- Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menanggapi kritik Dino Patti Djalal mengenai intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
- Teddy menegaskan biaya kelebihan perjalanan ditanggung pribadi oleh Presiden dan jumlah rombongan delegasi telah dipangkas signifikan secara drastis.
- Pemerintah menyatakan kunjungan tersebut merupakan langkah strategis untuk membangun diplomasi serta kepercayaan internasional di tengah situasi global dinamis.
Suara.com - Kritik Dino Patti Djalal terhadap intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto mendapat tanggapan langsung dari Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.
Melalui video yang diunggah akun Instagram Sekretariat Kabinet, Teddy menjelaskan sejumlah hal yang menurutnya perlu diluruskan, mulai dari biaya perjalanan Presiden, jumlah rombongan yang menyertai, hingga alasan di balik padatnya agenda diplomasi luar negeri Prabowo.
Teddy membuka penjelasannya dengan mengapresiasi masukan Dino.
"Terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan," tutur Teddy dikutip Suara.com, Selasa (2/6/2026).
Namun Teddy menilai ada sejumlah fakta yang perlu dijelaskan kepada publik agar tidak muncul persepsi keliru mengenai aktivitas diplomasi Presiden.
Salah satu yang disorot ialah anggapan bahwa lawatan luar negeri Prabowo menghabiskan anggaran negara dalam jumlah besar.
Menurut Teddy, setiap kelebihan biaya di luar anggaran resmi negara ditanggung langsung oleh Prabowo secara pribadi.
Tak hanya itu, Teddy juga membantah kritik soal besarnya jumlah rombongan yang mendampingi Presiden dalam kunjungan luar negeri.
Ia mengklaim jumlah delegasi saat ini telah dipangkas lebih dari separuh dibanding periode pemerintahan sebelumnya.
Baca Juga: Prabowo-Megawati Asyik Masyuk di Gedung Pancasila, Kenapa Jokowi Tak Diundang?
Teddy menyebut rombongan Presiden kini berkisar 50 hingga 60 orang dalam satu kunjungan. Jumlah tersebut, kata dia, jauh lebih kecil dibanding masa lalu yang bisa mencapai lebih dari 120 orang dalam satu lawatan.
Teddy juga menjawab usulan Dino agar agenda kunjungan luar negeri Presiden diumumkan jauh-jauh hari. Menurutnya, situasi global saat ini bergerak sangat cepat sehingga tidak semua agenda dapat direncanakan secara kaku.
Ia mencontohkan berbagai konflik dan ketegangan internasional yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari perang di Ukraina hingga gejolak di Timur Tengah.
Dalam situasi seperti itu, menurut Teddy, seorang kepala negara harus mampu bergerak cepat menyesuaikan perkembangan.
Lebih jauh, Teddy menilai kritik yang hanya melihat jumlah perjalanan Presiden ke luar negeri tanpa memahami tujuan diplomatik di baliknya berisiko mengabaikan kepentingan strategis Indonesia.
Ia menegaskan bahwa hubungan antarnegara tidak dibangun ketika krisis sudah terjadi, melainkan jauh sebelumnya melalui komunikasi dan kedekatan antarpemimpin dunia.
Karena itu, menurut Teddy, kunjungan luar negeri Presiden tidak bisa semata-mata dipandang sebagai kegiatan seremonial atau pencitraan. Ia juga menyebut diplomasi membutuhkan hubungan personal dan kepercayaan yang dibangun secara konsisten.
"Jadi salah besar, kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial," jelas Teddy.
Ia juga meminta publik melihat hasil yang telah dicapai dari berbagai lawatan luar negeri Presiden selama sekitar satu setengah tahun terakhir, bukan hanya menghitung frekuensi perjalanan yang dilakukan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Stasiun Pengisian Daya Kendaraan Listrik Cepat Bertambah di Jakarta, Isi Daya Hanya 15 Menit
-
Frans Putros Hengkang, Ini Respon Pelatih Persib Bandung
-
Mau Punya Rumah Murah? Intip Program BRI KPR Solusi dengan Harga di Bawah Pasar
-
Purbaya Serahkan Becak Listrik di Yogyakarta buat Pariwisata Ramah Lingkungan
-
Likuiditas Masih Melimpah, Perbankan Masih Leluasa Salurkan Kredit
-
Inovasi Produk Water Based Rendah Emisi Ciptakan Kualitas Ramah Udara
-
Citra Koperasi Dirombak, Regenerasi Ada di Tangan Gen Z
-
Bikin Jenderal Cengar-cengir, Prabowo Tanya Panglima TNI dan Kapolri Soal Potong Anggaran: Rela?
-
Tak Sekadar Antar BBM, Truk Tangki Pertamina Dipantau 24 Jam Nonstop
-
Ketimpangan Jejak Karbon: Emisi Orang Kaya di Balik Kampanye Go Green