Konsep tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi memiliki makna yang lebih luas. LiteraTOUR tidak sekadar mengajak orang membuka buku di dalam bus atau kereta. Mereka berusaha menghadirkan ruang publik sebagai tempat yang ramah bagi aktivitas membaca, sekaligus menunjukkan bahwa literasi dapat tumbuh di tengah hiruk pikuk perkotaan.
Ia juga bercerita bahwa masih ada beberapa anggapan bahwa membaca di ruang publik merupakan sesuatu yang tidak lazim. Banyak orang merasa aktivitas tersebut aneh atau bahkan canggung dilakukan di tengah keramaian. Oleh karena itu, LiteraTOUR ingin menghadirkan pemandangan baru yang perlahan dapat mengubah cara pandang masyarakat.
"Dengan sering orang melihat dan melakukan membaca di ruang publik, di transportasi umum, itu jadi hal yang normal. Kami juga mengajak orang-orang yang mungkin bingung di transportasi umum itu ngapain, salah satunya bisa jadi membaca," katanya.
Sejak berdiri, kegiatan utama LiteraTOUR memang berpusat pada membaca bersama di transportasi umum. Namun, seiring waktu, bentuk aktivitasnya semakin berkembang. Bersama program Stories on Foot, Wahyu ikut bergabung dan mereka mulai menghubungkan buku dengan pengalaman menjelajahi kota melalui berbagai kegiatan kreatif yang tidak hanya berfokus pada aktivitas membaca.
Wahyu menjelaskan bahwa sebuah cerita tidak hanya dapat dinikmati melalui halaman buku, tetapi juga melalui ruang tempat cerita itu hidup. Saat ini, mereka tengah mengembangkan berbagai konsep seperti tur berdasarkan latar sebuah buku, diskusi mengenai kota melalui karya sastra, hingga aktivitas mendengarkan audiobook sambil berjalan kaki.
"Buku itu bisa dinikmati dari beragam cara. Tidak cuma dibaca saja, tapi juga bisa merespons kota, bisa merespons ruang, dan bisa dilakukan secara bersama-sama dengan cara yang lebih seru-seru," jelas Wahyu.
Membaca Bukan Sekadar Belajar
Berbagai eksperimen tersebut lahir dari keinginan membuat membaca terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selama ini, banyak orang menganggap membaca sebagai aktivitas yang berat dan harus menghasilkan pengetahuan baru. Padahal, menurut Wahyu, membaca juga dapat dilakukan semata-mata untuk menikmati cerita.
Ia menyebut konsep reading for pleasure sebagai sesuatu yang masih jarang dibicarakan di Indonesia. Membaca bukan selalu soal belajar, melainkan juga hiburan yang mampu memberi ruang bagi seseorang untuk melambat di tengah kehidupan yang serba cepat.
"Mungkin kita merasa membaca itu adalah belajar, harus mendapatkan sesuatu dari membaca. Padahal, membaca itu ada macamnya, bisa membaca untuk kegembiraan, for pleasure, dan membaca pun bisa dilakukan bersama-sama. Buku pun bisa dibahas, nggak cuma buat dibaca," ungkapnya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
Di tengah dominasi media sosial dan konten berdurasi singkat, LiteraTOUR justru memilih pendekatan yang berbeda. Mereka tidak memosisikan teknologi sebagai musuh, melainkan sebagai ruang untuk menyebarkan semangat literasi dan memperkenalkan berbagai aktivitas membaca kepada masyarakat yang lebih luas.
Wahyu mengatakan, generasi muda saat ini justru memiliki ketertarikan besar terhadap pengalaman yang bersifat langsung dan melibatkan interaksi sosial. Setelah terbiasa beraktivitas secara daring, banyak orang kini mencari ruang untuk bertemu, berdiskusi, dan membangun relasi secara tatap muka.
"Ternyata kita butuh terhubung dengan orang lain. Butuh ketemu langsung dan ngobrol langsung. Itu kebutuhan manusiawi banget," katanya.
Bagi LiteraTOUR, buku akhirnya menjadi medium untuk mempertemukan banyak hal sekaligus, yaitu perjalanan, ruang kota, percakapan, hingga pertemanan baru. Membaca bukan lagi aktivitas yang dilakukan sendirian, melainkan pengalaman kolektif yang membuka ruang diskusi sekaligus cara baru untuk menikmati sebuah kota.
Dengan semangat tersebut, LiteraTOUR terus menghadirkan berbagai aktivasi yang memadukan literasi dengan ruang publik. Sebuah upaya sederhana untuk menunjukkan bahwa membaca tidak harus dilakukan di tempat yang sunyi, tetapi juga bisa tumbuh di tengah riuhnya kota dan perjalanan sehari-hari.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 HP Redmi Memori 256 GB dan Kamera Jernih Harga Rp1 Jutaan, Cocok untuk Multitasking
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Jalan Santai Cocoknya Pakai Sepatu Apa? Ini 6 Produk Lokal yang Nyaman Buat 17 Agustusan
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Rekor Buruk Timnas Indonesia di Piala AFF Semakin Panjang, Pemain Naturalisasi Tak Berkutik
-
100 Petani Sidomulyo Muba Serahkan Diri, Bela 4 Warga yang Dituduh Mencuri di Kebun Sendiri
-
Eks Penyidik KPK: Kasus Febrie Adriansyah Harus Dikembangkan ke Atas, Bawah, dan Samping
-
Dari Batam Menuju Timnas Indonesia, Garudayaksa FC Buka Kesempatan bagi Talenta Muda
-
Tak Berdiri Sendiri, Pengamat Unas Endus Ada Sosok Berpengaruh di Kasus Eks Jampidsus
-
Erick Thohir Evaluasi Skuad Timnas Indonesia Usai Gagal di Piala AFF 2026, John Herdman Out?
-
Kata-kata Mengharukan Rizky Ridho Usai Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026
-
Tangis Haru Karsa, Rumah Reotnya di Klapanunggal Kini Kokoh Direnovasi Indocement