Lifestyle / Female
Jum'at, 12 Juni 2026 | 13:10 WIB
Gaun warna-warni di rak pakaian di butik mode trendi (Pexels/Markus Winkler)

Penelitian itu juga menyoroti perubahan kebijakan perdagangan di Amerika Serikat.

Ketika pemerintah AS menghapus pengecualian de minimis—aturan yang sebelumnya membebaskan pengiriman kecil bernilai rendah dari bea masuk—serta menaikkan tarif impor, perusahaan ultra-fresh fashion mulai membebankan biaya tambahan kepada konsumen.

Melalui pemodelan teori permainan, peneliti menemukan kebijakan tersebut menekan penjualan dan mengurangi jumlah produk baru yang diluncurkan.

Dampaknya, pilihan konsumen menjadi lebih terbatas.

Namun di sisi lain, perlambatan ini secara tidak langsung menurunkan jumlah pakaian yang diproduksi dan akhirnya dibuang.

Pasar Baru di Luar Amerika

Untuk menjaga pertumbuhan, perusahaan ultra-fresh fashion mulai menggeser fokus pasar.

Strategi yang disebut peneliti sebagai United States Plus One mendorong ekspansi ke wilayah lain, terutama Amerika Latin.

Berdasarkan data unduhan aplikasi pada musim panas tahun lalu, pasar terbesar Shein setelah Amerika Serikat bergeser ke negara-negara seperti Brasil, Meksiko, dan Argentina.

Baca Juga: Lautan Eceng Gondok Selimuti Permukaan Sungai Citarum

Ke depan, para peneliti berencana mengkaji instrumen kebijakan yang bisa digunakan pemerintah untuk mengurangi dampak sosial dan lingkungan dari industri fast fashion.

“Ketika kita berbicara tentang implikasi, kita harus melihat semua pemangku kepentingan—produsen, konsumen, pemerintah, dan bumi,” ujar Lee.

Load More