- Penelitian di Inggris mengungkapkan sektor peternakan berkontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca dunia dari sistem pangan.
- Mengganti satu porsi daging sapi dengan ikan salmon per minggu dapat mengurangi emisi karbon secara signifikan.
- Ikan salmon dipilih sebagai alternatif karena mampu menjaga kebutuhan nutrisi sekaligus mendukung upaya keberlanjutan lingkungan hidup.
Suara.com - Steak sering diposisikan sebagai simbol makanan tinggi protein, mulai dari potongan daging sapi premium hingga berbagai variasi modern yang semakin mudah ditemukan.
Namun di tengah meningkatnya perhatian terhadap krisis iklim, pertanyaan yang mulai muncul bukan lagi hanya soal rasa atau kandungan gizi.
Seberapa besar jejak lingkungan dari sumber protein yang kita pilih? Data yang dikutip dari Phys.org menunjukkan sekitar 26 persen emisi gas rumah kaca dunia berasal dari sistem pangan, sementara sektor peternakan menyumbang sekitar 82,5 persen emisi dari industri pangan.
Dalam konteks itu, sejumlah peneliti mulai melihat apakah perubahan kecil dalam pola makan dapat membantu menurunkan tekanan terhadap lingkungan, tanpa harus mengubah pola konsumsi secara drastis.
Salah satu jawabannya datang dari hidangan yang mungkin tidak biasa dibayangkan sebagai pengganti steak: ikan salmon.
Ketika Sumber Protein Menjadi Bagian dari Solusi Iklim
Penelitian terbaru berjudul Adapting the Source of Protein in Diets to Reduce Carbon Emissions: A UK Case Study Exploring Aquaculture mengeksplorasi bagaimana perubahan sumber protein dapat memengaruhi emisi karbon.
Alih-alih fokus pada pengurangan konsumsi secara total, penelitian ini menguji pendekatan yang lebih sederhana: mengganti sebagian pilihan makanan.
Dalam simulasi yang dilakukan terhadap pola makan masyarakat Inggris, peneliti menemukan bahwa mengganti satu porsi steak sapi per minggu dengan steak ikan salmon berpotensi mengurangi emisi karbon sektor pangan hingga 7,30 kilogram CO2 per orang pada 2050 dibandingkan pola konsumsi saat ini.
Baca Juga: Meski Berakhir Mati, Salmon Memilih Bergerak: Merenungi Buku Raditya Dika
Jumlah itu disebut setara dengan emisi dari penerbangan London menuju Maroko.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa keputusan yang tampak kecil di meja makan dapat memiliki dampak yang terakumulasi dalam skala populasi.
Penulis utama penelitian sekaligus peneliti di Bristol’s School of Biological Sciences, Dr. Jenny Baverstock, mengatakan perubahan pola makan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar.
“Dengan menerapkan perubahan sederhana dalam pola makan, kita dapat mengurangi emisi karbon secara signifikan, yang sangat penting untuk keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Tidak Hanya Soal Emisi, Tetapi Juga Kesehatan
Namun penelitian ini tidak hanya melihat aspek lingkungan. Para peneliti juga menilai bahwa alternatif protein yang dipilih perlu tetap memenuhi kebutuhan nutrisi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Usut Dugaan Jual Beli Jabatan ASN, Inspektorat Kabupaten Bogor Pasrahkan Kasus ke Kepolisian
-
Perbatasan Ceuta Jebol, Migran Maroko Berenang ke Spanyol
-
Kapolri Mutasi 146 Perwira, Kadivhubinter hingga Karoprovos Divpropam Berganti
-
iCAR V27 Solusi Mobil Listrik Anti Cemas dengan Jarak Tempuh 1200 Km
-
Ulasan Novel 23:59, Keberanian Ami dalam Mengikhlaskan Luka Masa Lalu
-
Tanah Abang Masih Jadi Sarang Obat Keras, Polisi Tangkap 2-3 Pengedar Setiap Hari
-
Kondisi Ekonomi Tidak Pasti, Industri Pilih Tahan Barang di Gudang
-
Guru Besar IPB Sulap Limbah Rumput Laut dan Jeroan Ikan Jadi Pupuk Organik, Bagaimana Kisahnya?
-
Cara Cek Pajak Tahunan Mobil Listrik Lewat HP, Cepat dan Nggak Pakai Ribet!
-
Biaya Pendidikan Terus Naik, Begini Cara Cerdas Mengelola Dana Daftar Ulang Kuliah