Lifestyle / Komunitas
Senin, 06 Juli 2026 | 10:10 WIB
Gunung Tambora. [Wikipedia]
Baca 10 detik
  • Gunung Tambora meletus tahun 1815 dengan skala VEI 7, menyebabkan hingga 92.000 korban jiwa serta perubahan iklim global.
  • Letusan Krakatau tahun 1883 memicu tsunami setinggi puluhan meter yang menewaskan 36.417 orang di wilayah Banten dan Lampung.
  • Gunung Merapi merupakan gunung paling aktif yang mengancam jutaan penduduk di sekitarnya karena sering mengalami erupsi awan panas.

Suara.com - Indonesia dikenal sebagai negara dengan jumlah gunung api terbanyak di dunia, karena merupakan bagian dari Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Dengan lebih dari 130 gunung berapi aktif, negeri ini sering menghadapi ancaman erupsi yang bisa menimbulkan korban jiwa dalam skala besar.

Pertanyaan tentang gunung apa yang paling mematikan di Indonesia pun sering muncul, dan jawabannya tidak selalu mudah. Apakah dilihat dari satu letusan terdahsyat atau dari total korban jiwa sepanjang sejarah dan frekuensi ancamannya?

Secara umum, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa sering disebut sebagai yang paling mematikan karena letusan tunggalnya pada 1815. Sementara Gunung Merapi di Jawa Tengah/Yogyakarta menjadi yang paling berbahaya secara berkelanjutan.

Letusan Gunung Tambora 1815: Bencana Vulkanik Terbesar dalam Sejarah Modern

 

Pada 10-11 April 1815, Gunung Tambora meletus dengan kekuatan Volcanic Explosivity Index (VEI) 7, salah satu yang terhebat yang tercatat. Letusan ini jauh lebih dahsyat daripada Krakatau 1883.

Suara ledakannya terdengar hingga ribuan kilometer jauhnya, hingga wilayah Sumatera. Abu vulkanik menutupi langit hingga ratusan kilometer, menyebabkan kegelapan siang hari di beberapa pulau.

Korban jiwa langsung dari awan panas (piroklastik), lahar, dan runtuhan gunung diperkirakan 10.000-12.000 orang di Pulau Sumbawa. Namun, dampak sekunder jauh lebih mematikan. Kelaparan massal melanda karena gagal panen akibat abu yang menutupi lahan pertanian di Sumbawa, Lombok, Bali, dan Jawa Timur.

Penyakit epidemi pun merebak. Total korban jiwa diperkirakan mencapai 71.000 hingga 92.000 orang, menjadikannya letusan vulkanik paling mematikan dalam sejarah tercatat.

Dampak globalnya luar biasa. Tahun 1816 dikenal sebagai "Tahun Tanpa Musim Panas" di belahan bumi utara. Suhu dunia turun drastis, menyebabkan kegagalan panen di Eropa dan Amerika Utara, kelaparan, dan kerusuhan sosial.

Letusan Tambora mengubah sejarah iklim dan peradaban manusia. Saat ini, Tambora yang memiliki tinggi 2.850 mdpl masih aktif meski relatif tenang, tapi potensi erupsinya tetap menjadi perhatian ilmuwan.

Baca Juga: Apakah Gunung Anak Krakatau Boleh Dikunjungi?

Letusan Gunung Krakatau 1883: Tsunami Mematikan di Selat Sunda

Ilustrasi - Letusan Gunung Krakatau tahun 1883. [Berbeel; 1887]

 

Gunung Krakatau (atau Anak Krakatau sekarang) sering disebut sebagai kandidat kuat lainnya. Letusan 26-27 Agustus 1883 (VEI 6) menghancurkan sebagian besar pulau dan memicu tsunami setinggi puluhan meter di pesisir Banten dan Lampung.

Korban jiwa resmi sekitar 36.417 orang, sebagian besar akibat gelombang tsunami yang menyapu ratusan desa. Suara ledakannya adalah yang terdengar paling keras dalam sejarah modern, hingga Australia dan Samudra Hindia.

Efeknya terasa di seluruh dunia: matahari terbenam berwarna merah dramatis selama berbulan-bulan. Krakatau menjadi simbol betapa letusan vulkanik bisa berdampak global.

Gunung Merapi: Si "Gunung Api Dekade" yang Selalu Mengancam

Gunung Merapi (Twitter)

 

Jika dilihat dari frekuensi dan total korban sepanjang sejarah, Gunung Merapi (2.930 mdpl) adalah yang paling mematikan.

Merapi adalah salah satu gunung api paling aktif di dunia, dengan lebih dari 100 kali erupsi sejak abad ke-15.

Ia dinobatkan sebagai salah satu Decade Volcano oleh International Association of Volcanology karena kedekatannya dengan jutaan penduduk.

Load More