- Pak Sammy mendirikan toko Woodstock Corner Shop di Pasar Santa, Jakarta Selatan, sejak tahun 2018 setelah pensiun dini.
- Strategi kurasi barang yang sangat personal dan unik dilakukan untuk memenangkan persaingan melawan arus belanja e-commerce global.
- Prinsip kesabaran, ketekunan, dan inovasi terbukti mampu mempertahankan bisnisnya melewati masa sulit pandemi hingga saat ini.
Suara.com - Di antara deretan toko modern dan keriuhan tren fast fashion, terselip sebuah mesin waktu di lantai atas Pasar Santa, Jakarta Selatan. Namanya ‘Woodstock Corner Shop’.
Di sana, seorang pria paruh baya dengan rambut putih panjang yang dibiarkan terurai, duduk tenang. Di sekelilingnya, gantungan baju bermotif kain tua dan deretan figur karakter Star Wars seolah menjadi barikade yang melindunginya dari hingar-bingar dunia luar.
Ia adalah Pak Sammy. Bagi penghuni Pasar Santa, ia bukan sekadar pedagang baju bekas; ia adalah saksi yang melihat kejayaan, keruntuhan, hingga upaya bangkitnya pusat kreatif legendaris ini.
Pensiun Dini dari Menara Gading
Siapa sangka, sosok yang kini identik dengan gaya santai ini dulunya adalah "orang korporat".
Pak Sammy menghabiskan hampir tiga dekade hidupnya bekerja di Indosat sejak tahun 1980. Namun, pada akhir 2008, ia memutuskan untuk melepas seragam kantorannya dan mengambil pensiun dini.
“2008 akhir menjelang 2009, saya nggak mau terlalu banyak menganggur, jadi saya buka toko,” kenangnya saat berbincang dengan suara.com, Rabu (22/4/2026).
Langkah pertamanya dimulai di Pamulang, Tangerang Selatan, dengan menjajakan kaos-kaos band. Baru pada 2018, ia memutuskan memboyong "jiwa" Woodstock ke Pasar Santa.
Ironisnya, ia masuk tepat saat denyut pasar tersebut sedang berada di titik nadir setelah masa keemasan tahun 2014 silam.
Baca Juga: Harga Minyak Naik! Pemprov DKI Larang MinyaKita Jadi Bansos Demi Jamin Stok di Pasar
Siasat Melawan 'Kejelian' Gen Z
Memasuki Woodstock Corner Shop adalah sebuah pengalaman sensorik. Ruangannya dipenuhi barang kurasi yang sangat personal—sebuah gaya yang kini populer disebut cluttercore.
Ada kehangatan dari tas, rok, hingga baju bermotif paisley yang tidak bisa diterjemahkan hanya lewat selembar foto digital.
Justru keunikan inilah yang menjadi senjata Pak Sammy bertahan di era gempuran belanja online.
Ia sadar betul, pelanggan masa kini, terutama Gen Z, adalah petarung digital yang sangat jeli membandingkan harga.
“Gen Z ini jeli. Mereka lihat satu barang difoto dulu, dilihat di medsos ada nggak di Shopee," tutur Pak Sammya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Situ Ciburuy Mulai Mengering, Daratan Muncul di Tengah Danau
-
Surya Paloh Titip Masa Depan Indonesia ke Anak Muda: Tak Bisa Lagi Berharap pada Generasi Tua
-
Sempat Kabur ke Depok, Begal Driver Lalamove di Gunung Masigit Akhirnya Diringkus Polisi
-
Polresta Solo Amankan Dua Pemuda Bawa Clurit di Jebres, Ini Kronologinya
-
Pofesi HR Kini Tak Hanya Urus Administrasi, Tapi Juga Menuju Mitra Strategis Bisnis
-
Waketum PSSI Ratu Tisha Kenalkan Liga Universitas Coca-Cola di Forum PBB
-
Liburan ke Bali Sambil Nonton Festival Musik, Ini Deretan Destinasi Seru di Bali Selatan
-
Prananda Paloh Resmi Pimpin Garda Pemuda NasDem, Surya Paloh Beri Pesan Menyentuh
-
Mengapa Banyak Proyek AI di Perusahaan Indonesia Mandek? Ternyata Bukan Salah Teknologinya
-
Keluar dari 'Zona Tidak Aman', Sarwendah Pilih Tinggalkan Rumah Gono-gini Ruben Onsu