuk meningkatkan awareness masyarakat akan pentingnya memilah sampah, terutama masyarakat yang berasal dari kalangan menengah ke bawah.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
Terkini
-
Gen Z Mulai Pilih Baju dengan Nilai, Bisakah Ini Tekan Limbah Fashion?
-
Mahasiswa FH UI Terduga Pelaku Pelecehan Seksual Terancam DO, Masih Bisa Kuliah Lagi?
-
5 Cushion Tahan Lama dan Anti Oksidasi untuk Kulit Berminyak
-
Mengenal Dekat Tamara Bleszynski: Siapa Suami dan Ada Berapa Anaknya Sekarang?
-
Siapa Pemilik Selat Hormuz? Kawasan yang Bikin AS Harus Blokade Total dalam Perang Lawan Iran
-
Siapa yang Pertama Kali Menyebarkan Chat Dugaan Pelecehan oleh Mahasiswa FH UI?
-
Isi Chat Grup 16 Mahasiswa FH UI yang Viral, Begini Kronologi dan Fakta Terbarunya
-
5 Sabun Cuci Muka yang Tidak Berbusa, Kulit Lembap Anti Ketarik
-
5 Rekomendasi Parfum Lokal Pria yang Aromanya Disukai Wanita dan Tahan Lama
-
Apakah Pinjol Memengaruhi Skor Kredit untuk KPR Subsidi? Ini Trik Supaya Pengajuan DIterima