Suara.com - Isu ketahanan pangan sering kali dibebankan kepada petani. Padahal, menurut Komunitas Tani Kota Sejati-58 Kebagusan, Jakarta Selatan, keberlanjutan pangan juga bergantung pada sejauh mana generasi muda memaknai proses di balik setiap makanan yang mereka konsumsi.
Dari pemikiran tersebut, komunitas ini tak sekadar mengembangkan urban farming, tetapi juga membuka peluang untuk para pelajar, mahasiswa, relawan, hingga pekerja kantoran untuk belajar langsung bagaimana menanam, merawat, dan memanen tanaman.
Bagi mereka, pengalaman adalah cara paling ampuh untuk menumbuhkan kepedulian terhadap pangan dan lingkungan.
“Yang kita ajak sebenernya adalah mendapat pengetahuan dengan experience. Anak-anak sekarang kan yang penting experience, bagaimana mengenal lingkungan, mengenal tanaman, dan bagaimana merawatnya,” kata pengelola Tani Kota Sejati-58 Kebagusan, Andhi pada Kamis (23/7).
Selama mengikuti kegiatan berkebun tersebut, para peserta tidak hanya diajak untuk melihat kebun yang tinggal panen. Mereka justru diajak untuk belajar dari awal cara bertani. Mulai dari membersihkan sampah, mengangkat batu dan puing yang masih tertimbun di tanah, sekaligus merawat tanaman setiap hari.
Pengalaman-pengalaman itu bisa dijadikan sebagai pelajaran bahwa memproduksi bahan pangan membutuhkan waktu, tenaga, serta kesabaran.
Menurut Andhi, dengan merasakan langsung proses berkebun ini bagi anak muda menjadi sangat penting. Kebanyakan generasi masa kini hanya melihat hasil akhir tanpa mengetahui prosesnya. Akibatnya, kesadaran untuk menghargai pangan semakin terkikis.
"Harusnya ilmu ini ditransfer ke generasi muda. Kalau cuma di generasi tua, nanti terputus dong?" ujarnya.
Melalui aktivitas berkebun, mereka diharapkan sadar bahwa setiap sayur ataupun buah yang sampai ke meja makan merupakan hasil kerja panjang yang tidak selalu berakhir dengan keberhasilan.
Baca Juga: Dukungan Pendidikan Jadi Langkah untuk Mempersiapkan Generasi Muda Berintegritas
“Jangan kira nanam begini gampang. Petani enggak mungkin selalu berhasil. Ada hama, ada tikus, ada binatang,” katanya.
Berdasarkan pengalaman tersebut turut memperlihatkan berbagai tantangan dalam membangun ketahanan pangan. Tanah yang mereka kelola merupakan bekas lahan pembuangan sampah dan puing bangunan. Hingga kini, mereka masih menemukan plastik ataupun puing bangunan yang tertimbun di dalam tanah. Belum lagi karakter tanah yang sulit menyimpan air sehingga tanaman harus disiram secara berkala agar tetap hidup.
Meskipun demikian, komunitas ini memilih untuk menjadikan tantangan tersebut sebagai bahan pembelajaran. Mereka ingin memperlihatkan bahwa ketahanan pangan bukan persoalan untuk meningkatkan hasil panen, melainkan untuk membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan yang menjadi tempat tumbuhnya sumber pangan.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, komunitas ini berharap semakin banyak anak muda yang tidak hanya menjadi penikmat tren kuliner, tetapi juga memahami asal-usul pangan yang mereka konsumsi. Kesadaran itu menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan pangan di masa depan. Dengan dimulai dari hal sederhana, seperti mengenal tanaman, menghargai proses bertani, hingga memanfaatkan lahan sempit di sekitar rumah.
Andhi menilai, ketahanan pangan bukan sekadar tentang memastikan makanan selalu tersedia, tetapi juga menyiapkan generasi yang punya kepedulian terhadap lingkungannya sebagai sumber pangan.
Menurutnya, semakin banyak anak muda mau turun langsung ke kebun, akan tumbuh pula rasa menghargai setiap makanan yang mereka konsumsi.
“Kita ingin mereka lebih peduliin makanan lokal. Kebanyakan kan anak jaman sekarang makannya yang ada unsur-unsur seperti singkong Thailand, sama yang Korea Korea itu,” kata Andhi.
Dari pengalaman sederhana seperti memetik, mengolah, dan menyantap hasil kebun melalui TikTap (Petik Santap), mereka berharap lahir kebiasaan baru, yakni lebih menghargai makanan, lebih peduli terhadap lingkungan, dan lebih siap dalam menjaga ketahanan pangan di masa depan.
Penulis: Chairunisa
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
Terkini
-
PDIP Tegaskan Kritik Anak Muda Harus Dirawat Bukan Dibungkam
-
Mahasiswa Universitas Islam Gaza di Tengah Gempuran Israel: Kami Kuliah di Rumah Sakit
-
Ketahanan Pangan Tak Cukup Mengandalkan Petani, Mengapa Generasi Muda Perlu Turun ke Kebun
-
Kulit Sawo Matang Wajib Tahu! Ini 6 Warna dan Merk Blush On yang Bikin Wajah Merona Sempurna
-
Dukung Ekonomi Daerah, BRI Siapkan Kemudahan Akses FInansial Digital di Samarinda
-
6 Rekomendasi Lip Balm SPF 30 di Shopee, Ampuh Perbaiki Bibir Kering dan Pecah-Pecah
-
Daftar Tanggal Merah dan Libur Nasional Agustus 2026 Menurut SKB 3 Menteri, Catat Jadwalnya
-
IHSG Terkoreksi Tipis di Sesi I, EXCL Melonjak 4 Persen
-
10 Ide Hadiah Ulang Tahun untuk Pasangan Berzodiak Leo, Dijamin Bahagia dan Makin Sayang
-
Komisi I DPR RI Dorong Percepatan Pembahasan RUU KKS: Antisipasi Hadapi Ancaman Siber Masa Depan