Suara.com - Kesadaran masyarakat terhadap dampak lingkungan dari industri fashion terus meningkat. Semakin banyak konsumen yang memilih merek dengan klaim ramah lingkungan atau berupaya memperpanjang usia pakaian melalui berbagai cara, seperti memperbaiki pakaian, menjualnya kembali, hingga mendaur ulang pakaian yang sudah tidak digunakan.
Dilansir dari charisma.co.id (29/6/2026), survei global pada 2018 menunjukkan bahwa sebanyak 66 persen generasi milenial bersedia membeli lebih banyak produk dari merek yang menerapkan konsep keberlanjutan (sustainability). Tidak hanya milenial, Generasi Z juga memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap isu tersebut.
Berdasarkan laporan berjudul "The State of Consumer Spending: Gen Z Shoppers Demand Sustainable Retail", sebanyak 62 persen Gen Z lebih memilih membeli produk dari merek yang menjalankan praktik berkelanjutan. Bahkan, 73 persen di antaranya bersedia membayar lebih untuk produk yang dinilai ramah lingkungan.
Layanan Daur Ulang Masih Terbatas Secara Geografis
Meski minat konsumen terhadap fashion berkelanjutan terus meningkat, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa berbagai inisiatif tersebut belum tentu dapat diakses oleh semua orang karena terkendala faktor geografis.
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari University of Birmingham, University of Bristol, University of Georgia, dan Buffalo State University menganalisis 17 perusahaan pakaian olahraga yang mengklaim menerapkan prinsip ekonomi sirkular. Para peneliti mengkaji berbagai program pascapembelian, seperti layanan perbaikan pakaian, penukaran pakaian bekas, hingga daur ulang tekstil.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap perusahaan memiliki sistem pengelolaan limbah yang berbeda. Namun, sebagian besar program tersebut hanya dapat dimanfaatkan oleh konsumen yang tinggal di wilayah tertentu.
Ketua Bidang Kewirausahaan dan Geografi Ekonomi di Birmingham Business School, Profesor John Bryson, mengatakan bahwa seluruh perusahaan yang diteliti memang telah mengambil langkah positif untuk mengurangi limbah dan dampak lingkungan.
“Semua perusahaan pakaian olahraga yang kami teliti telah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan dampak lingkungan dan mengurangi limbah, dan itu patut dipuji. Namun, kami menemukan bahwa Waste Reduction Network yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan ini sangat terbatas secara geografis,” ujarnya.
Baca Juga: Diplomasi Tenun di Vatikan: Tamparan buat Fast Fashion?
Ia menambahkan bahwa meskipun banyak perusahaan menjual produknya secara internasional, jaringan pengurangan limbah (Waste Reduction Network) yang mereka miliki umumnya hanya beroperasi di tingkat lokal, regional, atau paling luas nasional.
Akibatnya, pelanggan dari negara lain harus mengirimkan pakaian bekas mereka ke lokasi yang sangat jauh. Selain membutuhkan biaya tinggi, pengiriman jarak jauh juga menghasilkan emisi karbon tambahan sehingga mengurangi manfaat lingkungan yang ingin dicapai.
Kolaborasi Jadi Solusi Memperluas Akses
Sebagai solusi, penelitian ini menyarankan agar perusahaan bekerja sama dengan platform penjualan pakaian bekas maupun komunitas lokal sehingga layanan penggunaan kembali dan daur ulang pakaian dapat diakses lebih luas.
“Salah satu cara untuk membantu menjembatani kesenjangan ini adalah dengan bekerja sama dengan perantara seperti eBay, Vinted, atau Depop yang telah menikmati popularitas besar di kalangan konsumen yang sadar lingkungan,” jelas John.
Selain itu, intervensi pemerintah dalam sistem pengelolaan limbah tekstil dinilai penting agar lebih banyak pakaian yang dapat didaur ulang daripada berakhir menjadi limbah di TPA.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris
-
Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026
-
Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI
-
Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI
-
Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere
-
Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las
-
Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026
-
5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran
-
Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo
-
Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan