- Film Pesta Babi mendokumentasikan perlawanan masyarakat adat di Papua Selatan terhadap proyek strategis nasional yang mengancam tanah ulayat.
- Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale berkolaborasi selama empat tahun untuk memproduksi karya investigatif mengenai deforestasi tersebut.
- Karya ini menyoroti dampak ekspansi perkebunan terhadap lingkungan sekaligus memicu debat nasional tentang keadilan bagi kelompok masyarakat adat.
Penelitiannya berbasis kerja lapangan etnografi dan arsip di Papua Barat.
Ia pernah menjadi post-doctoral fellow di Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Kyoto University (2020-2022) dan memiliki afiliasi dengan University of Wisconsin-Madison.
Minat penelitiannya meliputi politik pembangunan, transformasi endogen, antropologi Kristen, gerakan sosial, dan hubungan antar-spesies, dengan fokus Papua dan Flores.
Sebelumnya, Cypri terlibat dalam NGO Sunspirit for Justice and Peace di Indonesia Timur. Keahliannya dalam isu kolonialisme, konflik agraria, dan perlawanan masyarakat adat sangat relevan untuk Pesta Babi.
Ia membawa perspektif antropologis mendalam, menjelaskan bagaimana pembangunan sering menjadi alat kekuasaan eksternal yang bertabrakan dengan aspirasi masyarakat lokal.
Kolaborasi dan Dampak Film
Kolaborasi Dandhy (jurnalis investigasi) dan Cypri (antropolog) menciptakan keseimbangan antara narasi visual kuat dan analisis mendalam.
Film ini tidak hanya dokumentasi, tapi juga panggilan untuk refleksi tentang "kolonialisme di zaman kita" melalui proyek pembangunan besar di Papua.
Pemutaran film sempat menuai kontroversi, dengan beberapa nobar dibubarkan, yang justru meningkatkan minat publik.
Baca Juga: Bagaimana Cara Menonton Film Pesta Babi? Ini Syarat dan Prosedurnya
Melalui Pesta Babi, keduanya menunjukkan komitmen terhadap kebenaran dan advokasi hak masyarakat adat.
Dandhy membawa pengalaman sinematiknya, sementara Cypri menyumbang kedalaman etnografis. Karya ini memperkaya diskursus nasional tentang pembangunan berkelanjutan, hak tanah, dan masa depan Papua.
Di tengah polarisasi, profil Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale mengingatkan pentingnya jurnalisme independen dan penelitian akademis yang berani. Film Pesta Babi garapan mereka bukan sekadar hiburan, melainkan alat untuk memahami realitas kompleks di ujung timur Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
-
Aksi Mahasiswa Dibatasi hingga UOB Plaza, Polda Metro Siagakan 9.242 Personel
-
Jelang Demo Mahasiswa Hari ini, 21 Orang Bawa Bom Molotov Ditangkap Polisi
Terkini
-
13 Terdakwa Little Aresha Akhirnya Disidang, Orang Tua Korban Desak 4 Pelaku Lain Diproses Hukum
-
Ketika Video Kekerasan Pelajar Kembali Viral, Siapa yang Sebenarnya Gagal Melindungi Mereka?
-
Dua Pria di Satu Atap: Mengurai Jarak dan Gengsi Antara Anak dan Ayah
-
Pendaki Asal Brebes Dilaporkan Jatuh ke Kawah Gunung Slamet saat Swafoto
-
Daftar HP Samsung yang Tak Lagi Dapat Security dan Android Update Tahun Ini
-
Rupiah Takluk Lawan Dolar AS Hari Ini di Level Rp17.844
-
"Paket Santet" Hadirkan Teror Lewat Kiriman Online dan Dendam Masa Lalu
-
Detik-detik Kapolsek dan Danramil Cicalengka Dipukuli Peserta Karnaval, Pelaku Ditangkap
-
Perpres Ojol Masuk Tahap Finalisasi, DPR dan Pemerintah Masih Berkoordinasi
-
56 Ribu Anak Sleman Diskrining Kesehatan: Hipertensi, Prediabetes hingga Depresi Berat Ditemukan