Suara.com - Banyak dari kita memasang lampu di luar ruangan pada malam hari untuk menerangi jalan, meminimalisir risiko kejahatan, maupun memperindah tata kota. Namun, tidak disangka pemakaian cahaya buatan di malam hari atau artificial light at night (ALAN) dapat mengganggu keberlangsungan ekosistem.
Melansir laman resmi Phys, Kamis (13/8), paparan ALAN bisa mengubah siklus alami berbagai organisme. Pada tanaman, cahaya buatan ini dapat memengaruhi waktu terjadinya proses pertumbuhan. Tanaman jadi lebih awal membuka kuncup dan menumbuhkan daun dari waktu seharusnya. Sebaliknya, perubahan warna daun pada musim gugur mengalami keterlambatan karena paparan cahaya buatan.
Perubahan-perubahan yang terjadi itu kemudian memengaruhi hubungan antara tanaman dan organisme lain yang bergantung padanya. Sebagai contoh, hewan pemakan tumbuhan dapat mengalami ketidaksesuaian waktu dengan ketersediaannya sumber makanan imbas dari perubahan siklus pertumbuhan tanaman.
Dampak yang dipicu oleh cahaya buatan itulah yang disorot dalam penelitian yang terbit di jurnal PNAS Nexus. Lin Meng bersama teman-temannya mengambil data dari Sustainability Development Goals Science Satellite 1 (SDGSAT-1), satelit yang telah mengorbit sejak 2021 ini untuk mengakumulasi penggunaan ALAN antara 2022 hingga 2024.
Para peneliti mengumpulkan data dari sejumlah wilayah perkotaan di Amerika Serikat, meliputi New York dan Newark, New Jersey, serta Washington DC dan Philadelphia. Kemudian membandingkan kondisi pencahayaan malam hari dan perubahan siklus pertumbuhan wilayah yang telah mengimplementasikan kebijakan mitigasi ALAN dengan wilayah yang belum menerapkannya.
Hasil penelitian tersebut menguak temuan bahwa terjadi penurunan ALAN di New York dan Washington DC setelah kebijakan tersebut diterapkan. Dengan begitu, kebijakan mitigas ALAN dinilai efektif dalam menekan penggunaan cahaya di malam hari.
Perbedaan juga terlihat pada siklus pertumbuhan tanaman juga menunjukkan hasil yang berbeda antar kota. Biasanya ALAN dapat mempercepat awal musim tanam dan menunda akhir musim. Namun, di kota-kota dengan kebijakan mitigasi, awal musim lebih lambat beberapa hari dari biasanya.
Beberapa kota juga telah mencoba untuk menekan penggunaan ALAN. Secara keseluruhan, kota-kota tersebut menerapkan metode seperti pelindung lampu, peredupan adaptif, meminimalisir keluaran cahaya, dan pemilihan suhu warna yang lebih hangat. Namun, belum diketahui cara-cara tersebut bisa efektif terhadap dampak ekologis di masa mendatang.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pengurangan polusi cahaya tidak sekadar berkaitan dengan kadar pencahayaan di kawasan perkotaan, melainkan juga berpotensi pada perubahan proses ekologis. Penggunaan citra satelit beresolusi tinggi diyakini dapat memudahkan dalam mengidentifikasi perbedaan tingkat ALAN secara lebih detail.
Baca Juga: Ekonomi Digital Makin Kuat, UMKM Lokal Naik Kelas dan Perluas Pasar
Demikian pemanfaatan teknologi penginderaan ternyata jauh lebih efektif dalam mendukung penelitian mengenai dampak polusi cahaya terhadap ekosistem perkotaan sekaligus membantu memperbaiki kebijakan mitigasi yang diaplikasikan pada beberapa kota.
Penulis: Chairunisa
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Roberto Carlos Dikabarkan Masuk Islam, Ini 5 Pemain Brasil yang Putuskan Mualaf
-
Ulasan Drama Brewing Love: Perpaduan Manis Dunia Bir dan Romansa Slow-Burn
-
Cuma Rp2 Jutaan! 8 HP 5G + NFC yang Wajib Kamu Lirik, Speknya Gahar Semua
-
Mengapa Semakin Banyak Pencahayaan Justru Ganggu Ekosistem?
-
Jangan Lewatkan Nonton Cherrypop 2026 di Prambanan, Makin Seru Pakai Promo Buy 1 Get 1 dari BRImo
-
Dibuang ke Tempat Sampah, Naskah Autentik Proklamasi Bung Karno Baru Kembali Setelah 46 Tahun
-
Tim Dokter UGM Berangkat ke NTT, Fokus Petakan Kebutuhan Medis Korban Gempa
-
Gandeng Erwin Gutawa, Tiket Konser King Nassar Dijual Mulai Rp350 Ribu
-
Rizky Ridho Tak Masuk Skuad Timnas di ASEAN Cup 2026, Ini Bocoran Pemainnya
-
5 Tips Feng Shui Rice Cooker yang Dipercaya Bikin Rezeki di Rumah Makin Lancar