Suara.com - Jenuh. Itulah perasaan yang akhir-akhir ini sering kurasakan. Pulang pergi setiap hari. Menjalani rutinitas yang sama. Tiada henti. Sampai di suatu hari, saat sedang scroll media sosial, aku menemukan hal unik yang membuatku sempat terdiam. Membaca buku sambil naik transportasi umum.
Bagaimana bisa? Apakah kita akan tetap fokus? Ribet nggak, sih?
Dipenuhi rasa penasaran sekaligus ingin mencoba pengalaman baru, akhirnya aku memutuskan untuk mendaftar dan mengikuti kegiatan tersebut. Kebetulan, pada 14 Juni 2026 mereka mengadakan kegiatan baca bersama di TransJakarta hasil kolaborasi dengan Patjar Merah, dengan rute dari Halte Blok M menuju Tosari.
Perasaan menggebu-gebu menghampiriku selama perjalanan menuju lokasi. Sesampainya di sana, aku langsung menghampiri titik temu yang sudah dibagikan. Senyuman ramah menyambutku. Selama menunggu teman-teman lainnya datang, kami duduk melingkar sambil bercengkerama dan saling berkenalan. Seru rasanya bisa bertemu teman-teman baru dengan ketertarikan yang sama terhadap buku.
Sekitar pukul 11.00 WIB acara dimulai. Sebelum memulai perjalanan, Nabila Putri dan Wahyu Novianto selaku penyelenggara membuka acara dengan menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan. Selain itu, kami juga diminta memperkenalkan diri satu per satu sekaligus menyebutkan buku apa yang sedang dibaca.
Membaca di Tengah Ramainya Bus
Setelah kegiatan selesai, kami berjalan menuju Halte Blok M Hub. Kawasan Blok M saat itu tampak padat seperti biasa. Perjalanan menuju Halte Tosari juga ramai karena bertepatan dengan agenda maraton di sekitar lokasi.
Di dalam bus yang penuh dan ruang gerak terbatas, aku tetap mencoba fokus membaca buku yang kubawa. Awalnya sedikit terganggu oleh keramaian, namun perlahan aku kembali larut dalam bacaan hingga tidak terlalu memperhatikan kondisi sekitar.
Tak terasa, kami tiba di Halte Tosari. Di sana, kami kembali berkumpul untuk saling berbagi pengalaman membaca selama perjalanan sambil menikmati kudapan yang telah disiapkan. Acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama, lalu ditutup dengan rekomendasi buku dari Nabila dan Wahyu kepada para peserta.
Setelah acara berakhir, aku berkesempatan mewawancarai Wahyu Novianto, salah satu pengurus LiteraTOUR sekaligus content creator buku di akun @awaywithbooks.
Baca Juga: Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
LiteraTOUR, Berawal dari Sebuah Keresahan Akan Akses Transportasi Umum
Di balik kegiatan membaca di dalam bus atau kereta, LiteraTOUR berangkat dari keresahan terhadap kehidupan perkotaan. Bagi Wahyu Novianto, transportasi umum tidak hanya soal mobilitas, tetapi juga ruang yang bisa dimanfaatkan untuk menumbuhkan budaya literasi dan mempererat kedekatan warga dengan kotanya.
Ia menjelaskan, gagasan ini pertama kali datang dari Nabila Putri, inisiator LiteraTOUR, yang menyoroti kondisi transportasi umum—khususnya di Surabaya—yang dinilai belum terhubung optimal dan belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Dari situ, muncul ide untuk menghadirkan pengalaman berbeda dalam menggunakan transportasi umum, yakni sambil membaca buku.
“Awalnya LiteraTOUR datang dari keresahan bahwa transportasi umum, terutama di Surabaya, itu kurang terhubung dengan baik. Jadi pengennya membuat teman-teman sadar bagaimana transportasi umum dan seperti apa yang diharapkan,” ujar Wahyu.
Dari keresahan tersebut, lahir gerakan sederhana yang menggabungkan literasi dengan pengalaman menjelajahi kota. Menurut Wahyu, perjalanan tidak harus diisi dengan gawai semata. Sebaliknya, ruang tersebut bisa dimanfaatkan untuk membaca, menikmati cerita, sekaligus merasakan dinamika kota lewat buku yang dibaca.
Membaca Tidak Hanya Bisa Dilakukan di Perpustakaan
Menurut Wahyu, membaca tidak harus selalu identik dengan suasana sunyi di perpustakaan atau duduk berjam-jam di meja belajar. Justru, membaca dapat menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, termasuk ketika seseorang sedang bepergian menggunakan transportasi umum. Melalui konsep tersebut, LiteraTOUR ingin menghadirkan pengalaman baru yang memadukan literasi dengan ruang publik.
"LiteraTOUR itu konsepnya sebenarnya membaca buku bersama di public transportation, karena ingin mengampanyekan membaca dan menggunakan transportasi umum. Mengalami kota pakai transportasi umum seperti apa sambil membaca. Biasanya dari titik baca satu ke titik baca yang lain," tutur Wahyu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Beda Sepatu Lari dan Sepatu Jalan Kaki, Jangan Sampai Keliru Memilihnya
-
Concealer untuk Mata Panda Warna Apa? Ini Tips Memilih dan 5 Rekomendasinya
-
5 Jenis Pompa Air Sesuai Kedalaman Sumur, Ketahui agar Tidak Salah Beli
-
Apakah Pompa Air Boleh Nyala Terus? Ini Cara Merawat yang Benar agar Awet
-
4 Kipas Angin Hemat Listrik yang Sejuk dan Ramah Tagihan Bulanan, Andalan saat Cuaca Panas
-
7 Jersey Original Murah Piala Dunia 2026: Mulai Rp300 Ribuan, Asli Adidas dan Nike!
-
4 Rekomendasi Sepatu Lari Lokal Cushion Empuk, Melindungi Lutut Pelari Big Size
-
3 Sunscreen di Bawah Rp20 Ribu dengan SPF Tinggi, Anti-Kantong Kering In This Economy
-
Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
-
3 Pilihan Sepatu Lari Brodo: Kualitas Jempolan, Cocok untuk Pemula hingga Profesional