Lifestyle / Food & Travel
Kamis, 16 Juli 2026 | 14:54 WIB
Unsplash/ Naja Bertolt Jensen

Suara.com - Polusi plastik tidak pernah usai menjadi permasalahan krisis lingkungan. Setiap tahunnya, sekitar 11 juta ton sampah plastik masuk dan mencemari lautan. Jutaan puing plastik terurai menjadi mikroplastik. Setelah ukurannya lebih kecil, partikel itu terbawa arus dan menyebar ke seluruh ekosistem laut.

Selama ini, penelitian tentang mikroplastik lebih banyak berfokus pada wilayah pesisir dan permukaan laut. Padahal, sedikit yang mengetahui bagaimana pencemaran tersebut telah mencapai lautan dalam.

Untuk menjawab hal itu, tim peneliti dari Korea Research Institute of Bioscience and Biotechnology (KRIBB) dan Korea Institute of Ocean Science and Technology (KIOST) meneliti siput dan kerang laut dalam yang hidup di sekitar lubang hidrotermal lebih dari 2.000 meter di bawah permukaan laut.

Spesimen dikumpulkan dari Cekungan Fiji Utara di Samudra Pasifik barat daya dan Punggungan India Tengah di Samudra Hindia untuk membandingkan paparan mikroplastik pada dua ekosistem laut dalam yang berbeda.

Melalui analisis tersebut, para peneliti mengidentifikasi keberadaan mikroplastik sekaligus menilai dampaknya terhadap ekologi hewan-hewan laut dalam.

Mikroplastik telah hinggap di area lubang hidrotermal

Penelitian tersebut menemukan 92 persen hewan yang diteliti telah terkontaminasi mikroplastik, dengan rata-rata 3,42 partikel pada setiap individu. Jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah polistirena, plastik yang umum digunakan pada kemasan dan berbagai produk konsumen.

Temuan ini menunjukkan bahwa pencemaran mikroplastik telah menjangkau ekosistem laut dalam. Peneliti juga menemukan bahwa cara hewan memperoleh makanan memengaruhi banyaknya mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh mereka.

Siput perumput (grazing snails), misalnya, memakan mikroba yang menutupi dasar laut. Ketika mikroba tersebut telah terkontaminasi, mikroplastik ikut masuk ke sistem pencernaan siput.

Baca Juga: Plastik Murah China Kepung RI, Industri Petrokimia Terancam Tumbang

Sementara itu, kerang sebagai hewan penyaring (filter feeder) lebih rentan terpapar mikroplastik karena menyaring air laut untuk mendapatkan makanan. Ukuran mikroplastik yang menyerupai partikel makanan membuatnya mudah tertelan dan terakumulasi di dalam tubuh kerang.

Perbedaan wilayah Samudra

Penelitian ini dilakukan di dua wilayah samudra yang berbeda. Hasil penelitiannya pun menunjukkan perbedaan yang signifikan.

Pada Samudra Hindia, hewan-hewan yang terkontaminasi mikroplastik jauh lebih parah dibandingkan hewan-hewan yang berada di Samudra Pasifik barat daya.

Setelah ditelurusi lebih lanjut berdasarkan skala berat badan dan spesimen, dibandingkan Samudra Pasifik barat daya,  kandungan mikroplastik Samudra Hindia 14,7 kali lebih tinggi.

Para peneliti berspekulasi bahwa perbedaan aktivitas manusia di sekitar kawasan tersebut besar kemungkinannya untuk turut andil dalam menyumbang mikroplastik.

Load More