- Studi 18 Juni di PLOS Digital Health menganalisis 971 video TikTok terkait penggunaan sunscreen di internet.
- Informasi menyesatkan tentang sunscreen di TikTok meraih keterlibatan lebih tinggi dibandingkan konten edukasi kesehatan yang akurat.
- Dampak penyebaran mitos tersebut berisiko membuat masyarakat enggan menggunakan sunscreen sehingga meningkatkan ancaman kanker kulit berbahaya.
Suara.com - Sebuah studi baru menunjukkan bahwa informasi yang salah tentang sunscreen di TikTok mungkin mendapatkan keterlibatan yang tidak proporsional, mewakili sebagian kecil dari konten terkait tabir surya di platform tersebut, yang sebagian besar bersifat positif.
Menyadur Healthline, temuan yang diterbitkan pada 18 Juni di PLOS Digital Health ini didasarkan pada analisis 971 video TikTok. Para peneliti menemukan bahwa sebagian besar video mempromosikan penggunaan sunscreen, sementara hanya 16 video yang tidak menganjurkannya atau mempertanyakan keamanannya.
Namun, unggahan yang berisi informasi yang salah tentang tabir surya cenderung menghasilkan tingkat keterlibatan yang lebih tinggi.
“Media sosial cenderung menghargai konten yang provokatif atau menantang saran yang diterima, sehingga klaim bahwa tabir surya berbahaya atau tidak perlu seringkali akan menghasilkan lebih banyak diskusi daripada pesan kesehatan yang lugas,” kata Paul Banwell, seorang ahli bedah plastik dan kosmetik serta ahli kesehatan kulit di Inggris yang tidak terlibat dalam studi ini.
Meskipun demikian, Banwell mencatat bahwa sejumlah kecil konten yang menyesatkan terkadang dapat menarik perhatian yang berlebihan secara online, memungkinkan mitos tentang sunscreen untuk berkembang.
Meskipun studi ini hanya meneliti unggahan TikTok, informasi yang salah tentang sunscreen tersebar luas di berbagai platform media sosial.
Seorang juru bicara TikTok mengatakan kepada Healthline bahwa platform tersebut melarang informasi yang salah terkait kesehatan, termasuk saran medis yang tidak akurat yang membuat orang enggan mencari perawatan medis yang tepat.
Healthline berbicara dengan Banwell tentang cara memisahkan fakta dari fiksi saat melihat konten tabir surya di media sosial dan mengapa perlindungan matahari adalah pertahanan terbaik Anda terhadap kanker kulit.
Mengapa informasi yang salah tentang tabir surya mengkhawatirkan?
Baca Juga: Paradoks Stockdale: Cara Jaga Kewarasan di Negara yang Penuh Kejutan
Banwell menyebut orang-orang dapat mulai salah mengartikan popularitas sebagai kredibilitas.
Hanya karena sebuah video memiliki jutaan penayangan bukan berarti informasinya akurat, dan dalam hal perlindungan matahari, hal itu dapat memiliki konsekuensi nyata jika orang-orang enggan menggunakan tabir surya berdasarkan informasi yang salah daripada bukti.
Bagaimana Anda ingin melihat perubahan konten tabir surya di media sosial?
Menurut Banwell, banyak konten tabir surya berfokus pada pencegahan kerutan, pigmentasi, dan penuaan dini, yang semuanya merupakan manfaat yang valid, tetapi itu seharusnya bukan keseluruhan percakapan.
Sebagai seorang dokter, perhatian utama saya adalah kesehatan kulit. Kanker kulit adalah salah satu jenis kanker yang paling umum di seluruh dunia, namun tampaknya kurang banyak dibahas dalam diskusi daring dibandingkan manfaat kecantikan. Idealnya, kita harus membicarakan keduanya.
Banyak orang, terutama kalangan muda, mendapatkan informasi kesehatan yang signifikan dari media sosial. Para influencer memiliki peluang nyata untuk mendorong kebiasaan positif, tetapi hal itu juga disertai dengan tanggung jawab.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- PJJ Jakarta 18 Agustus 2026 Besok: Berlaku untuk Sekolah Negeri-Swasta, ASN Boleh WFH 50 Persen
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
5 Contoh Susunan Acara Maulid Nabi di Sekolah, Cocok untuk SD hingga SMA
-
Jika Aku Mereka: Melihat Dunia dari Sudut Pandang Penyandang Disabilitas
-
Menuju Piala Asia U-20 2027: Timnas Indonesia Ladeni Musuh Bebuyutan Malaysia
-
Di Balik El Nino 2026: Mengapa Indonesia Terancam Krisis Air dan Pangan?
-
Gempa Susulan di Flores Masih Akan Berlangsung 30 Hari ke Depan, Frekuensi Menurun
-
Terima Gratifikasi Rp20,7 Miliar, Eks Kakanwil DJP Mohamad Haniv Ditahan KPK
-
Kemarahan Publik Tak Hanya Soal Prabowo, tapi Akumulasi Masalah 10 Tahun Era Jokowi
-
Ardhito Pramono Gugat Sony Music Terkait Royalti, Akui Rugi Rp5,7 Miliar
-
Masukan LMC untuk RUU Hak Cipta: Lindungi Jurnalisme Tanpa Mematikan Distribusi Digital
-
Jose Mourinho Sewot Rodri Tolak Real Madrid Pilih Gabung ke Barcelona