- Desain kini berfungsi sebagai alat pemecahan masalah strategis untuk meningkatkan efisiensi dan pertumbuhan bisnis secara global.
- Talenta kreatif masa kini dituntut menguasai pemahaman pengguna serta pengambilan keputusan berbasis data dan riset nyata.
- School of Design BINUS University membekali mahasiswa melalui pembelajaran proyek demi menghasilkan solusi relevan bagi industri.
Suara.com - Desain kini tidak lagi dipandang sebatas urusan membuat sesuatu terlihat menarik. Di tengah perkembangan teknologi dan persaingan bisnis yang semakin ketat, desain semakin diakui sebagai alat untuk memecahkan masalah, memahami kebutuhan pengguna, sekaligus mendorong pertumbuhan perusahaan.
Perubahan cara pandang ini terlihat dalam berbagai industri, mulai dari teknologi, layanan digital, hingga produk konsumen. Penelitian global yang dilakukan McKinsey terhadap ratusan perusahaan menunjukkan bahwa organisasi yang menempatkan desain sebagai bagian inti dalam pengambilan keputusan bisnis mampu tumbuh lebih cepat dibanding rata-rata industri.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa desain tidak hanya berpengaruh pada tampilan produk, tetapi juga pada pengalaman pengguna, efisiensi layanan, dan keberhasilan bisnis secara keseluruhan.
Transformasi tersebut semakin relevan di era kecerdasan buatan (AI). Ketika berbagai perangkat AI generatif mampu menghasilkan gambar, ilustrasi, hingga aset visual dalam waktu singkat, nilai seorang desainer tidak lagi terletak pada kemampuan teknis semata.
Yang semakin dibutuhkan adalah kemampuan memahami persoalan, menerjemahkan kebutuhan pengguna, serta merancang solusi yang dapat memberikan dampak nyata.
Kebutuhan tersebut juga terlihat dalam perkembangan industri kreatif Indonesia. Sektor ekonomi kreatif mencatat pertumbuhan yang terus meningkat dan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi nasional.
Namun, di balik pertumbuhan tersebut, industri membutuhkan talenta yang tidak hanya menguasai perangkat desain, tetapi juga mampu bekerja lintas disiplin, memahami perilaku pengguna, serta mengambil keputusan kreatif berdasarkan riset dan data.
Dekan School of Design BINUS University, Danendro Adi, mengatakan tantangan utama yang dihadapi dunia desain saat ini adalah bagaimana menghasilkan solusi yang relevan bagi masyarakat dan industri.
“Kami mendidik desainer yang bisa menjelaskan mengapa sebuah keputusan kreatif akan memberikan solusi dari sebuah permasalahan, bukan hanya membuatnya terlihat bagus,” ujarnya.
Baca Juga: Teater Jaran Abang: Ketika Etika dan Estetika Dijaga Bersama di Atas Panggung
Pendekatan tersebut diterapkan melalui pembelajaran berbasis proyek yang menempatkan mahasiswa pada situasi yang menyerupai dunia kerja. Mahasiswa tidak hanya membuat karya visual, tetapi juga menyelesaikan tantangan nyata dari klien, mengembangkan identitas merek, merancang pengalaman pengguna, hingga berkolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu.
Pendekatan desain sebagai alat pemecahan masalah juga semakin penting dalam berbagai isu kehidupan sehari-hari. Desain digunakan untuk menciptakan layanan publik yang lebih mudah diakses, aplikasi digital yang lebih ramah pengguna, hingga kampanye sosial yang mampu mengubah perilaku masyarakat.
Dalam konteks ini, keberhasilan desain diukur bukan dari keindahan visual semata, melainkan dari kemampuannya menjawab kebutuhan dan memberikan manfaat bagi pengguna.
Pengakuan industri terhadap pendekatan tersebut tercermin dalam QS World University Rankings by Subject 2026 bidang Art & Design, yang menempatkan School of Design BINUS University pada posisi kedua di Indonesia untuk indikator Employer Reputation.
Indikator ini mengukur tingkat kepercayaan pemberi kerja terhadap kualitas lulusan berdasarkan penilaian ribuan rekruter dan pelaku industri di berbagai negara. Bagi dunia pendidikan maupun industri kreatif, perkembangan ini menunjukkan bahwa masa depan profesi desain akan semakin erat dengan kemampuan berpikir kritis, memahami manusia, dan merancang solusi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
6 Shio Paling Beruntung pada 8 Juli 2026, Hoki Menghampiri Sepanjang Hari
-
Apa Itu Teknik Baking dalam Makeup? Ini Caranya agar Riasan Tahan Lama
-
Review Viva Velvet Cushion yang Cuma Rp70 Ribuan: Hasilnya Flawless dan Samarkan Pori-Pori
-
Dari Matras ke Yacht, Tren Gaya Hidup Sehat Kini Hadir dengan Cara yang Lebih Seru
-
Apa Bedanya Tone Up Cream dan Moisturizer? Sering Dianggap Sama Padahal Fungsinya Beda
-
Beda Cushion Emina Hijau dan Ungu: Intip Kandungan, Manfaat, dan Harganya
-
Ramalan Horoskop 8 Juli 2026, 3 Zodiak Ini Bakal Diselimuti Keberuntungan
-
Budget Rp35 Ribuan Dapat Serum Apa? Ini 3 Pilihan untuk Kulit Glowing dan Cerah
-
5 Alasan Mengapa Sepatu Jalan Kaki Tidak Cocok Dipakai Lari, Dampaknya Bisa Fatal
-
5 Pilihan Micellar Water Lokal Ukuran Besar yang Murah, Bisa Awet untuk Berbulan-bulan