Lifestyle / Male
Selasa, 02 Juni 2026 | 13:25 WIB
Dino Patti Djalal (dok. Indonesia Economic Summit 2026)
Baca 10 detik
  • Dino Patti Djalal mengkritik frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
  • Menurutnya, frekuensi kunker Prabowo dianggap tidak lazim dan membebani anggaran negara.
  • Dino menyarankan Presiden mengurangi perjalanan teknis dan memaksimalkan diplomasi virtual.

Selain itu, Dino mendorong diplomasi virtual, menerima lebih banyak tamu negara di Indonesia, serta meningkatkan transparansi dan perencanaan kunjungan.

Kritik Dino memicu respons dari Istana. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan pihak Gerindra membalas dengan menjelaskan bahwa kunjungan Prabowo membawa hasil konkret bagi kepentingan nasional, rombongan lebih ramping, yaitu 50-60 orang dibanding lebih dari 120 orang pada era sebelumnya, dan sebagian biaya ditanggung pribadi.

Meski demikian, banyak pihak mengapresiasi masukan Dino sebagai suara kritis dari kalangan profesional yang peduli efisiensi negara.

Sebagai alumnus LSE yang pernah mendalami teori hubungan internasional, Dino Patti Djalal memahami betapa pentingnya diplomasi tingkat tinggi. Namun, ia juga menekankan keseimbangan antara proyeksi internasional dan kebutuhan rakyat di dalam negeri.

Load More