- Kopi Kenangan mengalihkan lebih dari 50 ton limbah operasional dari tempat pembuangan akhir sepanjang tahun 2025 melalui program daur ulang.
- Perusahaan berhasil menekan emisi karbon sebesar 81.672 kilogram COe dengan mengoptimalkan transportasi serta efisiensi energi di seluruh gerai.
- Kopi Kenangan mendukung praktik pertanian berkelanjutan melalui pelatihan bagi 50 petani kopi serta bantuan infrastruktur di Kintamani, Bali.
Suara.com - Industri makanan dan minuman (F&B) menjadi salah satu sektor yang menghasilkan limbah cukup besar, mulai dari kemasan plastik, minyak jelantah, hingga ampas kopi.
Di tengah meningkatnya tekanan untuk menekan emisi karbon, sejumlah pelaku usaha mulai menerapkan pendekatan ekonomi sirkular agar limbah tidak lagi berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Sepanjang 2025, Kopi Kenangan melaporkan berhasil mengalihkan lebih dari 50 ton limbah operasional dari TPA melalui berbagai program daur ulang dan pemanfaatan kembali material.
Dalam Laporan 'Dampak ESG Kopi Kenangan Menciptakan Dampak Melalui Secangkir Kopi', limbah yang dikelola terdiri dari 43.456 kilogram minyak jelantah (used cooking oil/UCO), 4.175 kilogram ampas kopi, 2.511 kilogram plastik, dan 228 kilogram kantong spunbond.
Material tersebut dimanfaatkan kembali melalui berbagai skema ekonomi sirkular sehingga tidak langsung menjadi sampah.
Selain mengurangi timbulan limbah, perusahaan juga mulai melakukan dekarbonisasi operasional. Berbagai langkah dilakukan, mulai dari penggunaan kendaraan listrik untuk operasional, penerapan sistem kerja hibrida, hingga pemberian insentif bagi karyawan yang menggunakan transportasi umum.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, perusahaan mengklaim berhasil menekan emisi karbon hingga 81.672 kilogram CO ekuivalen (COe) sepanjang 2025.
Di sisi lain, konsumsi energi masih menjadi tantangan utama. Dengan lebih dari 1.100 gerai yang beroperasi, sebagian besar kebutuhan energi berasal dari penggunaan listrik serta bahan bakar kendaraan operasional.
Karena itu, pencatatan konsumsi energi dilakukan sebagai dasar untuk meningkatkan efisiensi penggunaan listrik di setiap gerai.
Baca Juga: KLH Luncurkan SRUK di 9 Juli, Garap Potensi Ekonomi Perdagangan Karbon
Upaya lain juga dilakukan dari sisi rantai pasok. Perusahaan menyebut seluruh bahan baku utama kini diperoleh dari pemasok dalam negeri serta mulai menggunakan kemasan berbahan recycled PET (rPET) sebagai bagian dari transisi menuju kemasan yang lebih ramah lingkungan.
Konsep tersebut juga diterapkan pada Green Concept Store pertama yang mengusung empat prinsip utama, yakni pengurangan limbah, penggunaan furnitur berbahan daur ulang, efisiensi energi, serta peningkatan daya resap air di kawasan gerai.
Namun, berbagai upaya tersebut masih menjadi bagian awal dari proses dekarbonisasi. Pada 2025, perusahaan mencatat jejak karbon operasional untuk emisi Scope 1 dan Scope 2 mencapai sekitar 38,8 juta kilogram COe, sehingga reduksi emisi yang telah dicapai masih merupakan sebagian kecil dari total emisi operasional.
Selain aspek lingkungan, perusahaan juga menjalin kemitraan dengan Universitas Udayana dan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Kintamani Bali untuk mendukung praktik pertanian berkelanjutan melalui pelatihan bagi 50 petani kopi, program inkubasi bisnis bagi 14 anak petani, serta bantuan infrastruktur.
Menurut Head of Legal & Corporate Affairs Kopi Kenangan, Inneke Lestari, pertumbuhan bisnis perlu berjalan beriringan dengan upaya mengurangi dampak lingkungan dan memperkuat rantai pasok yang lebih berkelanjutan.
"Kami percaya bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan bukan hanya tentang memperluas bisnis, tetapi juga menciptakan nilai bagi pelanggan, mitra usaha, karyawan, dan lingkungan," ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
-
Kompak Turun: Ini Harga BBM di Pertamina hingga Shell
Terkini
-
10 Parfum Lokal Terlaris di Shopee Sepanjang 2026, Wangi Tahan Lama
-
Sentuhan Nautikal dan Anyaman Ringan Jadi Kunci Gaya Musim Panas Tahun Ini
-
3 Sepatu Jalan Ortuseight yang Nyaman Dipakai Seharian, Ini Review Pembeli di Shopee
-
Sudah Rajin Pakai Lip Balm tapi Bibir Tetap Kering? Ini 5 Penyebab yang Sering Terabaikan
-
Sepatu Sekolah Paling Awet Merk Apa? Ini 5 Produk Lokal Terbaik Mulai Rp100 Ribuan
-
Lebih dari Sekadar Tebing dan Sunset, Ini Cara Baru Menikmati Keindahan Uluwatu
-
Nikmati Persiapan Liburan dan Back to School Lebih Hemat lewat Promo Spesial BRI
-
6 Rekomendasi Sunscreen SPF 50 PA++++ Terbaik untuk Cegah Penuaan Dini
-
Bagaimana Cara Memilih Sepatu untuk Lari? Ini 5 Panduan untuk Kamu
-
Lipstik Matte Red-A Apakah Tahan Lama? Cek Harga dan Ulasan Pengguna