Lifestyle / Relationship
Rabu, 10 Juni 2026 | 22:35 WIB
Detektif Jubun dan istri. (dok. ist)
Baca 10 detik
  • Detektif Jubun menyatakan bahwa konflik keluarga yang menjadi konsumsi publik berpotensi memperumit penyelesaian masalah dan memicu spekulasi negatif.
  • Orang tua diimbau memprioritaskan kepentingan serta kondisi psikologis anak di atas ego pribadi selama proses penyelesaian konflik.
  • Penyelesaian masalah disarankan melalui komunikasi langsung atau mediasi profesional untuk menjaga privasi serta mencegah dampak negatif jangka panjang.

Suara.com - Dinamika hubungan pasca perceraian kerap menjadi tantangan tersendiri bagi banyak keluarga, terutama ketika menyangkut pola komunikasi antara orang tua dan pengasuhan anak. Situasi ini juga menjadi sorotan publik ketika terjadi pada figur publik seperti Sarwendah dan Ruben Onsu yang kehidupannya mendapat perhatian luas dari masyarakat.

Menanggapi fenomena tersebut, pengamat investigasi sekaligus private investigator, Detektif Jubun, menekankan pentingnya menjaga komunikasi yang sehat dan menempatkan kepentingan anak sebagai prioritas utama dalam setiap proses penyelesaian konflik keluarga.

Menurut Jubun, persoalan keluarga merupakan isu yang sangat personal dan kompleks sehingga tidak dapat dinilai hanya dari informasi yang beredar di ruang publik.

"Konflik keluarga adalah persoalan yang sensitif. Masyarakat tentu hanya melihat sebagian kecil dari apa yang terjadi, sehingga tidak tepat untuk terburu-buru menentukan siapa yang benar atau salah," ujarnya.

Konflik yang Terbuka ke Publik Berisiko Memperumit Penyelesaian

Jubun menilai, ketika persoalan keluarga menjadi konsumsi publik, berbagai opini dan spekulasi akan bermunculan. Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan bagi pihak-pihak yang terlibat dan membuat proses penyelesaian menjadi lebih rumit.

"Ketika sebuah konflik keluarga masuk ke ruang publik, akan muncul banyak penafsiran dari berbagai pihak. Dalam beberapa kasus, tekanan dari luar justru dapat memperpanjang proses penyelesaian masalah," katanya.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga ruang dialog yang sehat dan menghindari langkah-langkah yang dapat memperkeruh situasi.

Kepentingan Anak Harus Menjadi Prioritas

Baca Juga: Parodi Permintaan Maaf Sarwendah Viral di Media Sosial: Isinya Jauh Lebih Jujur

Dalam pandangannya, anak merupakan pihak yang paling rentan terdampak ketika konflik keluarga berlangsung berkepanjangan.

Oleh sebab itu, setiap keputusan dan komunikasi yang dilakukan orang tua sebaiknya mempertimbangkan dampaknya terhadap tumbuh kembang serta kondisi psikologis anak.

"Yang paling penting adalah bagaimana orang tua tetap mampu menjaga komunikasi yang baik demi kepentingan dan masa depan anak-anak," ujar Jubun.

Ia menambahkan, banyak konflik keluarga yang sebenarnya dapat dikelola dengan lebih baik apabila komunikasi antar pihak tetap terjaga dan tidak dipenuhi prasangka atau kesalahpahaman yang berlarut-larut.

Utamakan Komunikasi Langsung dan Mediasi

Jubun juga mendorong penyelesaian masalah melalui komunikasi langsung dibandingkan saling menyampaikan pesan melalui media sosial atau pernyataan terbuka.

Load More