Lifestyle / Komunitas
Jum'at, 05 Juni 2026 | 09:44 WIB
Tak Sekadar Teori, Ribuan Pelajar Indonesia Kini Belajar Bisnis dari Pengalaman Langsung (Dok. Istimewa)
Baca 10 detik
  • Zurich Indonesia dan Prestasi Junior Indonesia menerapkan metode pembelajaran berbasis pengalaman bagi siswa SMA dan SMK sejak Juli 2025.
  • Program ini menjangkau lebih dari 10.000 siswa di tujuh kota dengan fokus pada pengembangan keterampilan kewirausahaan serta literasi keuangan.
  • Sebanyak 35 bisnis pelajar berhasil terbentuk dengan omzet kolektif mencapai Rp339 juta melalui implementasi praktik langsung di lingkungan sekolah.

Suara.com - Metode pembelajaran di sekolah terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Jika sebelumnya siswa lebih banyak belajar melalui teori di dalam kelas, kini semakin banyak sekolah yang mengadopsi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), yaitu pendekatan yang memungkinkan siswa belajar melalui praktik langsung.

Pendekatan ini dinilai lebih relevan karena tidak hanya membantu siswa memahami materi, tetapi juga mengasah keterampilan yang dibutuhkan di dunia nyata, seperti berpikir kritis, bekerja sama, memecahkan masalah, hingga mengelola keuangan.

Tren tersebut terlihat dalam pelaksanaan Zurich Entrepreneurship Program (ZEP), program yang dijalankan oleh Zurich Indonesia, Z Zurich Foundation, dan Prestasi Junior Indonesia. Sejak Juli 2025, program ini telah menjangkau lebih dari 10.000 siswa SMA dan SMK di tujuh kota, melampaui target awal hingga 164 persen.

Melalui program ini, siswa tidak hanya mempelajari konsep kewirausahaan, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mengembangkan ide bisnis, menjalankan usaha mikro di sekolah, mengelola keuangan, serta mengenal dunia kerja secara lebih dekat. 

Hasilnya, sebanyak 35 bisnis pelajar berhasil terbentuk dengan omzet kolektif mencapai Rp339 juta.

Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, Utami Anita Herawati, mengatakan tingginya antusiasme sekolah menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman semakin diminati.

“Implementasi Zurich Entrepreneurship Program memberikan sinyal kuat bahwa pembelajaran berbasis pengalaman semakin diminati sekolah. Kami melihat guru secara aktif memperluas implementasi program karena siswa menjadi lebih terlibat ketika belajar melalui praktik langsung, mulai dari membangun usaha, mengelola keuangan, hingga memahami dunia kerja,” ujarnya.

Menurut Utami, ketika siswa terlibat langsung dalam proses belajar, mereka menjadi lebih aktif dan mudah memahami keterkaitan antara pelajaran di sekolah dengan kehidupan sehari-hari.

Selain kewirausahaan, program ini juga memperkuat literasi keuangan melalui materi penganggaran, menabung, investasi, serta pengelolaan risiko. Siswa juga mendapat paparan dunia profesional melalui sesi berbagi pengalaman bersama sukarelawan dari berbagai bidang pekerjaan.

Baca Juga: TelkomMetra Lakukan Penataan Portofolio Bisnis, AdMedika Group Ekspansi di Bawah Fullerton Health

Country Manager Zurich Indonesia sekaligus Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara, menilai pendidikan saat ini perlu memberikan bekal keterampilan praktis yang dapat digunakan dalam kehidupan nyata.

“Kami percaya pada pendidikan yang membekali generasi muda dengan keterampilan praktis untuk kehidupan nyata. Melalui Zurich Entrepreneurship Program, kami ingin membantu siswa membangun kepercayaan diri, kemampuan membaca peluang, dan pengambilan keputusan finansial yang lebih baik,” katanya.

Sementara itu, Head of Enabling Social Equity Z Zurich Foundation, Adriana Poglia, menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, pendidik, sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat untuk memperluas akses pembelajaran yang relevan bagi generasi muda.

Melihat hasil tahun pertama fase kedua program ini, pembelajaran berbasis pengalaman tampaknya akan semakin mendapat tempat di sekolah. 

Bukan hanya karena membuat siswa lebih aktif, tetapi juga karena membantu mereka membangun keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan masa depan.

Load More