News / Metropolitan
Selasa, 07 April 2026 | 16:32 WIB
Ilustrasi kedelai. [Ist]
Baca 10 detik
  • Harga kedelai di pasar tradisional DKI Jakarta melonjak hingga Rp20.000 per kilogram sejak Februari 2026 lalu.
  • Penyebab utama kenaikan harga adalah dinamika di Amerika Serikat serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.
  • Pemerintah mendorong warga melakukan urban farming dan diversifikasi pangan untuk mengatasi ketergantungan pada komoditas kedelai impor.

Suara.com - Kenaikan harga kedelai di wilayah DKI Jakarta kian meresahkan karena mulai menyentuh angka Rp20.000 per kilogram di tingkat pedagang pasar tradisional.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, membenarkan adanya fluktuasi harga komoditas yang menjadi bahan baku utama tahu dan tempe tersebut.

Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, tren kenaikan harga ini terpantau sudah mencuat sejak momentum Ramadan pada Februari 2026 lalu.

"Harga kedelai mengalami kenaikan bervariasi, mulai Rp10.500–Rp11.000 per kilogram pada tingkat pengrajin tahu dan tempe, dari sebelumnya Rp8.000–Rp8.600 per kilogram. Harga pada tingkat pedagang pasar tradisional Rp15.000–Rp20.000 per kilogram, dari harga sebelumnya berkisar Rp13.000–Rp18.000 per kilogram," ujar Hasudungan dalam keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026).

Lebih lanjut, Hasudungan menjelaskan bahwa lonjakan harga ini dipicu dinamika global yang terjadi di Amerika Serikat selaku negara eksportir utama.

Selain itu, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar turut menjadi faktor krusial yang memperparah kondisi pasar saat ini.

"Kenaikan harga dikarenakan adanya dinamika global terkait gejolak di negara eksportir kedelai terbesar, Amerika Serikat, serta nilai tukar rupiah yang menurun," ungkapnya.

Ketergantungan Jakarta terhadap kedelai luar negeri memang sangat tinggi mengingat mayoritas pasokan didapat melalui impor.

"Komoditas kedelai di DKI Jakarta hampir seluruhnya merupakan produk impor dan sebagian kecil merupakan pasokan dari daerah produsen seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat," tambah Hasudungan.

Baca Juga: Aturan WFH ASN Jakarta: Kamera Wajib Nyala, Dilarang Keluar Rumah

Pemerintah kini mengimbau masyarakat untuk mulai melirik alternatif pangan lain guna meminimalkan dampak ekonomi dari kenaikan harga yang terus berfluktuasi.

"Yang memiliki nilai gizi yang seimbang, namun dengan harga yang lebih terjangkau," jelas Hasudungan.

Selain diversifikasi pangan, warga ibu kota juga didorong untuk meningkatkan ketahanan pangan secara mandiri melalui pemanfaatan lahan sempit di hunian masing-masing.

"Warga DKI Jakarta dapat juga melakukan kegiatan urban farming untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga secara mandiri di rumah masing-masing," pungkas Hasudungan.

Load More