Suara.com - Kebijakan iklim di Indonesia dinilai belum inklusif karena masih minim melibatkan anak-anak dan remaja dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini mengemuka dalam Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Jakarta Summit 2026 yang menyoroti pentingnya menghadirkan perspektif anak dalam merespons krisis iklim.
Riset kolaboratif antara PUSKAPA UI dan Indonesia Project-ANU menemukan bahwa selama ini perspektif anak-anak cenderung terabaikan dalam pembuatan kebijakan mitigasi. Mereka sering kali tidak memiliki ruang dalam forum pengambilan keputusan formal. Suara anak-anak dianggap kurang kredibel oleh orang dewasa.
“Jika ada forum di wilayahnya yang bertujuan membahas krisis iklim, misalnya dalam bentuk pertemuan RT, mereka tidak bisa terlibat membagikan perspektifnya,” kata Widi dari PUSKAPA Universitas Indonesia.
Kesenjangan kian diperparah dengan terbatasnya kemampuan anak untuk membahasakan situasi krisis yang mereka alami. Padahal, anak-anak memerlukan bantuan untuk membahasakan dampak iklim yang mereka rasakan agar dapat berkontribusi dalam solusi.
Inklusivitas Perlu Dipertimbangkan
Selain pengakuan suara, isu inklusivitas di bidang pendidikan juga menjadi sorotan yang tajam. Data dari Komisi Nasional Disabilitas menunjukkan bahwa tingkat partisipasi sekolah bagi penyandang disabilitas usia sekolah hanya mencapai 4 persen.
Ini berarti sebagian besar anak disabilitas di luar sekolah tidak terjangkau oleh kurikulum pendidikan iklim formal yang saat ini sedang dikembangkan pemerintah.
Ketua Komisi Nasional Disabilitas, Dante Rigmalia, menegaskan kondisi ini. “Dalam situasi tersebut, upaya mendorong pendidikan iklim yang inklusif, termasuk bagi anak dan remaja penyandang disabilitas yang tidak mengenyam sekolah formal, perlu dieksplorasi,” papar Dante.
Sebagai solusi, KIE Jakarta Summit merekomendasikan perlunya memperluas definisi dampak perubahan iklim yang tidak hanya terbatas pada perubahan-perubahan besar. Hal ini ditegaskan supaya dapat mencakup semua fenomena yang terjadi dan sering kali terlewat untuk diperhatikan.
Baca Juga: Putar Lagu Anak Indonesia Saat Live, Cardi B Ngaku Anaknya Ketagihan Pok Ame Ame
Dengan ini, koordinasi lintas sektor dan penguatan perlindungan sosial sangat diperlukan. Melalui pemberian ruang bagi suara anak dan kelompok disabilitas, kebijakan iklim Indonesia diharapkan dapat menjadi lebih relevan dan adil bagi seluruh lapisan masyarakat.
Penulis: Vicka Rumanti
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Terbaru 2026 Baterai Jumbo 10.000 mAh: Tahan 3 Hari, Performa Kencang
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- Promo Indomaret Hari Ini 1 Mei 2026, Dapatkan Produk Hemat 30 Persen
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
Pilihan
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
Terkini
-
Duka di Balik Jas Putih: Mengapa Dokter Internship Indonesia Bertumbangan?
-
Racun Tikus di Makanan Bayi Geger di Austria, Publik Panik Hingga Penarikan Besar-besaran Produk
-
Ketua Yayasan Daycare Little Aresha Ternyata Residivis Korupsi, Polisi Bongkar Peran Gandanya!
-
DPR Ingatkan Risiko Hibah Kapal Induk Italia, Biaya Perawatan Tembus Rp 101 Miliar per Tahun
-
Ahmad Dhani Datangi Bareskrim Usai Akun Instagramnya Mendadak Hilang
-
Kasus LNG, 2 Eks Pejabat Pertamina Divonis 4,5 dan 3,5 Tahun Penjara
-
Singgung Privasi Prabowo, Said Abdullah PDIP Sarankan Amien Rais Minta Maaf Secara Ksatria
-
Datang ke Sidang dengan Infus, Nadiem Minta Status Penahanan Dialihkan
-
Peringatan Hardiknas 2026: Wamendagri Wiyagus Tekankan Tiga Fondasi Strategis Pendidikan Bermutu
-
Babak Baru Pengelolaan Sampah Jakarta: Dari Sanksi Warga Hingga Kewajiban Diskon Makanan