Lifestyle / Female
Senin, 06 Juli 2026 | 09:10 WIB
Suasana duka di kediaman Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha. [Instagram]
Baca 10 detik
  • Dokter Icha ditemukan meninggal dunia akibat dugaan bunuh diri di Kupang pada tanggal 26 Juni 2026.
  • Keluarga melaporkan tiga anggota DPRD TTU ke Polda NTT atas dugaan intimidasi saat korban bertugas medis.
  • Polda NTT sedang melakukan investigasi mendalam terhadap kasus kekerasan verbal yang memicu trauma psikologis berat bagi korban.

Suara.com - Tragedi kematian dr. Icha masih meninggalkan duka bagi keluarga, rekan sejawat, dan komunitas medis. Dokter berusia 27 tahun ini ditemukan meninggal dunia di rumah orang tuanya di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat 26 Juni 2026 sekitar pukul 18.00 WITA.

Penyebab kematian dr. Icha diduga bunuh diri. Kini, keluarga dr. Icha melaporkan kasus yang diduga menyebabkan kematian dr. Icha ke Polda NTT.

Menurut keterangan keluarga, dr. Icha mengalami tekanan psikologis berat yang memicu depresi mendalam. Pemicu utamanya adalah dugaan intimidasi, bentakan, dan kekerasan verbal yang dialaminya saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), pada Sabtu 13 Juni 2026.

Saat itu, dr. Icha sedang menangani pasien anak korban gigitan ular yang dirujuk dari RSUD Kefamenanu.

Keluarga menceritakan bahwa tiga anggota DPRD TTU diduga datang ke IGD dalam kondisi yang tidak tepat—bahkan disebutkan berbau alkohol—dan langsung menunjukkan sikap kasar. Mereka membentak-bentak dr. Icha, mengancam, dan menekannya meski dokter tersebut sedang menjalankan prosedur medis standar.

Dr. Icha sempat menangis saat melayani pasien, namun tetap berusaha profesional. Kejadian ini meninggalkan trauma mendalam. dr. Icha berulang kali menceritakan pengalaman tersebut kepada keluarga dan rekan kerja, bahkan sempat menjalani perawatan intensif kesehatan mental.

Paman sekaligus juru bicara keluarga, Fabianus Banase, menyatakan bahwa hasil pemeriksaan kesehatan jiwa menunjukkan dr. Icha mengalami guncangan hebat.

"Dari hasil pemeriksaan kesehatan jiwa, almarhum ini mengalami guncangan hebat hingga melakukan percobaan bunuh diri," ujarnya.

Keluarga juga menemukan surat wasiat atau catatan dari dr. Icha yang mencerminkan penderitaan batinnya. Meski sempat dirawat, kondisinya tidak kunjung membaik, hingga akhirnya tragedi terjadi.

Baca Juga: Kasus dr Icha Jadi Titik Balik, Kemenkes Siapkan Perpres Perlindungan Nakes hingga Aturan Sanksi

Kasus ini segera menjadi perhatian nasional. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan organisasi profesi kesehatan lainnya mengecam keras dugaan intimidasi terhadap tenaga medis.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membuka investigasi internal, sementara polisi mulai mendalami kasus ini.

Polres TTU dan Polda NTT terlibat, termasuk penyitaan CCTV rumah sakit dan pemeriksaan saksi. Tiga anggota DPRD TTU telah diperiksa, meski belum ada penetapan tersangka hingga berita ini ditulis.

Babak Baru: Keluarga dr. Icha Lapor Polisi

Pada Jumat 3 Juli 2026, keluarga dr. Icha secara resmi melaporkan kasus ini ke Polda NTT. Mereka melaporkan tiga anggota DPRD TTU dan satu dokter hewan yang merupakan ASN Pemda TTU atas dugaan intimidasi, penyiksaan pejabat publik, serta perbuatan yang menyebabkan penderitaan fisik dan mental.

Laporan ini didampingi kuasa hukum, Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak, serta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Ayah dr. Icha, Gabriel Pakaenoni, dan ibunya Nur Azizah, beserta adik-adiknya hadir langsung di Polda. Mereka membawa bukti-bukti, termasuk keterangan saksi dan rekaman digital.

Load More