News / Nasional
Kamis, 16 Juli 2026 | 20:24 WIB
Ilustrasi - Warga melihat iklan judi online melalui gawainya di Jakarta, Rabu (19/6/2024). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar).
Baca 10 detik
  • Kementerian Komunikasi dan Digital mengungkap modus ternak rekening oleh jaringan judi online yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat.
  • Iradat Wirid dari CfDS UGM menduga adanya keterlibatan perbankan dalam mempermudah proses pembuatan rekening secara terorganisasi di daerah.
  • Pemerintah perlu melakukan pemetaan lokasi pembukaan rekening secara masif melalui kolaborasi antarlembaga untuk mendeteksi jaringan judi online.

Suara.com - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) baru-baru ini mengungkap modus pelaku judi online (judol) untuk mendapatkan rekening penampung transaksi. Modus ini marak melibatkan kelompok masyarakat, mulai dari petani hingga ibu rumah tangga (IRT).

Praktik "ternak rekening" yang dimanfaatkan jaringan judol ini dinilai tidak lagi sekadar memanfaatkan masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi berpotensi dilakukan secara terorganisasi.

"Yang perlu dicek sebenarnya oleh PPATK dan juga Komdigi ini sebenarnya apakah jangan-jangan ada kerja sama juga dengan banknya untuk mempermudah pembuatan rekening-rekening ini," kata Deputi Sekretaris Center for Digital Society (CfDS) UGM, Iradat Wirid, kepada Suara.com, Kamis (16/7/2026).

Iradat menegaskan dugaan tersebut bukan semata-mata tuduhan kepada perbankan. Namun, melihat pola perekrutan yang menyasar masyarakat di berbagai daerah, hal itu memang patut ditelusuri lebih jauh.

Apalagi, membuka rekening di bank tetap membutuhkan waktu, biaya, dan proses administrasi.

"Bisa jadi ini terkoordinir juga, itu yang perlu menurut saya perlu dicek. Dan tentu saja mungkin ya, ini bukan tuduhan tapi ini perlu diteliti lebih lanjut," tandasnya.

Peneliti Digital Intelligence CfDS Fisipol UGM, Iradat Wirid. [Suara.com/Rahmad Ali]

Menurutnya, pemerintah perlu melacak proses pembukaan rekening sejak awal untuk mengetahui apakah terdapat pola yang sama di wilayah tertentu. Dengan memetakan lokasi pembukaan rekening secara masif, aparat dapat lebih mudah mengidentifikasi daerah yang menjadi sasaran jaringan pelaku.

"Sebenarnya pemerintah pusat itu harus mapping dulu sebenarnya ini di mana. Menurut saya mapping itu penting," tegasnya.

Disampaikan Iradat, penelusuran rekening baru seharusnya bukan pekerjaan yang sulit. Sebab, seluruh proses pembukaan rekening memiliki jejak administrasi.

Baca Juga: Ekspor Kopi RI Mau Digenjot 2,5 Kali Lipat, Target Rp100 Triliun!

Melalui data tersebut, pemerintah dapat mengetahui apabila terdapat lonjakan pembukaan rekening dengan pola serupa di suatu daerah.

"Kalau misalnya ketahuan di mana pembukaan rekening kan sangat mudah mendeteksi, 'oh tiba-tiba di daerah provinsi X masif, ya itu berarti yang harus diintervensi," ujarnya.

Lebih dari itu, penelusuran aliran dana tidak bisa dibebankan kepada satu lembaga saja. Diperlukan kolaborasi antara perbankan, PPATK, Komdigi, serta kepolisian agar rekening-rekening yang digunakan sebagai penampung transaksi judol dapat segera dideteksi sebelum semakin banyak memakan korban.

Load More