Lifestyle / Komunitas
Minggu, 21 Juni 2026 | 09:35 WIB
Ilustrasi perawatan wajah (Pexels/Yan Krukau)
Baca 10 detik
  • Survei ISAPS 2024 mencatat lebih dari 20,5 juta prosedur kecantikan non-bedah telah dilakukan masyarakat secara global sepanjang tahun.
  • Pasien kini lebih memilih perawatan estetika non-bedah yang praktis dan memberikan hasil alami daripada mengubah bentuk wajah secara drastis.
  • Ahli menekankan pentingnya peran dokter kompeten dan fasilitas medis resmi untuk mencegah risiko komplikasi pasca-perawatan pada prosedur estetika.

Suara.com - Keinginan untuk terlihat awet muda semakin meningkat, namun banyak orang enggan menjalani perawatan yang menimbulkan rasa sakit. Karena itu, tren perawatan kecantikan non-bedah kian diminati.

Tren ini terjadi hampir di seluruh dunia. Berdasarkan survei global yang dilakukan oleh International Society of Aesthetic Plastic Surgery (ISAPS) 2024 yang dirilis pada Juni 2025, tercatat lebih dari 20,5 juta prosedur non-bedah dilakukan di seluruh dunia sepanjang 2024.

Angka tersebut mendominasi total 38 juta prosedur estetika yang dilakukan secara global.

Beberapa treatment non-bedah yang paling populer meliputi suntikan botulinum toxin (Botox), filler berbahan hyaluronic acid, pengencangan kulit non-bedah, hingga chemical peeling.

Menurut laporan ISAPS, penggunaan filler hyaluronic acid pada 2024 meningkat 56,4 persen dibandingkan 2020. Sementara itu, tindakan chemical peel meningkat lebih dari 100 persen dalam periode yang sama.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat kini tidak hanya mengejar perubahan penampilan yang drastis, tetapi juga menginginkan perawatan yang lebih praktis dengan hasil yang terlihat alami.

Dokter spesialis kulit dan kelamin, Dendy Engelman, dalam wawancara dengan Vogue pada 2023 menjelaskan bahwa tren estetika saat ini mulai bergeser dari tampilan yang berlebihan menuju hasil yang lebih natural.

Menurutnya, pasien kini lebih tertarik pada perawatan yang membantu menjaga kualitas kulit dan memperlambat tanda-tanda penuaan dibandingkan mengubah bentuk wajah secara ekstrem.

Meski menawarkan berbagai manfaat, para ahli mengingatkan bahwa treatment non-bedah tetap memiliki risiko apabila dilakukan tanpa pengawasan tenaga medis yang kompeten.

Baca Juga: Estetika Regeneratif Jadi Tren Baru, Fokus pada Regenerasi Alami untuk Kulit yang Lebih Berkualitas

Masyarakat juga diminta berhati-hati karena peningkatan jumlah perawatan non-bedah turut diiringi meningkatnya kebutuhan tindakan koreksi akibat hasil yang tidak sesuai harapan maupun komplikasi pasca-perawatan.

Karena itu, pemilihan dokter dan fasilitas kesehatan menjadi faktor yang tidak kalah penting dibandingkan jenis treatment yang dipilih.

"Dokter memiliki peran yang sangat penting dalam menghubungkan inovasi teknologi dengan kebutuhan pasien," kata Head Dongbang Medical Global (DMG), Roy Seo, melalui keterangan yang diterima Suara.com, Sabtu (20/6/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Roy saat acara Aesthetic Medical Updates & Scientific Exhibition 2026 (AMUSE) 2026 di BSD, Tangerang, pada Juni 2026.

Menurut Roy, perkembangan teknologi estetika harus berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi tenaga medis agar pasien memperoleh manfaat yang optimal dan tetap aman.

Isu tersebut juga menjadi salah satu alasan platform edukasi, inovasi dan apresiasi praktisi medis yakni DMG AURA 3.0 menggelar forum yang dihadiri lebih dari 200 dokter dan praktisi estetika medis.

Load More