News / Nasional
Selasa, 02 Juni 2026 | 09:12 WIB
Prabowo dan Teddy Indra Wijaya [X]
Baca 10 detik
  • Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menanggapi kritik Dino Patti Djalal mengenai intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
  • Teddy menegaskan biaya kelebihan perjalanan ditanggung pribadi oleh Presiden dan jumlah rombongan delegasi telah dipangkas signifikan secara drastis.
  • Pemerintah menyatakan kunjungan tersebut merupakan langkah strategis untuk membangun diplomasi serta kepercayaan internasional di tengah situasi global dinamis.

Suara.com - Kritik Dino Patti Djalal terhadap intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto mendapat tanggapan langsung dari Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.

Melalui video yang diunggah akun Instagram Sekretariat Kabinet, Teddy menjelaskan sejumlah hal yang menurutnya perlu diluruskan, mulai dari biaya perjalanan Presiden, jumlah rombongan yang menyertai, hingga alasan di balik padatnya agenda diplomasi luar negeri Prabowo.

Teddy membuka penjelasannya dengan mengapresiasi masukan Dino.

"Terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan," tutur Teddy dikutip Suara.com, Selasa (2/6/2026).

Namun Teddy menilai ada sejumlah fakta yang perlu dijelaskan kepada publik agar tidak muncul persepsi keliru mengenai aktivitas diplomasi Presiden.

Salah satu yang disorot ialah anggapan bahwa lawatan luar negeri Prabowo menghabiskan anggaran negara dalam jumlah besar.

Menurut Teddy, setiap kelebihan biaya di luar anggaran resmi negara ditanggung langsung oleh Prabowo secara pribadi.

Tak hanya itu, Teddy juga membantah kritik soal besarnya jumlah rombongan yang mendampingi Presiden dalam kunjungan luar negeri.

Ia mengklaim jumlah delegasi saat ini telah dipangkas lebih dari separuh dibanding periode pemerintahan sebelumnya.

Baca Juga: Prabowo-Megawati Asyik Masyuk di Gedung Pancasila, Kenapa Jokowi Tak Diundang?

Teddy menyebut rombongan Presiden kini berkisar 50 hingga 60 orang dalam satu kunjungan. Jumlah tersebut, kata dia, jauh lebih kecil dibanding masa lalu yang bisa mencapai lebih dari 120 orang dalam satu lawatan.

Teddy juga menjawab usulan Dino agar agenda kunjungan luar negeri Presiden diumumkan jauh-jauh hari. Menurutnya, situasi global saat ini bergerak sangat cepat sehingga tidak semua agenda dapat direncanakan secara kaku.

Ia mencontohkan berbagai konflik dan ketegangan internasional yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari perang di Ukraina hingga gejolak di Timur Tengah.

Dalam situasi seperti itu, menurut Teddy, seorang kepala negara harus mampu bergerak cepat menyesuaikan perkembangan.

Lebih jauh, Teddy menilai kritik yang hanya melihat jumlah perjalanan Presiden ke luar negeri tanpa memahami tujuan diplomatik di baliknya berisiko mengabaikan kepentingan strategis Indonesia.

Ia menegaskan bahwa hubungan antarnegara tidak dibangun ketika krisis sudah terjadi, melainkan jauh sebelumnya melalui komunikasi dan kedekatan antarpemimpin dunia.

Karena itu, menurut Teddy, kunjungan luar negeri Presiden tidak bisa semata-mata dipandang sebagai kegiatan seremonial atau pencitraan. Ia juga menyebut diplomasi membutuhkan hubungan personal dan kepercayaan yang dibangun secara konsisten.

"Jadi salah besar, kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial," jelas Teddy.

Ia juga meminta publik melihat hasil yang telah dicapai dari berbagai lawatan luar negeri Presiden selama sekitar satu setengah tahun terakhir, bukan hanya menghitung frekuensi perjalanan yang dilakukan.

Load More