- Cypri Dale, seorang antropolog dan aktivis, berkolaborasi dengan Dandhy Laksono menyutradarai dokumenter investigatif berjudul Pesta Babi.
- Film tersebut menyoroti dampak negatif proyek pembangunan skala besar terhadap kehidupan masyarakat adat di Papua Selatan.
- Dokumenter ini viral pada Mei 2026 setelah mengalami pembubaran paksa saat agenda nonton bareng di berbagai daerah.
Salah satu bagian yang paling banyak disorot dalam film adalah tradisi pesta babi masyarakat suku Muyu yang dijadikan simbol hubungan erat masyarakat adat dengan tanah dan hutan mereka.
Kenapa Film Pesta Babi Viral?
Film Pesta Babi mulai mendapat perhatian luas pada Mei 2026 setelah sejumlah acara nonton bareng dan diskusi publik di beberapa daerah mengalami pembubaran dan penolakan.
Beberapa screening kampus dan komunitas di daerah seperti Mataram dan Ternate disebut menghadapi penghentian paksa oleh pihak tertentu. Situasi itu justru membuat rasa penasaran publik terhadap dokumenter tersebut semakin besar.
Selain karena kontroversinya, banyak masyarakat juga tertarik karena film ini mengangkat isu eksploitasi hutan Papua yang selama ini jarang dibahas secara mendalam di ruang publik nasional.
Aktivis dan Peneliti yang Fokus pada Papua
Di luar dunia film, Cypri Dale dikenal aktif dalam kerja-kerja penelitian dan advokasi terkait masyarakat adat Papua.
Ia kerap menyoroti bagaimana pembangunan industri dan kebijakan ekonomi dapat berdampak langsung pada kehidupan masyarakat lokal, terutama kelompok adat yang bergantung pada hutan dan tanah leluhur.
Karena itu, keterlibatannya dalam Pesta Babi dianggap penting oleh banyak kalangan. Cypri Dale dinilai membawa perspektif orang Papua sendiri dalam dokumenter yang membahas Papua.
Baca Juga: Mengenal Tradisi Pesta Babi, Dirawat Bak Anak Sendiri Tapi Terancam Mati Karena Eksploitasi
Pendekatan tersebut membuat film Pesta Babi terasa lebih personal, emosional, sekaligus kuat secara antropologis dan sosial.
Kini, nama Cypri Dale semakin dikenal luas sebagai salah satu intelektual muda Papua yang aktif menggabungkan riset akademik, dokumenter visual, dan advokasi masyarakat adat dalam karya-karyanya.
Berita Terkait
-
Mengenal Tradisi Pesta Babi, Dirawat Bak Anak Sendiri Tapi Terancam Mati Karena Eksploitasi
-
Film Pesta Babi Tayang Kapan? Jadwal Nobar Disebar Mendadak
-
Link Nonton Film Pesta Babi Gratis, Tinggal Isi Google Form Ini
-
Film Pesta Babi Tayang di Mana? Begini Cara Nonton Resminya
-
Terpopuler: Prosedur Nonton Film Pesta Babi, 11 Cara Beli Tiket Konser The Weeknd via MyBCA
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
HUT RI ke-81, Tradisi Panjat Pinang Kembali Meriahkan Kalimalang
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?