Lifestyle / Komunitas
Senin, 08 Juni 2026 | 12:55 WIB
Potret Anak Muda yang Bekerja Dalam Bidang EBT (Magnific/Magnific)

Meski isu transisi energi sering dikaitkan dengan pembangunan infrastruktur besar dan investasi bernilai triliunan rupiah, sejumlah pembicara mengingatkan bahwa perubahan juga dapat dimulai dari tingkat individu.

Community Action Manager The Climate Reality Project Indonesia, Arifah Handayani, menekankan pentingnya perubahan perilaku sehari-hari sebagai bagian dari upaya menekan konsumsi energi dan emisi karbon.

Langkah-langkah sederhana seperti menggunakan pendingin ruangan secara lebih efisien, mengurangi konsumsi energi yang tidak diperlukan, atau memilih moda transportasi yang lebih ramah lingkungan dapat menjadi bagian dari transisi energi.

Pandangan serupa disampaikan Editor in Chief Jakarta Globe dan Investor Daily, Djaka Susila. Menurutnya, keputusan sehari-hari yang tampak kecil tetap memiliki dampak terhadap konsumsi energi secara keseluruhan.

Dari Kesadaran ke Kebijakan

Tantangan terbesar transisi energi mungkin bukan hanya soal teknologi atau pendanaan, tetapi bagaimana mengubah kesadaran menjadi tindakan kolektif.

Generasi muda saat ini merupakan kelompok yang akan paling lama merasakan dampak perubahan iklim sekaligus menikmati manfaat dari sistem energi yang lebih bersih. Karena itu, keterlibatan mereka menjadi penting, tidak hanya sebagai konsumen energi, tetapi juga sebagai inovator, pekerja, komunikator, dan pengambil keputusan di masa depan.

Temuan bahwa sebagian besar anak muda masih merasa menjadi pelengkap dalam isu energi menunjukkan bahwa ruang partisipasi yang lebih bermakna masih perlu dibuka. Sebab, transisi energi yang berkeadilan tidak hanya membutuhkan teknologi baru, tetapi juga generasi yang diberi kesempatan untuk ikut menentukan arah perubahan.

Penulis: Natasha Suhendra

Baca Juga: Kenaikan Permukaan Laut Ancam Kemampuan Mangrove Menyimpan Karbon

Load More