Lifestyle / Female
Kamis, 16 Juli 2026 | 20:52 WIB
Ilustrasi Melasma di Wajah (Gemini AI)
Baca 10 detik
  • PT Unison Medika Jaya mengedukasi masyarakat mengenai melasma, gangguan hiperpigmentasi kulit yang sering disalahartikan sebagai flek biasa.
  • Melasma dipicu oleh paparan sinar matahari, hormon, genetik, serta cahaya tampak, terutama pada perempuan di wilayah tropis.
  • Dokter menyarankan diagnosis profesional dan terapi redermalisasi serta penggunaan tabir surya untuk mengendalikan kondisi kulit secara efektif.

Suara.com - Bercak kecokelatan di wajah kerap dianggap sebagai flek biasa. Tak sedikit orang langsung membeli krim pencerah atau mencoba berbagai produk perawatan tanpa mengetahui penyebabnya. 

Padahal, noda gelap di wajah belum tentu merupakan flek akibat penuaan atau bekas jerawat. Bisa jadi, kondisi tersebut adalah melasma, gangguan hiperpigmentasi yang membutuhkan penanganan berbeda.

Kesalahan mengenali kondisi kulit ini masih cukup sering terjadi. Akibatnya, banyak penderita baru menyadari dirinya mengalami melasma setelah bercak di wajah semakin sulit memudar meski telah mencoba berbagai produk perawatan.

Dalam rangka memperingati Melasma Awareness Month, PT Unison Medika Jaya menggelar edukasi bersama dokter spesialis kulit, dokter estetika, dan penyintas melasma. 

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai faktor risiko, pentingnya diagnosis yang tepat, serta perkembangan terapi melasma yang kini semakin komprehensif.

Melasma merupakan salah satu gangguan hiperpigmentasi yang paling sering dijumpai dan dikenal cukup sulit ditangani. Kondisi ini ditandai dengan munculnya bercak berwarna cokelat muda hingga gelap pada area wajah yang sering terpapar cahaya, seperti pipi, dahi, hidung, dan atas bibir. 

Berbagai penelitian menunjukkan lebih dari 90 persen penderitanya adalah perempuan, terutama pada usia reproduktif. Indonesia pun termasuk negara dengan risiko melasma yang relatif tinggi. 

Selain karena berada di wilayah tropis dengan paparan sinar ultraviolet (UV) sepanjang tahun, mayoritas masyarakat Indonesia memiliki fototipe kulit Fitzpatrick IV hingga V yang secara alami lebih rentan mengalami hiperpigmentasi.

Menariknya, penyebab melasma ternyata tidak hanya sinar matahari. Paparan visible light atau cahaya tampak, perubahan hormon, faktor genetik, hingga proses inflamasi pada kulit juga berperan dalam memicu munculnya kondisi ini. 

Baca Juga: Biaya Perawatan Gigi di Indonesia Termasuk Tertinggi di Asia Tenggara, Ternyata Ini Penyebabnya

Fakta mengenai visible light masih belum banyak diketahui masyarakat, padahal paparan cahaya tersebut juga hadir dalam aktivitas sehari-hari.

Pengalaman tersebut pernah dirasakan Margaret Vivi. Ia mengaku sempat mengira noda di wajahnya hanyalah flek biasa. Namun, seiring waktu bercak tersebut tidak kunjung memudar dan mulai mengganggu rasa percaya dirinya.

"Awalnya saya mengira ini hanya flek biasa. Lama-kelamaan saya jadi kurang percaya diri karena nodanya tidak kunjung memudar. Setelah berkonsultasi dengan dokter, saya baru memahami bahwa melasma memang membutuhkan penanganan yang tepat dan konsisten," ujarnya.

Menurut dr. Stanley Setiawan, dokter spesialis kulit, memastikan diagnosis menjadi langkah paling penting sebelum memulai terapi. Sebab, setiap jenis hiperpigmentasi memiliki penyebab dan penanganan yang berbeda.

Menurutnya, tidak semua noda gelap di wajah adalah melasma. Karena penyebabnya bisa berbeda, pemeriksaan oleh dokter penting agar pasien mendapatkan terapi yang sesuai. Di sisi lain, pengobatan mandiri tanpa pemahaman yang benar berisiko merusak skin barrier dan memperburuk kondisi kulit.

"Salah satu terapi depigmentasi yang saya terapkan dalam praktik sehari-hari adalah redermalisasi menggunakan Skin Booster yang mengandung Hyaluronic Acid dan Succinic Acid," jelasnya.

Load More