Suara.com - Di tengah kepungan polusi dan padatnya megapolitan, target pemenuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH) 30 persen di Jakarta masih menjadi perjalanan panjang hingga tahun 2045. Namun, data menunjukkan realisasi RTH publik saat ini baru menyentuh angka sekitar 5,31 persen.
Di atas kertas, Pemprov DKI berupaya mengoptimalkan lahan kecil dan kolong tol. Namun di ruang publik, isu taman kota kerap kali tenggelam dan dianggap kalah penting dibanding masalah infrastruktur jalan atau penanganan banjir.
Ketika birokrasi terhambat oleh alasan klasik seperti keterbatasan dana, komunitas Ayo ke Taman memilih bergerak bersama warga untuk mengawal kualitas ruang publik yang tersisa.
Bagi Koordinator Ayo ke Taman, Akhsan Inantama, keterbatasan kuantitas RTH di Jakarta saat ini harus diimbangi dengan suara masyarakat yang lantang.
"Taman tuh kayak masih dianggap sebagai yang tersier. Belum jadi topik yang serius. Bahkan kayak waktu pas Pilkada itu kan jarang juga yang ngebahas," ungkapnya.
Ketiadaan ruang politik bagi isu taman inilah yang mendorong komunitasnya bergerak sejak 2013 untuk menyadarkan warga bahwa taman juga adalah sebuah kebutuhan sosial. Komunitasnya aktif menggalang gerakan kolektif untuk mengulas fungsi sosial taman.
"Sebenarnya tujuan utama lain yang pengin kita gali itu adalah teman-teman itu punya misi, punya kegelisahan yang sama untuk memperbaiki kualitas taman," ujar Akhsan.
Selain kuantitas yang minim, Jakarta dihadapkan pada ketimpangan kualitas taman yang sangat mencolok. Akhsan mencontohkan segelintir taman populer seperti Tebet Ecopark atau Hutan Kota GBK yang selalu penuh. "Top of mind-nya itu baru ke situ aja gitu loh. Jadi kayak masih jarang," ujarnya, sementara banyak taman di area pinggiran atau bagian belakang kota yang luput dari perhatian dan sulit diakses warga.
Metode Park Mapping dan Festival Taman
Bagi Ayo ke Taman, menyuarakan isu ini tidak bisa lagi hanya dengan protes pasif. Melalui gerakan park mapping, mereka mengajak orang awam untuk meninjau langsung fasilitas publik. Komunitas ini ingin mengubah paradigma pembangunan kota agar warga tidak lagi sekadar menjadi konsumen pasif. "Warga terima jadi gitu sebenarnya kurang baik kan. Jadi harusnya warga juga dilibatkan untuk dari ngedesain dan pembangunan taman tersebut," tegas Akhsan.
Baca Juga: Dony Tri Pamungkas Mengancam Posisi Senior, John Herdman Puji Fleksibilitas Hybrid Bek Muda Persija
Mereka ingin memberikan alasan baru bagi warga untuk melangkah keluar rumah dan merasakan langsung manfaat ruang ketiga kota. "Kita bikin festival di mana sebanyak kegiatan yang mungkin nggak biasa di taman, tapi kita buat di taman supaya orang-orang lebih nyobain gimana sih enaknya beraktivitas di taman," jelas Akhsan.
Misi Rahasia di Balik Lembar Zine
Melalui lembar zine dan diskusi kelompok, Ayo ke Taman mengumpulkan seluruh kritik serta masukan warga mengenai fasilitas, akses, hingga vegetasi. Suara-suara dari akar rumput inilah yang nantinya dirangkum dan disalurkan ke pemerintah daerah.
Akhsan menambahkan, "Nah sebenarnya kita pengin… dari keluhan-keluhan itu kita mau laporin ke pihak terkait supaya jadinya kita menjembatani masyarakat." Melalui pelibatan warga dalam proses co-design dan evaluasi ini, mereka berharap kualitas 5 persen RTH yang ada saat ini bisa dioptimalkan secara bermakna, sembari terus mendesak pemerintah memenuhi hak atas sisa 25 persen ruang hijau kota yang belum terwujud.
Bagi Ayo ke Taman, menjembatani masyarakat dengan Dinas Pertamanan adalah langkah konkret untuk mewujudkan tata kelola kota yang transparan. Di tengah lambatnya pemenuhan kuantitas hijau kota, aksi turun ke lapangan ini menjadi pembuktian bahwa warga Jakarta siap mengawal setiap jengkal komitmen ruang terbuka hijau mereka.
Penulis: Vicka Rumanti
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
- 5 HP Android dengan Kualitas Setara iPhone 13 Pro dan iPhone 13 Pro Max
Pilihan
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Susul Chatib Basri dan Luhut ke Istana
Terkini
-
4 Parfum Evangeline Best Seller di Shopee, Wanginya Bikin Susah Pindah ke Parfum Lain
-
5 Rekomendasi Sunscreen SPF 30 untuk Dipakai Indoor, Ringan dan Harga Terjangkau
-
3 Lipstik Viva Cosmetics Paling Laris di Shopee Menurut Ulasan dan Harganya
-
4 Sepatu Lari Super Trainer Pesaing Adidas Adizero Evo SL, Terbaik Buat Jarak Jauh
-
Saat Pakaian Lama Punya Hidup Baru: Inspirasi Fashion Berkelanjutan dari Uniqlo
-
Membaca Jakarta dari Ruang Hijau: Catatan Sehari Bersama Ayo ke Taman
-
Banyak Ibu Mengalaminya, Ini Kisah Bangkit dari Kerontokan Rambut Pascapersalinan
-
Daftar Harga BBM BP Hari Ini di Jabodetabek dan Jawa Timur, BP Ultimate Tembus Rp17.240
-
Weton Tulang Wangi Apa Saja? Ini Alasan Dilarang Keluar di Malam 1 Suro
-
4 Lipstik Merah Transferproof yang Tidak Nempel di Gelas saat Minum, Tetap Bold Sepanjang Hari