Lifestyle / Female
Selasa, 26 Mei 2026 | 18:36 WIB
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin dr. Hafiza Fikri, Sp.DVE, FINSDV, PGC. (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)
Baca 10 detik
  • Fenomena kulit sensitif meningkat akibat gaya hidup dan pengaruh tren perawatan kulit di media sosial.
  • Studi global menunjukkan prevalensi kulit sensitif mencapai 71 persen yang dipicu kerusakan lapisan pelindung serta faktor polusi udara.
  • Dokter Hafiza Fikri mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan produk secara berlebihan dan lebih bijak mengikuti tren perawatan kulit.

Menurut dr. Hafiza, kondisi ini diperparah dengan menjamurnya klinik kecantikan dan praktik perawatan kulit yang tidak selalu dilakukan oleh tenaga profesional yang kompeten.

Akibatnya, banyak pasien justru mengalami kerusakan skin barrier atau lapisan pelindung kulit akibat treatment yang terlalu keras.

Meningkatnya kasus kulit sensitif akibat perawatan keliru yang hanya berasaskan tren viral membuktikan pentingnya edukasi publik seperti kegiatan ISISPHARMA Dermfluencer Movement pada 14 Mei 2026.

Kegiatan edukasi ini menghadirkan kolaborasi antara dokter dan pembicara eksternal di bidang strategi digital untuk membahas strategi personal branding, patient engagement, hingga membangun kepercayaan pasien di era digital.

“Kita harus bersama-sama mempertahankan produk berkualitas, mengedukasi, dan bertanggung jawab terhadap produk yang ditawarkan,” ujar Emmy.

Secara ilmiah, kulit sensitif merupakan kondisi ketika kulit memberikan respons berlebihan terhadap rangsangan yang sebenarnya normal.

Gejalanya dapat berupa rasa perih, panas, gatal, kencang, hingga kemerahan. Penelitian dalam Frontiers in Medicine menyebut kondisi ini berkaitan dengan gangguan fungsi skin barrier dan peningkatan sensitivitas saraf kulit.

Selain tren skincare berlapis atau skin cycling, faktor eksternal seperti polusi udara dan perubahan iklim juga diduga memperparah kondisi kulit masyarakat urban.

Paparan polusi dapat meningkatkan stres oksidatif pada kulit sehingga memperlemah lapisan pelindung kulit dan memicu iritasi lebih mudah terjadi.

Baca Juga: Gen Z dan Tren Mindful Buying: Cara Anak Muda Mengatur Napas Finansial di Tengah Ketidakpastian

Karena itu, Hafiza mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak memilih produk skincare dan tidak mudah tergoda tren viral di media sosial.

Ia menyarankan masyarakat memahami kondisi kulit masing-masing sebelum mencoba bahan aktif tertentu.

“Tidak semua yang viral cocok dipakai semua orang. Kulit sensitif itu harus diperlakukan lebih hati-hati,” kata dr. Hafiza.

Load More