Suara.com - Populasi Owa Jawa terus menyusut dan kini berada di titik kritis. Dengan jumlah tersisa hanya sekitar 1.000–2.000 ekor di alam liar, primata ini menjadi salah satu spesies owa paling langka di dunia, dengan sebaran terbatas di Jawa bagian barat.
Di Taman Nasional Ujung Kulon saja, pada 2022 populasinya diperkirakan hanya sekitar 435 individu. Kondisi ini menjadi alarm serius bagi keberlangsungan spesies sekaligus ekosistem hutan yang bergantung padanya.
Situasi inilah yang mendorong Rahayu Oktaviani untuk bergerak. Ia merupakan peneliti primata asal Indonesia yang telah lebih dari satu dekade meneliti Owa Jawa, sekaligus dikenal aktif mendorong keterlibatan masyarakat dalam upaya konservasi.
Bagi Rahayu, menyaksikan Owa Jawa bangun hingga kembali tidur adalah sebuah privilege yang tidak dimiliki semua orang. Namun, setelah bertahun-tahun mengamati primata liar ini, ia menyadari bahwa data ilmiah saja tidak cukup tanpa aksi nyata di lapangan.
Dari kesadaran itulah, ia bersama rekan-rekannya mendirikan yayasan KIARA (Konservasi Ekosistem Alam Nusantara) sebagai wadah untuk mendorong upaya konservasi yang lebih aktif dan kolaboratif.
KIARA, Dari Riset Menuju Aksi
Secara legal, KIARA berdiri pada September 2020. Namun, inisiatif ini telah dirintis sejak 2014, berangkat dari keterlibatan Rahayu dalam proyek Javan Gibbon Research and Conservation Project yang kemudian menjadi fondasi pembentukan yayasan tersebut.
Rahayu menyadari bahwa riset harus berjalan berdampingan dengan aksi nyata. KIARA pun mengembangkan tiga program utama, yaitu riset dan monitoring, perlindungan konservasi, dan pengembangan masyarakat. Ketiganya dijalankan secara kolaboratif dengan melibatkan banyak pihak.
“Kami memiliki harapan bahwa di masa depan Owa Jawa ini bisa lestari dengan adanya dukungan dari semua pihak. Dengan adanya kolaborasi dari masyarakat, dari pemerintah, dari berbagai instansi yang saling terkait.” ujarnya.
Baca Juga: Naga Purba ke Jepang: Diplomasi Hijau dan Misi Penyelamatan Komodo
Dinamika di Lapangan
Bekerja di habitat alami memberi kesempatan langka untuk mengamati perilaku Owa Jawa secara langsung. Namun, pengamatan di lapangan tidak selalu berjalan sesuai rencana dan kerap menghadirkan situasi tak terduga.
Dalam satu pemantauan, dua kelompok Owa Jawa yang biasanya memiliki pola aktivitas berbeda justru bertemu, memicu interaksi yang di luar perkiraan tim peneliti.
“Kami tidak ekspek ketika melakukan pengamatan, tiba-tiba kelompok A bertemu dengan kelompok B. Sehingga akhirnya terjadi konfrontasi dan perilaku agresif,” timpalnya.
Selama kejadian tersebut kedua kelompok Owa itu bersahut-sahutan. Sehingga mereka harus menunggu konfrontasi selesai dan pulang lebih larut.
“Awalnya saya sudah membayangkan pulang ke kamp Owa. Bisa istirahat dan bisa menikmati masakan Ibu masa kami yang namanya Bu Amot yang sangat lezat. Namun, kejadian tersebut membuyarkan lamunan saya tentang masakan lezat itu” ucapnya.
Meski melelahkan, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga tentang dinamika alami satwa liar yang tidak selalu dapat diprediksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 SD Swasta Terbaik di Palembang dan Estimasi Biayanya, Panduan Lengkap Orang Tua 2026
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Aksi Kritik Gubernur Rudy Mas'ud 21 April, Massa Diminta Tak Tutup Jalan Umum
Pilihan
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
Terkini
-
Baia Nonna Kantongi Sertifikasi Halal, Sajikan Menu Peranakan Autentik dan Kaya Rempah
-
BPOM Siapkan Label Nutri-Level, Berapa Batas Aman Konsumsi Gula Harian?
-
Siapa Promotor Hammersonic Festival 2026? Refund Tiket 100 Persen usai Jadi Konser Privat
-
Benarkah BLT Kesra Cair Lagi Bulan April 2026? Cek Info Terbarunya
-
Saat Udara Rumah Tak Lagi Aman, Inovasi Pemurni Jadi Investasi Kesehatan Jangka Panjang
-
Isi Token Listrik Rp50 Ribu Dapat Berapa kWh? Simak Rincian Tarif Listrik Terbaru
-
Sabun Cuci Muka Bagus pH Berapa? Ini 5 Rekomendasi agar Kulit Aman
-
6 Sepeda dengan Boncengan Belakang Bawaan, Kuat Buat Anak dan Orang Dewasa
-
5 Parfum Lokal yang Wanginya Tercium dari Jarak Jauh, Aroma Elegan dan Tahan Lama
-
6 Parfum Aroma Melon Paling Wangi, Sensasi Segar dan Manis Seperti Buah Asli