- Gunung Kawi di perbatasan Malang dan Blitar dikenal masyarakat sebagai lokasi wisata alam sekaligus pusat praktik ritual pesugihan.
- Kepercayaan tersebut muncul karena adanya legenda sejarah, aura mistis gunung, serta viralnya daftar harga paket selamatan mewah.
- Tokoh agama mengecam praktik pesugihan karena dianggap syirik, namun kegiatan ziarah tetap berdampak pada ekonomi masyarakat sekitar.
Pada akhirnya, Gunung Kawi dijadikan tempat pesugihan karena kombinasi legenda sejarah, suasana mistis alam, serta cerita sukses (atau kegagalan) yang beredar di masyarakat.
Bagi sebagian orang, Gunung Kawi ini ladang harapan untuk mengubah nasib. Bagi yang rasional, ini hanyalah mitos yang dimanfaatkan oleh ketidaktahuan dan keputusasaan.
Sebagai pendaki atau wisatawan, lebih bijak untuk menghargai Gunung Kawi sebagai keajaiban alam dan warisan budaya. Nikmati keindahan puncaknya, hormati kesakralannya, dan jauhi praktik yang dapat membahayakan diri sendiri. Kekayaan sejati datang dari kerja keras, doa, dan usaha halal — bukan dari perjanjian gelap di puncak gunung.
Gunung Kawi tetap menjadi magnet bagi ribuan orang setiap tahun, baik sebagai tempat mencari ketenangan. Pada akhirnya, pilihan ada di tangan masing-masing: gunakan Gunung Kawi untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, atau biarkan mitos menguasai.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
Terkini
-
Adriana Elisabet: Separatisme Papua Berawal dari Keluhan yang Tak Direspons Pemerintah
-
Kisah Ustazah Mona: Ibu Bhayangkari Sekaligus Guru PAI yang Siap Harumkan Nama di MTQ Nasional
-
Keluar Modal Gede, DSI Tak Mungkin Jadi Perusahaan Rugi
-
Tundukkan Garudayaksa 3-2, Batam Prime FC Asuhan Okto Maniani Juara BIFS 2026
-
Investor Butuh Kepastian, 3 Hal Ini Diminta agar Eksplorasi Migas Makin Agresif
-
Sistemik dan Akut, Dosen UGM Bongkar Borok Penanganan Kekerasan Gender yang Hanya Jalan Jika Viral
-
Bukan Water Bombing, Prabowo Dorong 'Ubi Bombing' dari Singkong Atasi Karhutla
-
Hanura Desak Prabowo Sanksi Keras Korporasi Nakal Sebabkan Karhutla
-
DSI Bukan Regulator, Ekspor 3 Komoditas Dijamin Tak Akan Ribet
-
Antara Pompa Air yang Haus dan Pangkalan Gas yang Bisu di Tengah Kemarau