- Petani di Desa Karanglo, Klaten menghadapi masalah penurunan kesuburan tanah dan ketidakpastian iklim akibat pola pertanian konvensional.
- PT Tirta Investama Klaten membina program pertanian regeneratif untuk memulihkan kesehatan tanah dan meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi.
- Program ini melibatkan 309 petani di kawasan Sub-DAS Pusur guna memperkuat ketahanan lingkungan serta produktivitas hasil pertanian lokal.
“Tanah itu seperti spons. Kalau bahan organiknya baik, dia bisa menyimpan air lebih lama,” ujarnya.
Melalui sistem ini, petani mulai mengurangi ketergantungan terhadap pola lama dan memperbanyak penggunaan bahan organik agar struktur tanah kembali sehat.
Perubahan paling terasa terjadi saat musim kemarau. Tanah yang sebelumnya cepat mengering kini mampu mempertahankan kelembapan lebih lama.
Tidak hanya itu, pola pengairan juga mulai diubah. Jika sebelumnya sawah terus-menerus digenangi air, kini air dialirkan secara berselang.
“Ada waktunya diairi, ada waktunya dikeringkan,” kata Lilik.
Cara ini membuat penggunaan air lebih efisien sekaligus membantu mengurangi konflik perebutan air antarpetani.
Menurut Lilik, sawah sebenarnya bukan sekadar tempat menanam padi. Di dalamnya ada kehidupan yang saling berkaitan.
“Di sawah itu ada ekosistem,” ujarnya.
Ketika kondisi tanah membaik, organisme alami perlahan kembali muncul. Keanekaragaman hayati yang terjaga membantu mengendalikan hama secara alami tanpa ketergantungan berlebihan pada bahan kimia.
Baca Juga: Cekik Industri Tembakau Sama Saja 'Bunuh' 6 Juta Pekerja, Wamenaker: Negara Belum Siap!
“Kalau keanekaragaman hayati terjaga, musuh alami hama juga akan banyak,” katanya.
Dari Sawah ke Ketahanan Lingkungan
Pendekatan pertanian regeneratif yang dijalankan di Klaten tidak hanya berfokus pada hasil panen, tetapi juga keberlanjutan lingkungan.
Stakeholder Relation Manager AQUA Klaten, Rama Zakaria, mengatakan program tersebut hingga kini telah melibatkan 309 petani di 10 desa di kawasan Sub-DAS Pusur.
Luas lahan budidaya padi sehat yang dikelola mencapai lebih dari 45 hektare. Selain itu, dilakukan pula normalisasi jaringan irigasi sepanjang lebih dari 6.000 meter yang memberi manfaat bagi lebih dari 900 petani.
Menurut Rama, pendekatan regenerative farming dijalankan melalui beberapa prinsip utama, mulai dari pengolahan tanah minimal, pengurangan penggunaan pupuk dan pestisida kimia, pemanfaatan bahan organik, hingga manajemen air yang lebih efisien melalui sistem irigasi berselang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
6 Sunscreen Moisturizer SPF 50 Sat Set untuk Busy Morning, Diperkaya Collagen dan Ceramide
-
7 Lip Balm dengan SPF untuk Bibir Gelap dan Kering, Jadi Lembap Seharian
-
14 Mei Libur Apa? Ini Daftar Tanggal Merah dan Cuti Bulan Mei 2026
-
Sunscreen yang Bagus SPF Berapa? Ini Penjelasan Dokter dan 6 Rekomendasinya
-
Menjaga Sungai dari Hulu ke Hilir: Cerita Pusur Institute Ajak Anak Muda Rawat DAS Pusur di Klaten
-
3 Bedak High End yang Tahan Lama untuk Makeup Kondangan, Bikin Wajah Lebih Halus
-
Kapan Sidang Isbat Idul Adha 2026? Ini Jadwal Resminya
-
Meniatkan Kurban Satu Ekor Kambing untuk Satu Keluarga, Bolehkah?
-
Apa Zodiak Ahmad Dhani? Ini Karakter dan Peruntungannya
-
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?