Lifestyle / Komunitas
Jum'at, 22 Mei 2026 | 11:30 WIB
Generasi muda dalam di Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (27/9/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Krisis iklim semakin dekat dengan kehidupan anak muda. Dampaknya tidak hanya dirasakan melalui cuaca yang semakin panas, tetapi juga memengaruhi kualitas hidup, kesehatan, pendidikan, hingga rasa aman terhadap masa depan.

Menurut laporan UNICEF tahun 2021, sekitar satu miliar anak di dunia hidup dalam risiko sangat tinggi terhadap dampak krisis iklim. Anak muda dinilai menjadi kelompok yang paling rentan karena masih berada dalam tahap perkembangan fisik dan psikologis, sementara kemampuan mereka untuk beradaptasi terhadap kondisi lingkungan yang semakin ekstrem masih terbatas.

Dalam diskusi peluncuran buku Climate Change, Labour and Migration in Indonesia, Head of Research PUSKAPA UI, Widi Lara Sari, mengatakan banyak anak muda sebenarnya telah merasakan dampak perubahan iklim dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, mereka sering kali tidak menyadari bahwa pengalaman tersebut berkaitan dengan krisis iklim dan ketidakadilan lingkungan.

“Tentu saja, mereka tidak dapat menghubungkan apa yang mereka alami dengan perubahan iklim. Terlebih lagi, mereka tidak mempunyai bahasa yang dapat menjelaskan hal ini sebagai ketidakadilan,” ujar Widi.

Aktivitas Berubah karena Panas Ekstrem

Salah satu riset PUSKAPA yang dilakukan di kawasan Rawa Badak, Jakarta Utara, menemukan bahwa suhu lingkungan yang semakin panas telah memengaruhi pola aktivitas anak muda. Kawasan tersebut mengalami fenomena urban heat island, yaitu peningkatan suhu akibat kepadatan bangunan dan minimnya ruang terbuka hijau.

Menurut Widi, kondisi panas yang terjadi hampir setiap hari membuat banyak anak muda menyesuaikan jadwal kegiatan mereka.

“Apa yang mereka rasakan, ini panas, dan setiap hari panas,” katanya.

Baca Juga: Eco-Friendly Mahal: Tantangan Anak Muda yang Ingin Peduli Lingkungan

Akibatnya, sebagian anak muda memilih beraktivitas pada sore atau malam hari ketika suhu mulai menurun.

“Mereka melakukan beberapa aktivitas di sore hari sambil menunggu panas mereda,” tambahnya.

Lingkungan Memburuk dan Tekanan Ekonomi Keluarga

Selain suhu yang meningkat, penelitian tersebut juga menemukan persoalan kualitas lingkungan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari anak muda. Warga menghadapi kondisi air yang tercemar sehingga berdampak pada kesehatan dan kenyamanan hidup.

“Air yang mereka gunakan juga tercemar, ada air laut, ada air gas. Itulah situasi yang harus mereka hadapi,” ujar Widi.

Dampak krisis iklim juga dirasakan melalui ketidakpastian ekonomi keluarga, terutama di wilayah pesisir. Perubahan lingkungan dan menurunnya hasil tangkapan laut membuat sebagian keluarga kehilangan sumber penghasilan atau mengalami penurunan pendapatan.

Load More