- Jerawat mungkin bisa reda dalam hitungan hari atau minggu, tetapi bekasnya sering bertahan jauh lebih lama.
- Tidak sedikit yang langsung mencoba berbagai treatment tanpa diagnosis yang jelas, atau justru melakukan perawatan terlalu agresif.
- Alih-alih membaik, kondisi kulit bisa semakin sensitif, skin barrier terganggu, bahkan memicu masalah baru.
Suara.com - Jerawat mungkin bisa reda dalam hitungan hari atau minggu, tetapi bekasnya sering bertahan jauh lebih lama. Mulai dari noda kemerahan, kehitaman, hingga tekstur kulit yang tidak rata, fase pasca-jerawat justru menjadi tantangan yang lebih kompleks bagi banyak orang.
Masalahnya, bekas jerawat bukan satu kondisi tunggal. Ada yang berupa kemerahan (post-inflammatory erythema/PIE), hiperpigmentasi (PIH), hingga jaringan parut atau bopeng (scar atrofi). Masing-masing membutuhkan pendekatan berbeda, sehingga tidak bisa ditangani hanya dengan satu jenis perawatan atau skincare biasa.
Di sinilah banyak orang keliru. Tidak sedikit yang langsung mencoba berbagai treatment tanpa diagnosis yang jelas, atau justru melakukan perawatan terlalu agresif. Alih-alih membaik, kondisi kulit bisa semakin sensitif, skin barrier terganggu, bahkan memicu masalah baru.
Pendekatan yang lebih tepat sebenarnya dimulai dari pemahaman bahwa jerawat dan bekasnya adalah proses yang saling berkaitan. Ketika jerawat aktif belum sepenuhnya terkontrol, fokus pada penghilangan bekas justru kurang efektif. Peradangan yang terus terjadi bisa memperpanjang proses pemulihan dan meningkatkan risiko munculnya bekas baru.
Karena itu, banyak praktisi kini menekankan pentingnya pendekatan bertahap. Tahap awal difokuskan pada mengontrol jerawat aktif dan menenangkan inflamasi, yang bisa melibatkan kombinasi obat dokter, chemical peeling, hingga terapi berbasis cahaya (phototherapy). Setelah kondisi kulit lebih stabil, barulah treatment untuk bekas jerawat dilakukan.
Dalam tahap lanjutan ini, teknologi laser mulai banyak digunakan karena mampu menargetkan masalah kulit secara lebih spesifik. Laser tertentu dapat membantu mengurangi kemerahan, memudarkan pigmentasi, sekaligus merangsang produksi kolagen untuk memperbaiki tekstur kulit dalam jangka panjang.
Namun, penggunaan laser pun tidak bisa disamaratakan. Faktor seperti jenis bekas jerawat, kedalaman pigmentasi, sensitivitas kulit, hingga kondisi skin barrier harus diperhitungkan secara cermat. Tanpa evaluasi yang tepat, hasil treatment bisa kurang optimal atau justru menimbulkan iritasi.
Pendekatan berbasis diagnosis inilah yang kemudian diadopsi oleh sejumlah klinik estetika, termasuk FTP Clinic di Tangerang. Klinik ini memperkenalkan protokol 3 Modes Lasers Treatment, yang mengombinasikan beberapa teknologi laser dalam satu rangkaian untuk menangani berbagai jenis bekas jerawat secara lebih menyeluruh.
Menurut dr. Charlene Janice dari FTP Clinic, setiap pasien memiliki kondisi kulit yang berbeda sehingga tidak bisa diperlakukan dengan pendekatan yang sama.
Baca Juga: 5 Cushion High Coverage yang Menutup Flek Hitam dan Bekas Jerawat
“Bekas jerawat itu bukan satu kondisi yang bisa disamakan pada semua orang. Setiap pasien bisa punya kombinasi masalah yang berbeda, jadi pendekatannya juga harus dipersonalisasi,” ujarnya.
Salah satu teknologi yang digunakan dalam protokol tersebut adalah Derma V Laser, yang dirancang untuk menargetkan kemerahan dan pigmentasi dengan lebih presisi. Selain itu, pendekatan multi-mode memungkinkan dokter menyesuaikan kombinasi treatment sesuai kebutuhan kulit, tidak sekadar mengandalkan satu metode.
Yang juga ditekankan adalah urutan atau sequencing treatment. Tidak semua kulit bisa langsung menjalani laser, terutama jika masih terdapat jerawat aktif atau skin barrier belum pulih. Dalam kondisi seperti ini, perawatan pendukung akan dilakukan terlebih dahulu sebelum masuk ke tahap yang lebih intensif.
Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa mengatasi jerawat tidak cukup hanya fokus pada satu fase. Dari jerawat aktif hingga bekasnya, dibutuhkan strategi yang terukur, personal, dan tidak terburu-buru.
Pada akhirnya, kunci dari kulit yang benar-benar pulih bukan hanya soal teknologi yang digunakan, tetapi bagaimana setiap langkah perawatan disesuaikan dengan kondisi kulit—dan dijalankan dengan timing yang tepat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- 5 Bedak Padat Mengandung SPF, Praktis untuk Touch Up Sekaligus Lindungi Kulit dari Matahari
- Mathew Baker Masih Dianggap Milik Australia meski Dipanggil Timnas Indonesia Senior
- Sinyal Penggulingan '98 Jilid 2' Menguat, Cuma PDIP dan Habib Rizieq yang Bisa Selamatkan Prabowo?
Pilihan
-
Lucky Hakim Dinobatkan Sebagai Bupati Terbaik, Wakilnya Malah Jadi Tersangka
-
Dasco Pagi-pagi Kumpulkan Menkeu Purbaya dan Gubernur BI di DPR, Evaluasi Ekonomi
-
Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
-
Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
Terkini
-
Sering Gonta-ganti Skincare, Apakah Aman? Simak Penjelasan Dokter
-
5 Krim Penghilang Flek Hitam Murah yang Sudah BPOM, Mulai Rp12 Ribuan
-
Said Iqbal Lulusan Mana? Ini Jejak Pendidikan Presiden KSPI yang Disebut Masuk Kabinet Prabowo
-
Profil Ferry Latuhihin: Ekonom Senior Prediksi Dolar Tembus Rp25.000 Sebentar Lagi
-
4 Moisturizer dari Brand Jepang untuk Skin Barrier, Bantu Jaga Kulit Tetap Lembap
-
7 Moisturizer Lokal Mengandung SPF, Praktis untuk Skincare Pagi Hari
-
6 Rekomendasi Sunscreen yang Cocok untuk Semua Jenis Kulit, Lengkap dengan Kelebihannya
-
Profil Mensesneg Prasetyo Hadi, Jubir Presiden yang Curi Perhatian Publik
-
Tak Hanya Cantik, 5 Tanaman Ini Juga Bisa Bantu Redakan Stres Menurut Ahli
-
Review Sandal Barefoot Lokal Pyopp Fledge Jelajah, Aman untuk Lari?