Suara.com - Krisis iklim semakin dekat dengan kehidupan anak muda. Dampaknya tidak hanya dirasakan melalui cuaca yang semakin panas, tetapi juga memengaruhi kualitas hidup, kesehatan, pendidikan, hingga rasa aman terhadap masa depan.
Menurut laporan UNICEF tahun 2021, sekitar satu miliar anak di dunia hidup dalam risiko sangat tinggi terhadap dampak krisis iklim. Anak muda dinilai menjadi kelompok yang paling rentan karena masih berada dalam tahap perkembangan fisik dan psikologis, sementara kemampuan mereka untuk beradaptasi terhadap kondisi lingkungan yang semakin ekstrem masih terbatas.
Dalam diskusi peluncuran buku Climate Change, Labour and Migration in Indonesia, Head of Research PUSKAPA UI, Widi Lara Sari, mengatakan banyak anak muda sebenarnya telah merasakan dampak perubahan iklim dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, mereka sering kali tidak menyadari bahwa pengalaman tersebut berkaitan dengan krisis iklim dan ketidakadilan lingkungan.
“Tentu saja, mereka tidak dapat menghubungkan apa yang mereka alami dengan perubahan iklim. Terlebih lagi, mereka tidak mempunyai bahasa yang dapat menjelaskan hal ini sebagai ketidakadilan,” ujar Widi.
Aktivitas Berubah karena Panas Ekstrem
Salah satu riset PUSKAPA yang dilakukan di kawasan Rawa Badak, Jakarta Utara, menemukan bahwa suhu lingkungan yang semakin panas telah memengaruhi pola aktivitas anak muda. Kawasan tersebut mengalami fenomena urban heat island, yaitu peningkatan suhu akibat kepadatan bangunan dan minimnya ruang terbuka hijau.
Menurut Widi, kondisi panas yang terjadi hampir setiap hari membuat banyak anak muda menyesuaikan jadwal kegiatan mereka.
“Apa yang mereka rasakan, ini panas, dan setiap hari panas,” katanya.
Baca Juga: Eco-Friendly Mahal: Tantangan Anak Muda yang Ingin Peduli Lingkungan
Akibatnya, sebagian anak muda memilih beraktivitas pada sore atau malam hari ketika suhu mulai menurun.
“Mereka melakukan beberapa aktivitas di sore hari sambil menunggu panas mereda,” tambahnya.
Lingkungan Memburuk dan Tekanan Ekonomi Keluarga
Selain suhu yang meningkat, penelitian tersebut juga menemukan persoalan kualitas lingkungan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari anak muda. Warga menghadapi kondisi air yang tercemar sehingga berdampak pada kesehatan dan kenyamanan hidup.
“Air yang mereka gunakan juga tercemar, ada air laut, ada air gas. Itulah situasi yang harus mereka hadapi,” ujar Widi.
Dampak krisis iklim juga dirasakan melalui ketidakpastian ekonomi keluarga, terutama di wilayah pesisir. Perubahan lingkungan dan menurunnya hasil tangkapan laut membuat sebagian keluarga kehilangan sumber penghasilan atau mengalami penurunan pendapatan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 6 Sunscreen Pencerah di Indomaret yang Worth It Masuk Keranjang Belanja
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
Empat Siswa dari Wolo Raih Beasiswa ke Sekolah Unggulan, Potret Pentingnya Pemerataan Pendidikan
-
Mencukur atau Mencabut Bulu Ketiak, Mana yang Lebih Aman?
-
Seni Komunikasi di Dunia Kerja: Mengubah Obrolan Biasa Jadi Pelayanan yang Bikin Pelanggan Nyaman
-
Bukan Sekadar Tren, Ini Bukti Kuliner Nusantara Kini Jadi 'Raja' di Negeri Sendiri
-
4 Cara Atasi Aliran Air yang Kecil setelah Pasang Filter Air, Kembali Deras dan Jernih
-
Sunblock Marina Berapa Harganya? Ini Kandungan, Manfaat, dan Review Pengguna
-
Lampu untuk Kamar Tidur Berapa Watt? Begini Cara Menghitungnya agar Pas
-
Apakah Covering Cream Viva Mengandung SPF? Cek Fakta dan Cara Pakai yang Benar
-
5 Dispenser Galon Bawah Low Watt untuk Rumah Daya Listrik 450 Watt
-
Nelayan di Toli-Toli Sulit Jangkau Ikan Bernilai Tinggi, Bisakah Rumpon Portabel Jadi Solusi?