Lifestyle / Female
Sabtu, 25 April 2026 | 10:19 WIB
Heart Troops. (dok. ist)
Baca 10 detik
  • Shinta Anggraini meluncurkan koleksi fashion Heart Troops bertajuk Heart to Heart pada Februari lalu untuk mendukung anak penderita PJB.
  • Kampanye ini menggalang donasi melalui pembelian produk fashion guna membantu kebutuhan medis anak-anak bekerja sama dengan Little Heart Foundation.
  • Inisiatif ini bertujuan meningkatkan kesadaran sosial mengenai prevalensi Penyakit Jantung Bawaan bagi satu dari seratus bayi di Indonesia.

Suara.com - Tidak semua gerakan sosial lahir dari strategi besar atau perencanaan matang. Ada yang tumbuh dari pengalaman personal—sunyi, emosional, tapi justru kuat dampaknya. Dari ruang seperti itulah Heart Troops hadir, sebuah jenama fashion lokal yang mengubah empati menjadi aksi nyata melalui kampanye “Heart to Heart”.

Diluncurkan pada Februari lalu, koleksi ini bukan sekadar lini produk. Ia menjadi medium yang menghubungkan kepedulian publik dengan kebutuhan nyata anak-anak yang hidup dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB). Setiap pembelian dalam koleksi ini berkontribusi langsung pada donasi untuk mendukung pengobatan mereka.

Di balik inisiatif tersebut, ada cerita Shinta Anggraini—seorang ibu yang pernah menghadapi fase paling menantang dalam hidupnya saat mendampingi sang anak melawan PJB. Dari proses diagnosis, ketidakpastian, hingga tindakan medis yang tidak mudah, pengalaman itu meninggalkan jejak yang kemudian diterjemahkan menjadi gerakan.

“Ini bukan sesuatu yang sejak awal kami rencanakan sebagai gerakan besar. Semua bermula dari pengalaman yang sangat personal. ‘Heart to Heart’ adalah cara kami meneruskan kebaikan yang pernah kami terima,” ujar Shinta.

Kampanye ini juga membawa pesan penting melalui angka “1 in 100”—merujuk pada data Ikatan Dokter Anak Indonesia yang menyebut satu dari 100 bayi di Indonesia lahir dengan PJB. Angka yang terlihat kecil, namun menyimpan realitas besar: banyak keluarga menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan, minimnya pemahaman, hingga stigma sosial.

Melalui kolaborasi dengan Little Heart Foundation Indonesia, donasi yang terkumpul disalurkan untuk membantu kebutuhan medis anak-anak dengan PJB. Dampaknya mungkin tidak selalu terlihat secara instan, tetapi berarti besar bagi mereka yang sedang berjuang.

Yang menarik, pendekatan yang dipilih terasa dekat dengan keseharian. Koleksi “Heart to Heart” hadir dalam bentuk sweater, shirt, scarf, hingga aksesori—produk yang bisa digunakan siapa saja. Namun di balik desainnya, ada makna bahwa setiap pembelian adalah bentuk partisipasi dalam membantu kehidupan orang lain.

Lebih dari sekadar penggalangan dana, gerakan ini juga membuka ruang percakapan. Tentang pentingnya dukungan sosial, tentang anak-anak yang membutuhkan lebih dari sekadar perawatan medis, dan tentang bagaimana empati bisa menjadi awal perubahan.

Penyaluran donasi dilakukan secara transparan, menjadi bentuk akuntabilitas sekaligus apresiasi bagi setiap individu yang terlibat. Sebab pada akhirnya, gerakan ini tidak berdiri sendiri—ia tumbuh dari banyak orang yang memilih untuk peduli.

Baca Juga: Di Tengah Derasnya Fast Fashion, Novia Arifin Memilih Melambat dengan Pilihan Slow Fashion

Dari satu cerita personal, Heart Troops kini berkembang menjadi gerakan kolektif. Tempat di mana fashion bukan hanya soal gaya, tetapi juga medium untuk berbagi—mengalirkan kebaikan dari satu hati ke hati lainnya.

Load More