- Indonesia menduduki peringkat kelima dunia dengan 20,4 juta penderita diabetes yang berisiko mengalami komplikasi serius pada 2024.
- Daewoong Pharmaceutical meluncurkan obat enavogliflozin 0,3 mg di Bandung untuk memperluas pilihan terapi bagi pasien diabetes tipe 2.
- PERKENI dan KDA menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat kolaborasi penelitian medis dan pendidikan guna meningkatkan kualitas penanganan diabetes.
Suara.com - Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah penyandang diabetes terbesar di dunia. International Diabetes Federation (IDF) mencatat terdapat sekitar 20,4 juta orang dewasa hidup dengan diabetes pada 2024, menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 28,6 juta pada 2050.
Selain tingginya jumlah pasien, IDF juga memperkirakan hampir 15 juta orang dewasa di Indonesia belum terdiagnosis diabetes.
Kondisi ini membuat deteksi dini dan keberlanjutan terapi menjadi bagian penting dalam penanganan penyakit yang berisiko menimbulkan komplikasi kardiovaskular dan ginjal tersebut.
Di tengah tingginya beban diabetes, kini tersedia tambahan pilihan terapi bagi pasien diabetes melitus tipe 2.
Daewoong Pharmaceutical Indonesia meluncurkan enavogliflozin 0,3 mg, obat golongan sodium-glucose cotransporter-2 (SGLT2) inhibitor yang dikembangkan secara mandiri oleh perusahaan.
Peluncuran dilakukan dalam rangkaian Forum Endokrinologi Nasional Ke-14 sekaligus Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) 2026 di Bandung, Jawa Barat.
Diskusi juga membahas pentingnya mempertimbangkan risiko metabolik, kardiovaskular, dan ginjal dalam tata laksana diabetes, tidak hanya berfokus pada pengendalian kadar gula darah.
Ketua Umum PERKENI, Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD, K-EMD, mengatakan kehadiran terapi baru tersebut menambah pilihan penanganan bagi pasien diabetes di Indonesia.
"Peluncuran enavogliflozin 0,3 mg di Indonesia memiliki makna penting karena menghadirkan pilihan terapi baru bagi pasien, sekaligus mendorong diskusi ilmiah mengenai bagaimana kita dapat mengelola diabetes tipe 2 dengan lebih baik pada populasi kita," ujarnya.
Baca Juga: Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C
Menurutnya, Indonesia saat ini masih menghadapi beban diabetes yang terus meningkat. Sehingga kolaborasi antara tenaga kesehatan, organisasi profesi, akademisi, dan industri dinilai penting untuk meningkatkan kualitas terapi serta luaran jangka panjang pasien.
Pada sesi ilmiah, Prof. Yong-ho Lee dari Division of Endocrinology and Metabolism, Yonsei University Severance Hospital, Korea Selatan, juga memaparkan hasil penelitian mengenai terapi tersebut pada pasien diabetes tipe 2 di Asia.
Ia menjelaskan bahwa terapi ini merupakan inhibitor SGLT-2 yang telah didukung oleh bukti klinis yang secara khusus diperoleh pada pasien Asia dengan diabetes melitus tipe 2.
"Dalam menangani pasien Asia, pemilihan terapi tidak hanya perlu mempertimbangkan efektivitas dalam menurunkan kadar glukosa darah, tetapi juga dampaknya terhadap parameter metabolik, seperti berat badan dan resistensi insulin," ujarnya.
Dalam rangkaian kegiatan yang sama, Korean Diabetes Association (KDA) dan PERKENI juga menandatangani nota kesepahaman (MoU).
Kerja sama tersebut ditujukan untuk memperkuat pertukaran akademik, penelitian bersama, dan pendidikan medis di bidang diabetes antara Indonesia dan Korea Selatan.
Chairman Korean Diabetes Association, Prof. Sung-rae Kim, mengatakan bahwa MoU itu menghubungkan dua komunitas medis yang memiliki tujuan yang sama, untuk meningkatkan perawatan diabetes melalui penelitian ilmiah dan pendidikan.
CEO Daewoong Pharmaceutical, Seong-soo Park mengatakan terapi baru dan kerja sama juga bagian dari upaya meningkkatkan kualitas layanan kesehatan Indonesia, khususnya dalam penanganan penyakit kronis.
"Kami akan terus memperkuat komunikasi dan kolaborasi antara tenaga medis Korea Selatan dan Indonesia guna mempererat kerja sama medis kedua negara serta membantu meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia," ungkap Seong-soo Park.
Berita Terkait
-
Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Waspada Siklon dan Ancaman Penyakit! Hantavirus Mengintai, Diabetes Tipe 2 Ancam Anak Muda
-
Dulu Identik dengan Lansia, Mengapa Diabetes Tipe 2 Kini 'Hobi' Menyerang Remaja?
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
-
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
Terkini
-
Apa Zodiak Tahta Tertinggi? Bintang Ini Juaranya
-
5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
-
Merek Sepatu Lari Lokal yang Bagus Apa? Ini 5 Rekomendasi Seri Terlarisnya sesuai Review Pembeli
-
3 Sepatu Trail Running Lokal Terbaik, Ini Harga dan Review Pembeli setelah Dipakai
-
Mengenal XERF, Perawatan Pengencang Kulit Terbaru yang Minim Downtime
-
Moisturizer Apa yang Bikin Wajah Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
-
4 Cushion Wardah yang Terbukti Laris untuk Base Makeup Flawless, Lengkap Harga dan Review
-
Rice Cooker yang Bagus Merek Apa? Ini 4 Rekomendasi Beserta Fitur dan Review Pembeli
-
4 Tas Sekolah Ransel Mulai Rp90 Ribuan, Muat Banyak dan Nyaman Dipakai
-
Sepeda Hybrid Berapa Harganya? Ini 4 Rekomendasi Terbaik Buatan Lokal yang Murah