Suara.com - Setiap pesta demokrasi usai, Indonesia kembali dihadapkan pada persoalan yang berulang: tumpukan alat peraga kampanye (APK) yang terbengkalai. Limbah berupa banner plastik hingga kain itu kerap berakhir di gudang atau tempat pembuangan akhir tanpa pengelolaan yang jelas.
Sebuah studi berjudul “Kebijakan Pengaturan Pengelolaan Limbah Alat Peraga Kampanye berdasarkan Prinsip Keberlanjutan Lingkungan Hidup” (2025) mencatat, material APK berpotensi menimbulkan dampak lingkungan serius jika tidak didaur ulang. Namun, hingga kini, pengelolaan limbah tersebut masih terbentur persoalan koordinasi dan birokrasi.
Di tengah situasi itu, komunitas pengelola limbah GUDRND di Jakarta Selatan mencoba menghadirkan solusi alternatif. Inisiatif mereka berangkat dari keresahan sederhana terhadap nasib APK setelah masa kampanye berakhir.
Aksi Kolektif di Hari Tenang
“Setelah ini larinya ke mana ya? Setelah dipasang, bakal ke mana banner itu?” ujar Muhammad Aldino, salah satu pendiri GUDRND.
Keresahan tersebut mendorong mereka untuk mulai mengumpulkan APK yang telah terlepas dan jatuh di jalan. Langkah ini sengaja dipilih untuk menghindari potensi konflik dengan partai politik.
Aksi mereka semakin terorganisir saat masa hari tenang. Sekitar 20 relawan turun pada malam hari, menyusuri kawasan Kebagusan hingga sekitar Ragunan untuk mengumpulkan limbah kampanye. Dalam satu kali kegiatan, mereka mampu mengangkut hingga satu bak mobil pikap penuh APK.
Gerakan ini bersifat kolektif dan terbuka. Bahkan, sejumlah relawan internasional turut terlibat. Selain mengumpulkan limbah, mereka juga memproduksi konten bernuansa satire sebagai bentuk kritik terhadap pihak yang dinilai belum bertanggung jawab atas sampah kampanye.
Di sisi lain, Aldino menilai penggunaan banner fisik sebagai media kampanye sudah tidak relevan di era digital. Menurutnya, pendekatan kampanye berbasis media sosial lebih efektif sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Baca Juga: Sah! Jumhur Hidayat Jadi Menteri LH, Hanif Faisol 'Turun Tahta' Jabat Wamenko
“Sekarang semua orang sudah punya media sosial. Platformnya banyak dan bisa lebih tepat sasaran. Cetak banner jangan terlalu banyak,” katanya.
Birokrasi dan Hambatan Kolaborasi
Meski demikian, upaya pengelolaan limbah APK tidak lepas dari hambatan, terutama dari sisi birokrasi. Aldino mengaku sempat menerima tawaran kerja sama dari sejumlah pihak, namun tidak berlanjut.
“Datang, lihat, kasih janji, tapi akhirnya tidak ada kabar,” ujarnya.
Ia juga menyoroti proses administratif yang dinilai terlalu rumit, padahal solusi pengelolaan limbah bisa dilakukan secara sederhana melalui kolaborasi langsung. “Prosedurnya terlalu banyak, padahal bisa duduk bareng cari solusi,” tambahnya.
Ke depan, pergeseran ke kampanye digital dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi produksi limbah sejak awal. Di saat yang sama, penyederhanaan birokrasi diperlukan agar inisiatif kolektif seperti GUDRND dapat berkembang dan berkontribusi lebih luas dalam mengatasi persoalan sampah kampanye.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- Kasat Narkoba Tangsel Ditangkap! Diduga Edarkan Narkoba Bersama Enam Anak Buah
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?
-
Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak
-
Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus
-
Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123
-
BRI dan Kementerian UMKM Perkuat Pembiayaan KUR, Dorong UMKM Bandung Naik Kelas
-
Rambah Hutan Lindung di Batam, PT GTP Jadi Tersangka Korporasi
-
Truk LPG Hantam 11 Kendaraan di Kota Bandung, Pesepeda Wanita Meninggal Dunia
-
TNI Masuk MBG, Aktivis Kritik Pendekatan Militer: Bukan Situasi Perang
-
Atasi Sampah Kabupaten Bogor, PSEL Galuga Siap Dibangun di Atas Lahan Kopassus