- Sarinah dan Buttonscarves meluncurkan Songket Collection pada 13 Agustus 2026 untuk merayakan HUT ke-81 RI.
- Koleksi busana modern ini menggunakan motif Nona Manis dan Pegunungan yang terinspirasi dari kain tradisional songket.
- Peluncuran lanjutan diadakan melalui gelaran Festiloka serta private trunk show pada 16 Agustus 2026.
Suara.com - Semangat kemerdekaan Indonesia tidak selalu harus dirayakan melalui upacara, kibaran bendera, atau perhelatan seremonial. Di tengah perkembangan zaman, semangat tersebut juga dapat diwujudkan dengan cara menjaga kekayaan budaya agar tetap hidup, dikenal, dan digunakan oleh generasi berikutnya.
Salah satu kekayaan budaya yang terus menemukan ruang dalam perkembangan fashion modern adalah songket. Kain tradisional yang kaya akan motif, detail, serta filosofi tersebut kini hadir dalam interpretasi yang lebih dekat dengan gaya hidup masa kini melalui Songket Collection, hasil kolaborasi Sarinah dan Buttonscarves.
Koleksi ini diperkenalkan dalam momentum yang istimewa, yakni bertepatan dengan perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia sekaligus 64 tahun perjalanan Sarinah. Songket Collection resmi diluncurkan pada 13 Agustus 2026 dan kemudian dihadirkan dalam gelaran Festiloka by BRImo pada 16 Agustus 2026.
Lebih dari sekadar koleksi fashion, kolaborasi tersebut menjadi cara untuk menerjemahkan kekayaan wastra Indonesia ke dalam bentuk yang lebih relevan dengan kebutuhan perempuan masa kini.
Keindahan songket dengan karakter detailnya yang khas diolah menjadi rangkaian scarf dan apparel yang dapat dikenakan dalam berbagai gaya dan kesempatan.
Ada dua motif utama yang menjadi identitas Songket Collection, yaitu Nona Manis dan Pegunungan. Keduanya tidak hanya menawarkan permainan visual, tetapi juga membawa makna yang merepresentasikan nilai-nilai yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
Motif Nona Manis menghadirkan susunan geometris yang ritmis. Pola tersebut menggambarkan kehangatan dan kebersamaan, sehingga memberikan kesan dinamis sekaligus elegan ketika diterapkan ke dalam produk fashion.
Sementara itu, motif Pegunungan mengambil inspirasi dari karakter pegunungan yang merepresentasikan ketangguhan, perlindungan, dan harapan.
Makna tersebut terasa semakin relevan ketika koleksi ini diperkenalkan dalam suasana perayaan kemerdekaan, ketika Indonesia kembali mengenang perjalanan panjang untuk menjadi bangsa yang berdiri teguh dan terus berkembang.
Baca Juga: Indonesia Tak Baik-baik Saja, Guru Besar UGM Soroti Ketimpangan dan Dominasi Oligarki
Kedua motif tersebut kemudian dipadukan dengan monogram “B” khas Buttonscarves. Sentuhan ini menciptakan dialog antara warisan budaya dan identitas modern sebuah brand. Songket tidak ditempatkan semata sebagai simbol masa lalu, tetapi diolah menjadi elemen fashion yang dapat hadir dalam keseharian.
Direktur Utama PT Sarinah (Persero), Raisha Syarfuan, mengatakan kolaborasi ini menjadi wujud bagaimana warisan wastra Indonesia dapat terus hidup sekaligus berkembang mengikuti zaman.
“Kolaborasi Buttonscarves dan Sarinah melalui Songket Collection menjadi wujud bagaimana warisan wastra Indonesia dapat terus hidup dan berkembang mengikuti zaman,” ujar Raisha.
Menurutnya, menjaga warisan budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan apa yang sudah ada. Diperlukan ruang agar karya dan nilai yang terkandung di dalamnya dapat terus dikenal, digunakan, serta diapresiasi oleh generasi hari ini.
Karena itu, Songket Collection diharapkan mampu membuat songket terasa semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Ketika motif tradisional hadir dalam scarf maupun apparel dengan pendekatan desain yang lebih modern, wastra pun memiliki kesempatan lebih besar untuk menjadi bagian dari gaya berpakaian sehari-hari.
Semangat serupa disampaikan Creative Director Buttonscarves, Mifthahul Jannah. Menurutnya, momentum ulang tahun kemerdekaan Indonesia dan perjalanan 64 tahun Sarinah menjadi waktu yang bermakna untuk memperkenalkan koleksi tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Semangat Kemerdekaan dalam Balutan Songket, Sarinah dan Buttonscarves Hadirkan Koleksi Bermakna
-
BRI Siap Perkuat Ekosistem Bank Emas Indonesia Bersama Pegadaian
-
Tampang Sangar Harga Murah, Motor TVS Raider Edisi Dokter Doom Resmi Mengaspal
-
Iran Sindir Utang AS Bengkak saat Donald Trump Ancam Sanksi Ekonomi ke Teheran: Pengalihan Isu!
-
Kelolaan Emas BRI Group Capai 153 Ton, Perkuat Ekosistem Nasional dan Selaras Pidato Presiden RI
-
5 Perbedaan Rice Cooker dan Magic Com, Mana yang Paling Worth It Dibeli?
-
BRI dan Holding UMi Dorong Emas Jadi Instrumen Penguatan Ekonomi
-
Pemerintah Klaim Proyek Motor Listrik Nasional Bisa Hemat Subsidi BBM Rp 82,2 Triliun
-
Sosok Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed Lulusan Jerman yang Terjaring OTT KPK
-
BRI Perkuat Ekosistem Emas untuk Optimalkan Kekayaan Nasional