Ia menegaskan, sejak awal mereka memang bukan datang sebagai ahli. “Kita tuh dari awal sering nyoba-nyoba aja. Kita bukan ahli kimia, cuma teman-teman seniman yang belajar bareng,” tambahnya.
GUDRND sendiri digagas oleh enam orang: Moch Hasrul, Untung Sugiyarto, MG Pringgotono, Muhammad Aldino, Kautsar, dan Sultan.
Awalnya bermula di masa pandemi Covid-19, saat ekosistem GUDSKUL memproduksi face shield untuk membantu tenaga kesehatan. Namun di balik produksi itu, ada limbah yang terus menumpuk.
Alih-alih dibuang, limbah itu justru memantik rasa penasaran mereka.
“Akhirnya kita coba macam-macam—direbus, dibakar. Sampai ketemu cara yang paling pas, di-oven. Dari situ, limbah 3D print itu kita olah jadi berbagai produk,” jelasnya.
Dari proses coba-coba itulah, lahir berbagai barang baru—mulai dari kacamata, gantungan kunci, hingga pot tanaman. Sesuatu yang sebelumnya dianggap sisa, perlahan berubah jadi karya.
Dari Limbah Jalanan Jadi Produk Bernilai
Keresahan mereka kemudian bergeser ke ruang publik, terutama ketika melihat ribuan APK yang memenuhi sudut kota setiap musim pemilu.
“Setelah ini larinya kemana ya? Setelah dipasang gitu. Jadi bakal kemana ya si banner itu?,” ungkap Aldino.
Aldino dan kawan-kawan merasa perlu ada yang bertanggung jawab atas limbah APK tersebut. Pertanyaan tersebut mendorong mereka untuk mulai mengambil APK yang terjatuh di jalanan.
Baca Juga: Dua Hari Berturut, Langit Kelapa Gading Tercemar Asap Kebakaran Sampah
Langkah ini dipilh agar tidak menimbulkan konflik dengan pihak tertentu. Saat ini,GUDRND mengolah berbagai jenis limbah, seperti kantong plastik, tutup botol, dan APK. Lalu, mereka juga terus berinovasi dengan melakukan riset terhadap beberapa bahan lain.
“Bocoran sedikit, saat ini kita lagi mencoba mengolah limbah saset,” ungkap Aldino.
Meluas Lewat Kolaborasi dan Pemberdayaan
Perjalanan GUDRND tidak hanya berhenti dalam workshop mereka saja. Keterbukaan mereka menjadi kunci mengapa banyak pihak bisa tertarik untuk berkolaborasi. Salah satu kolaborasi yang paling menarik adalah dalam Pekan Kebudayaan Nasional 2023 di Lombok bersama Komunitas Pasir Putih dan Kemendikbud.
“Kita ke sana kalau programnya di GUDRND, kita kebanyakan pemberdayaan masyarakat. Jadi kita bikin workshop di desa-desa habis itu kita kolaborasi untuk pengkaryaannya,” jawabnya.
Dalam acara tersebut, mereka juga berkolaborasi dengan grup musik tradisional di Lombok.
“Konsennya kita gabungin kita mengolah limbah plastik itu jadi alat musik kayak gitar, bas, kostumnya sampe visual-nya, dan konsep tata panggungnya, itu semuanya dari Sampah,” timpalnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Korban Kecelakaan KRL Vs KA Argo Bromo Bertambah, AHY: 15 Jiwa Meninggal dan 88 Orang Luka-Luka
-
'Kakak Saya Belum Bisa Dihubungi', Pilu Keluarga Cari Korban Kecelakaan KRL di Bekasi Lewat Medsos
-
Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
-
9 Fakta Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur, Gerbong Wanita Jadi Titik Terparah
-
Cerita Pasutri Selamat dari Kecelakaan Maut Kereta di Bekasi: Terpental hingga Pingsan
Terkini
-
4 Parfum untuk Anak Sekolah yang Wangi Tahan Lama dan Murah di Minimarket
-
Prabowo Hadiri Resepsi El Rumi, Bisakah Orang Biasa Undang Presiden ke Pernikahan?
-
Mengenal Istilah Black Cat Energy dalam Dinamika Percintaan Modern, Beda dengan Cuek
-
Cara Cek Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
-
Body Butter atau Body Lotion Dulu? Ini 4 Rekomendasi untuk Kunci Kelembapan
-
Tumpukan Limbah Usai Kampanye: Bagaimana GUDRND Memberi Hidup Baru pada Sampah Kampanye?
-
Kecelakaan di Malam Hari, KRL Jabodetabek Beroperasi Jam Berapa?
-
Sambil Sebat, Pengakuan Sopir Taksi yang Disebut-sebut Biang Kerok Kecelakaan KRL dan Argo Bromo
-
Menembus Blokade Gaza: Solidaritas Global Berlayar Lewat GSF 2.0, Apa Itu Misinya?
-
Setelah Foundation Apa Perlu Pakai Bedak? Ini Urutan Makeup agar Tahan Lama