Lifestyle / Male
Rabu, 29 April 2026 | 12:33 WIB
Kekayaan Bos Green SM (vinfutureprize.org)

Suara.com - Insiden tragis yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di kawasan Bekasi Timur pada akhir April 2026 mengejutkan publik. Kecelakaan besar ini tidak hanya menyorot persoalan keselamatan transportasi, tetapi juga membuat nama Green SM mendadak ramai diperbincangkan. Taksi online berwarna hijau kebiruan tersebut disebut berada di titik awal rangkaian kejadian sebelum tabrakan dua kereta terjadi.

Berdasarkan informasi awal yang beredar, sebuah unit taksi Green SM diduga berada di perlintasan rel dekat kawasan Bulak Kapal saat KRL melintas. Kendaraan tersebut tertemper commuter line hingga menyebabkan rangkaian kereta berhenti di jalur.

Dalam situasi darurat itu, KA Argo Bromo Anggrek yang datang dari arah belakang tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan pengereman sempurna dan akhirnya menabrak KRL di sekitar Stasiun Bekasi Timur. Video amatir yang beredar luas di media sosial pun memicu gelombang perhatian besar dari masyarakat.

Di tengah sorotan terhadap kronologi kecelakaan, banyak warganet mulai bertanya-tanya mengenai Green SM, perusahaan taksi online listrik yang kini mulai hadir di Indonesia. Nama perusahaan ini sebenarnya bukan pemain lokal biasa. Green SM merupakan bagian dari Green and Smart Mobility (GSM), perusahaan transportasi berbasis kendaraan listrik asal Vietnam yang terhubung langsung dengan kerajaan bisnis Vingroup.

Di balik Green SM berdiri sosok Pham Nhat Vuong, miliarder papan atas Vietnam yang dikenal sebagai pendiri dan pemimpin Vingroup. Vingroup merupakan salah satu konglomerasi terbesar di Vietnam dengan lini bisnis yang sangat luas, mulai dari properti, pusat perbelanjaan, pendidikan, layanan kesehatan, teknologi, hingga otomotif melalui merek mobil listrik VinFast.

Green SM resmi diluncurkan pada 6 Maret 2023 sebagai bagian dari strategi besar Vingroup untuk memperluas ekosistem kendaraan listrik. Layanan ini berfokus pada taksi listrik, transportasi berbasis aplikasi, serta penyewaan mobil dan motor listrik. Dengan konsep ramah lingkungan, Green SM menjadi salah satu proyek ambisius Vingroup untuk mempercepat transisi energi bersih di sektor transportasi.

Kesuksesan Pham Nhat Vuong bukanlah hasil instan. Perjalanannya dimulai dari Ukraina pada awal 1990-an bersama sang istri, Pham Thu Huong. Saat itu, pasangan ini membangun bisnis dari bawah, memulai usaha restoran sebelum menemukan kesuksesan besar melalui produk mi instan bernama Mivina. Produk tersebut berkembang pesat dan menjadi salah satu merek populer di Ukraina.

Langkah besar terjadi pada 2010 ketika bisnis mi instan tersebut dijual kepada Nestle. Penjualan itu menjadi titik penting yang mengubah Vuong menjadi salah satu pengusaha paling berpengaruh di Asia Tenggara. Modal dari bisnis makanan instan kemudian digunakan untuk membangun Vingroup di Vietnam, yang berkembang menjadi konglomerasi dengan diversifikasi luar biasa.

Kini, kekayaan Pham Nhat Vuong menjadikannya salah satu tokoh bisnis paling berpengaruh di kawasan. Forbes Real Time Billionaires pada April 2026 mencatat kekayaan bersihnya mencapai sekitar 24,5 miliar dollar AS atau setara kurang lebih Rp423,1 triliun dengan asumsi kurs Rp17.270 per dollar AS. Angka tersebut menempatkannya di posisi ke-93 dalam daftar orang terkaya dunia versi Forbes 2026.

Baca Juga: Banyak Korban Kecelakaan Kereta Api Bekasi Ulang Tahun di Hari Tragedi

Bahkan, dengan nominal tersebut, Vuong sempat melampaui Prajogo Pangestu dan menjadi salah satu individu terkaya di Asia Tenggara. Sumber kekayaannya berasal dari berbagai sektor, termasuk real estate, ritel, kesehatan, pendidikan, teknologi, serta industri kendaraan listrik melalui VinFast.

Meski VinFast dan Green SM terus berekspansi ke pasar internasional, termasuk Indonesia, persaingan di industri kendaraan listrik tetap tidak mudah. Di pasar Indonesia, VinFast masih berada di bawah dominasi produsen EV asal China seperti BYD. Data Asosiasi Produsen Otomotif Indonesia menunjukkan penjualan VinFast dari Januari hingga November masih di bawah 3.000 unit, sementara BYD hampir menyentuh 40.000 unit.

Namun demikian, kehadiran Green SM di Indonesia dipandang sebagai strategi jangka panjang. Tidak sekadar menghadirkan layanan taksi online, Green SM juga menjadi alat untuk memperluas penggunaan armada VinFast sekaligus membangun kesadaran publik terhadap kendaraan listrik.

Sorotan terhadap Green SM akibat insiden Bekasi tentu menjadi tantangan reputasi tersendiri bagi perusahaan. Meski penyelidikan resmi terkait kecelakaan masih menjadi kewenangan pihak berwenang, perhatian publik kini tidak hanya tertuju pada kronologi kejadian, tetapi juga pada perusahaan dan sosok besar di baliknya.

Pham Nhat Vuong sendiri dikenal sebagai pengusaha visioner yang agresif dalam membangun masa depan transportasi hijau. Dari penjual mi instan di Ukraina hingga pemilik kerajaan bisnis bernilai ratusan triliun rupiah, kisahnya menjadi contoh transformasi bisnis global yang luar biasa.

Kini, nama Green SM bukan hanya dikenal sebagai layanan taksi online berbasis listrik, tetapi juga bagian dari jaringan bisnis besar yang dipimpin salah satu orang terkaya di dunia. Di tengah insiden Bekasi yang mengguncang, publik pun semakin mengenal bahwa di balik armada hijau kebiruan tersebut berdiri kekuatan finansial besar bernama Pham Nhat Vuong.

Load More