Suara.com - Lemari pakaian yang penuh sesak ternyata bukan pengalaman segelintir orang. Survei Indikator Politik Indonesia pada 2022 terhadap 733 responden menunjukkan, pakaian menjadi barang yang paling sering dibeli oleh 65,7 persen responden.
Namun, persoalannya bukan sekadar ruang penyimpanan yang semakin sempit. Di balik kebiasaan membeli pakaian, ada jejak lingkungan yang tidak sedikit.
Penelitian Unravelling the Service Lifespan of Garments: Empirical Insights on Use Time and Use Intensity menemukan bahwa jumlah pakaian yang dimiliki masyarakat terus meningkat. Rata-rata isi lemari saat ini mencapai sekitar 199 potong pakaian, tetapi sebagian besar hanya tersimpan dan jarang digunakan.
Padahal, setiap pakaian memiliki biaya lingkungan sejak diproduksi. Industri fesyen membutuhkan air, energi, serta bahan baku dalam jumlah besar. Ketika pakaian hanya menumpuk tanpa dimanfaatkan secara optimal, dampak lingkungan yang dihasilkan menjadi tidak sebanding dengan manfaat penggunaannya.
Masalah tidak berhenti pada proses produksi. Limbah tekstil juga menjadi tantangan yang terus meningkat. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2024 menunjukkan, sampah tekstil menyumbang 2,63 persen dari total komposisi sampah nasional di Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, thrifting atau membeli pakaian bekas kerap dianggap sebagai solusi yang lebih ramah lingkungan. Praktik ini memang dapat memperpanjang usia pakaian, tetapi belum tentu menyelesaikan akar persoalan.
Dalam banyak kasus, pakaian hanya berpindah tangan tanpa mengurangi kebiasaan konsumsi berlebihan. Harga yang lebih murah juga dapat memicu belanja impulsif sehingga jumlah pakaian yang dibeli tetap tinggi.
Sejumlah penelitian menunjukkan, salah satu langkah paling efektif untuk menekan dampak lingkungan dari pakaian adalah memperpanjang masa pakainya atau meningkatkan frekuensi penggunaan. Semakin sering pakaian dipakai, semakin kecil jejak lingkungan yang dihasilkan untuk setiap kali penggunaan.
Uni Eropa melalui dokumen PEFCR for Apparel and Footwear bahkan menetapkan panduan jumlah pemakaian minimum untuk berbagai jenis pakaian. Kemeja dan blus disarankan digunakan sedikitnya 40 kali, kaos 45 kali, celana dan rok 70 kali, hoodie dan cardigan 85 kali, sementara jaket dan mantel minimal 100 kali.
Baca Juga: Berlaku 1 Juli, Ekonom Ingatkan B50 Wajib Jaga Aspek Lingkungan
Cara sederhana untuk mulai menerapkannya adalah menghitung total frekuensi penggunaan pakaian yang dimiliki. Misalnya, seseorang memiliki 100 pakaian yang masing-masing hanya dipakai lima kali dalam setahun—total 500 kali pemakaian.
Sementara orang lain memiliki 20 pakaian yang dipakai masing-masing 30 kali dalam setahun—total 600 kali pemakaian. Dengan koleksi lebih sedikit, lemari kedua justru menghasilkan penggunaan yang lebih efisien.
Pada akhirnya, lemari yang berkelanjutan bukan ditentukan oleh jumlah pakaian yang dimiliki, melainkan seberapa sering pakaian tersebut benar-benar digunakan. Sebelum membeli baju baru, mungkin pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi “Apakah saya suka?”, tetapi “Berapa kali saya akan memakainya?”
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 HP Redmi Memori 256 GB dan Kamera Jernih Harga Rp1 Jutaan, Cocok untuk Multitasking
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Jalan Santai Cocoknya Pakai Sepatu Apa? Ini 6 Produk Lokal yang Nyaman Buat 17 Agustusan
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Rekor Buruk Timnas Indonesia di Piala AFF Semakin Panjang, Pemain Naturalisasi Tak Berkutik
-
100 Petani Sidomulyo Muba Serahkan Diri, Bela 4 Warga yang Dituduh Mencuri di Kebun Sendiri
-
Eks Penyidik KPK: Kasus Febrie Adriansyah Harus Dikembangkan ke Atas, Bawah, dan Samping
-
Dari Batam Menuju Timnas Indonesia, Garudayaksa FC Buka Kesempatan bagi Talenta Muda
-
Tak Berdiri Sendiri, Pengamat Unas Endus Ada Sosok Berpengaruh di Kasus Eks Jampidsus
-
Erick Thohir Evaluasi Skuad Timnas Indonesia Usai Gagal di Piala AFF 2026, John Herdman Out?
-
Kata-kata Mengharukan Rizky Ridho Usai Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026
-
Tangis Haru Karsa, Rumah Reotnya di Klapanunggal Kini Kokoh Direnovasi Indocement