Lifestyle / Komunitas
Rabu, 19 Agustus 2026 | 13:44 WIB
Ilustrasi lampu taman (dok.Pexels)

Suara.com - Banyak dari kita memasang lampu di luar ruangan pada malam hari untuk menerangi jalan, meminimalisir risiko kejahatan, maupun memperindah tata kota. Namun, tidak disangka pemakaian cahaya buatan di malam hari atau artificial light at night (ALAN) dapat mengganggu keberlangsungan ekosistem.

Melansir laman resmi Phys, Kamis (13/8), paparan ALAN bisa mengubah siklus alami berbagai organisme. Pada tanaman, cahaya buatan ini dapat memengaruhi waktu terjadinya proses pertumbuhan. Tanaman jadi lebih awal membuka kuncup dan menumbuhkan daun dari waktu seharusnya. Sebaliknya, perubahan warna daun pada musim gugur mengalami keterlambatan karena paparan cahaya buatan.

Perubahan-perubahan yang terjadi itu kemudian memengaruhi hubungan antara tanaman dan organisme lain yang bergantung padanya. Sebagai contoh, hewan pemakan tumbuhan dapat mengalami ketidaksesuaian waktu dengan ketersediaannya sumber makanan imbas dari perubahan siklus pertumbuhan tanaman.

Dampak yang dipicu oleh cahaya buatan itulah yang disorot dalam penelitian yang terbit di jurnal PNAS Nexus. Lin Meng bersama teman-temannya mengambil data dari Sustainability Development Goals Science Satellite 1 (SDGSAT-1), satelit yang telah mengorbit sejak 2021 ini untuk mengakumulasi penggunaan ALAN antara 2022 hingga 2024.

Para peneliti mengumpulkan data dari sejumlah wilayah perkotaan di Amerika Serikat, meliputi New York dan Newark, New Jersey, serta Washington DC dan Philadelphia. Kemudian membandingkan kondisi pencahayaan malam hari dan perubahan siklus pertumbuhan wilayah yang telah mengimplementasikan kebijakan mitigasi ALAN dengan wilayah yang belum menerapkannya.

Hasil penelitian tersebut menguak temuan bahwa terjadi penurunan ALAN di New York dan Washington DC setelah kebijakan tersebut diterapkan. Dengan begitu, kebijakan mitigas ALAN dinilai efektif dalam menekan penggunaan cahaya di malam hari.

Perbedaan juga terlihat pada siklus pertumbuhan tanaman juga menunjukkan hasil yang berbeda antar kota. Biasanya ALAN dapat mempercepat awal musim tanam dan menunda akhir musim. Namun, di kota-kota dengan kebijakan mitigasi, awal musim lebih lambat beberapa hari dari biasanya.

Beberapa kota juga telah mencoba untuk menekan penggunaan ALAN. Secara keseluruhan, kota-kota tersebut menerapkan metode seperti pelindung lampu, peredupan adaptif, meminimalisir keluaran cahaya, dan pemilihan suhu warna yang lebih hangat. Namun, belum diketahui cara-cara tersebut bisa efektif terhadap dampak ekologis di masa mendatang.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pengurangan polusi cahaya tidak sekadar berkaitan dengan kadar pencahayaan di kawasan perkotaan, melainkan juga berpotensi pada perubahan proses ekologis. Penggunaan citra satelit beresolusi tinggi diyakini dapat memudahkan dalam mengidentifikasi perbedaan tingkat ALAN secara lebih detail.

Baca Juga: Ekonomi Digital Makin Kuat, UMKM Lokal Naik Kelas dan Perluas Pasar

Demikian pemanfaatan teknologi penginderaan ternyata jauh lebih efektif dalam mendukung penelitian mengenai dampak polusi cahaya terhadap ekosistem perkotaan sekaligus membantu memperbaiki kebijakan mitigasi yang diaplikasikan pada beberapa kota.

Penulis: Chairunisa

Load More